Super sensitif
adalah perasaan yang paling tidak mengenakan bagi diri sendiri maupun orang
lain. Biasanya hal ini dialami oleh manusia bernama wanita terutama pada masa
pra menstruasi atau biasa kita sebut dengan PMS (Pra Menstruasi Syndrome). Tapi jangan salah, super sensitif bukan Cuma
dialami oleh wanita, hampir semua orang bisa mengalaminya. Diantaranya adalah mereka-
mereka yang sedang dalam kondisi atau performa terburuknya. Dimana hal itu
mempengaruhi perasaan, pikiran dan bahkan kondisi fisiknya. Hal ini bukan
jarang menjadi pemicu mengapa seseorang kadang menjadi sangat menyebalkan
karena tidak bisa sedikit saja mengalami sindiran, salah paham, tersinggung,
sesuatu yang keterlaluan, omelan dan sejenisnya.
Super sensitif
agak sulit digambarkan secara jelas menggunakan teori terutama oleh saya orang
awam (meskipun pernah belajar psikologi selama 2 semester, tapi ini tidak
berdampak banyak pada kondisi psikologi maupun pengetahuan saya. Haha). Tapi sebenarnya
gejala ini bisa dengan mudah dikenali oleh kita. Ibarat puntung rokok yang
dibuang dalam kondisi menyala, lalu di percikan dengan sedikit bensin, maka
apinya akan membesar, that is why banned
to smoking at the SPBU. Sedikit saja tersenggol, orang yang sedang super sensitif
akan merasa bahwa senggolan tersebut amat melukainya (Oh Damn, I know its feeling!). Mungkin orang yang sedang super sensitif
secara kasat mata sedang tumbuh tanduk di kepalanya, muncul ekor dan membawa
tongkat ala devil seperti di film kartun. By
the way, aku sendiri seringkali merasa seperti ini. Baik sebagaimana
seorang perempuan menghadapi menstruasi, ataupun sebagai seorang manusia yang
sedang dalam kondisi buruk. Actually, I knew
that is really annoying, tapi aku mah apa atuh, bingung menanganinya.
Super sensitif
akan dialami oleh mereka yang sedang berada pada titik didih 100 derajat
celcius. Akan muncul gejala seperti mencak- mencak gak jelas, tatapan mata yang
sinis, tangan yang mengepal, alis yang mengkerut, muka yang menciut dan
memerah, serta nafas yang terengah- engah (Haha. Kok kaya orang mau tinju). Tapi
bisa jadi kaya gitu buat sebagian orang. Setahuku juga orang- orang yang bisa
ngalamin super sensitif ini diantaranya mereka yang sudah mahasiswa tingkat
akhir atau bahkan sudah masuk kategori veteran, ibu hamil, remaja puber,
pengangguran, jomblo, dan orang yang lagi patah hati. Oh My, Oh My. Aku pernah melewati masa suram
itu (beberapa/red).
Aku pernah
jadi mahasiswa tingkat akhir yang seringkali ditanya “udah lulus, Ta ?”, “skripsinya
udah selesai?”, “gimana skripsi?”, “udah lulus belom kamu?”, “gimana
bimbingannya tadi?”, “kapan wisuda?”. Rasanya ketika ngadepin pertanyaan itu
yang ada di kepala adalah “PEDULI AMAT LO SAMA HIDUP GUAAAA!!! DASAR KEPO!!!”. Bagi
anda yang sedang atau pernah mengalami hal ini, selamat, berarti anda akan naik
kelas. Secara gak langsung, orang- orang itu lagi doain supaya kita cepet
lulus. Aamiinkan aja ya. Tapi tetep aja
kalo ditanya kayak gitu pas momennya gak enak adalah suatu hal yang mengerikan.
Rasanya pengen naro tulisan “WATCHOUT !
Mahasiswa Galak!”. Maunya tuh gak ditanya- Tanya. Padahal mungkin kalo posisi
kita jadi itu orang yang nanya, kita juga akan nanya hal yang sama ke orang
lain. Kita terebak dalam circle yang
mengerikan. Sangat mengerikan.
Jomblo juga
aku pernah, apalagi jomblonya Karena patah hati. Ini menyakitkan, Men! Melihat kemesraan
pasangan lain yang berjalan dihadapan kita itu rasanya ingin dimuntahkan. Melihat
mereka yang bergandengan rasanya ingin dilepaskan. Melihat mereka yang makan
berduaan rasanya ingin makanan itu ditumpahkan. Ini sensitif yang agak akut. Padahal
mereka gak ngapa-ngapain kita, tapi kita sampe segitunya. Pernah malah ada
pasangan yang lumayan mesra duduk berdua, aku malah berdoa, semoga mereka
putusan juga. Hahaha. Masyaa Allah jahatnya. Hiks. Hiks…
Sensitifitas
yang juga berbahaya adalah yang satu ini, UNEMPLOYEE Alias PENGANGGURAN. Saat
ini aku masih dalam posisi berbahaya ini. Sejak kelulusan, belum ada kerjaan
yang nyangkut. Lamar sana sini udah, tes juga udah, tapi apa daya, jodoh
kerjaannya belum datang juga. Sensitif kalo pulsa atau paket internet abis, sensitif
kalo diajak jalan sama temen yang mayoritas udah punya pendapatan, sensitif kalo
ditanya “kamu lagi apa?”, sensitif kalo ditanya “ sibuk apa?”, dan lain- lain
yang sejenisnya. Malahan diajak pacar jalan aja bisa jadi sensitif sangat yang
teramat. Bukan gak mau, tapi aku berusaha sadar diri, belom bisa sekali –kali gantian
bayarin karena gak pegang rupiah sama sekali. Memalukan Men! Giliran ada uang,
waktu yang gak luang. Giliran ada waktu luang, dompet yang tak ber-uang. Allah
memang adil, sampe urusan yang satu ini, Allah bagi dengan sangat baik.
Aku sendiri
belom ada saran buat super sensitif. Karena diri sendiri masih susah
nanganinnya. Yang pasti, setelah air yang mendidih tadi udah mulai dingin,
Insyaa Allah rasa sensitifnya akan berkurang sendiri. Apalagi kalo kita udah
nemuin kondisi baik yang kita harapkan. Maaf yaa buat orang – orang yang
seringkali jadi korban ke-sensitif-an. Semoga kalian maklum. Hehe. Tapi akan
terus berusaha memperbaiki. Ganbate !! J





