My Tweetie

https://twitter.com/OktaaZikriani

my facebook

http://www.facebook.com/okta.athena
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Pages

MY DAY (PASCA SIDANG SKRIPSI RIBET BOO…)

Sejak hari sidang skripsi dan yudisium gue tanggal 1 Oktober 2014, segala hal yang berbau wisuda mulai dipersiapkan. Pertama sih gue ngurusin hal-hal administratif dulu, kaya revisian, bebas pustaka di perpus fakultas, bikin hardcover dan softcover, siapin foto, dan lain- lain. Yang paling penting sih revisian ya, biar cepet bikin hardcover, minta tandatangan dosen penguji, kaprodi sama dekan buat lembar pengesahan dan persetujuan. Masalahnya setelah sidang itu bukan berarti masalah lo selesai. Dulu waktu bimbingan lo susah ketemu dosen pembimbing, ya setelah sidang lo akan susah ketemu dosen penguji, padahal Cuma buat ttd doank (oke, bukan perkara sepele sih, karena dosen penguji harus bener-bener periksa hasil revisian lo, makanya ada beberapa dosen yang mungkin memprosesnya agak lama). Hal ini gue alami di masa- masa setelah sidang itu. ketemu Bu Isti dan Bu Naniek mah bagaikan dinaungi awan keberuntungan waktu itu. gue ketemu bliau2 dalam hari yang sama. Pucuk dicinta wulan pun tiba. Sama beliau- bliau prosesnya gampang banget. Cuma nunjukin bagian mana yang kita revisi, beliau liat- liat sebentar, terus Acc. How lucky I am. Hahah. Girang banget hari itu. Jumat barokah pisan pokonya mah. Berharap juga akan ada Pak Rangga hari itu, tapi ditunggu sampe sore pun ternyata gak ada. Yaa tapi Alhamdulillah lah udah selangkah lebih dekat.

Hari seninya gue mencoba peruntungan lagi, berharap pak Rangga ada. Tapi kalo gak salah waktu itu Pak Rangga gak ngajar. Jadi gue balik lagi ke kampus besoknya, dengan harapan proses sama beliau akan selancar dengan dua dosen pertama. But the fact, the reality isn’t same like my expectation. Pak Rangga ada di kelas, tapi ternyata naskah skripsinya harus di bawa pulang dulu dan dibaca. Nanti di kabarin lagi. Oke seperti yang mahasiswa tau pada umumnya, kata “nanti dikabarin” yang terlontar dari dosen super sibuk adalah suatu hal yang menakutkan. Karena artinya nasib kita digantung kaya jemuran basah di pekarangan rumah. Well, gue yang selalu ditemani cowok rese, Nicko (wkwwkw) dengan langkah gontai meninggalkan pak rangga, dengan harapan beliau manggil kita dan ngasih ttd dengan Cuma- Cuma. Ah emang dikata nawar dagangan di pasar, yang pura- pura pergi supaya pedagang manggil lagi. Yasudahlah. Singkat cerita, setelah seminggu lebih, pak rangga baru ngasih Acc, itupun sempet ada konflik kecil dulu sama beliau (apalagi beliau dosen pembimbing eyke cyiin). Setelah di Acc itu rasanyaaa SURGAAAAAA. Setelah dapet Acc beliau, gue langsung persiapin data lagi buat minta acc dari Kaprodi sama Dekan, dan sore sekitar jam 4an semua selesai dengan sempurna.

Setelah semua bagian yang harus ditandatanganin sempurna, tinggallah kita bikin  hardcover, softcopy, dll buat dapetin surat kelulusan sementara dari fakultas biar bisa daftar verifikasi wisuda di rekorat. Setelah mondar mandir sana sini, akhirnya selesai lah, 2 hardcover skripsi, dan 3 keping CD softcopy skripsi. Satu keping CD kita serahin ke staff kemahasiswaan di fakultas buat nebus SKL. Satu keping lagi beserta satu hardcover kita serahin ke perpus fakultas buat bikin surat keterangan bebas pustaka, satu keping CD sisanya kita serahin ke perpus universitas nanti setelah wisuda. Buat bikin surat keterangan bebas pustaka. Bdw, surat- surat ini plus surat keterangan bebas spp diperuntukkan buat ngambil ijazah nanti, so jangan ilang ya! Setelah semua diserahin ke bagian yang semestinya, tuntaslah. Sekarang tinggal daftar verifikasi wisuda.

Daftar verifikasi wisuda didahulukan dengan daftar secara online (buka di web Untirta). Oya, daftar online ini bisa dilakuin setelah lo sidang sih, asal lo tau nilai IPK terakhir sama punya foto formal yang lo pake buat di ijazah nanti. Kalo kira- kira bates waktunya mepet banget, daftar online aja duluan, ibaratnya ini adalah proses booking kursi buat wisuda nanti. Abis daftar online nanti ada perintah ngeprint 2 hal, surat keterangan verifikasi sama surat pernyataan. Abis itu, dengan membawa beberapa persyaratan lain (kaya SKL, Transkrip, beberapa lembar foto, 2 surat tadi, dan beberapa yang lainnya), masuklah ke rektorat bagian BAAKPSI buat nyerahin semua itu, supaya lembar verifikasinya di acc sama staff disana. Setelah itu sah lah kita menjadi salah satu calon wisudawan pada gelombang tersebut. Abis itu lo udah bisa deh beli baju toga di koperasi kampus. Waktu zaman gue sih harganya 150rb. Gatau ya gimana nasib angkatan setelah ini. Seiring dengan naiknya harga BBM, maka segala kebutuhan pun akan naik. Malah desas- desusnya, biaya daftar wisuda atau yudisium fakultas (FISIP loh ya) biayanya nambah, yang sebelumnya 350rb jadi 550rb. Wisuda universitas juga konon katanya bayar lagi. Pada masa gue, wisuda universitas itu gratis tiss tiss. Yaa you know lah, everything has changed. Heehhe. Padahal bedanya gak sampe tahunan ya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MY DAY (I Love October)

Hari itu 1 Oktober 2014. Menjadi hari yang akan bersejarah dalam hidup. Mengantarkan gue menemukan kunci pintu yang selama ini dicari. SIDANG SKRIPSI. Jadwal sidang baru keluar hari Senin, tanggal 29 September 2014 lewat sebuah pesan singkat. I hope u know what I felt. Khawatir, takut, pusing dan ah entahlah. Semua campur jadi satu. Terlebih bagi gue yang gampang khawatir dan nervous. Kalo lagi deg- degan, semua rasa percaya diri yang udah dibangun sebaik dan sekokoh mungkin, bisa tiba- tiba runtuh. But, semuanya suka gak suka harus dihadapin dengan mata dan pikiran terbuka. Doa gak putus dipanjatkan, karena gue percaya, saat gak ada satu orangpun yang bisa bantu lo, There’s Allah (. I believe in power of pray. Laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzalimiin. Entah percaya sama doa itu segitu kuatnya, dan gak berhenti buat diulang-ulang.

Segala hal dipersiapkan, dari mulai baju, sepatu, buku, notebook, materi sidang, slide presentasi, handbook, dan everything I need lah. Buat sidang komprehensif pun gue persiapin sebaik mungkin, belajar dan baca- baca materi kuliah yang dulu pernah dibahas. Berhubung gue mahasiswa komunikasi yang ngambil konsentrasi humas, gue baca buku seputar komunikasi dan kehumasan. Kalo gak salah, gak banyak buku yang gue ambil buat belajar (minjem di perpus fakultas). Komunikasi Antar Manusia punya Joseph A. Devito, sama bukunya Soleh Soemirat yang gue lupa judulnya apa. Materi yang gue baca gue salin lagi ke handbook kecil, secara garis besar aja sih, yang penting- pentingnya aja. Ya paling kaya definisi  komunikasi, perkembangan ilmu komunikasi, konsep dasar komunikasi, dasar- dasar kehumasan, strategi humas, dan sejenisnya.

Waktu itu jadwal sidang gue bareng sama 4 orang lain. Risya, Ana, Nicko, dan yang dua lagi kakak tingkat yang gue juga lupa namanya. Pada hari H sidang, paginya sekitar jam 9-an sidang dibuka dulu sama kepala jurusan harusnya, tapi karena suatu hal, sidang itu dibuka sama dosen pembimbing gue yang merangkap jadi dosen penguji komprehensif gue waktu itu, Pak Iman Mukhroman. Selepas pembukaan sidang yang Cuma ngucapin salam terus baca hari pelaksanaan sidang dan bismillah, gue tetep di ruangan sama dua cewek lain, Risya dan Ana serta Pak Iman. Karena sidang komprehensif akan segera dimulai. Well, pertunjukan dimulai …
Sidang komprehensif dibuka dengan salam sama Pak Iman. Terus beliau bilang sidang akan berlangsung sekitar 50 menit. Dalam sidang kali ini, pertanyaan menggunakan system lempar. Jadi kalo peserta satu gak bisa jawab, peserta lain boleh jawab. Pertanyaan waktu itu lumayan banyak, sekitar 20 soal secara lisan. Tapi sorry banget, gue lupa rincian pertanyaannya. Haha. Cuma beberapa yang inget, kaya “apa makna komunikasi secara aksiologi, maksud dari komunikasi bersifat irreversible, esensi public relations, perkembangan ilmu komunikasi, syarat – syarat PR menurut Frank Jeffkins, dll”. Suasana sidang cair banget, bisa ketawa ketiwi, bisa ngeles, dan kaya ngobrol aja. Sampe akhirnya, sidang kompre pun selesai. Heheheh. Legaaaaa sedikit.
Tapi kelegaan itu gak berlangsung lama, begitu ngeliat muka- muka dosen penguji skripsi yang baru pada dateng, hati langsung cenut- cenut gak jelas lagi. Kemarin itu jadwal sidang skripsinya dimulai dari Risya. Gue kebagian jam setengah 12 siang. Jadi masih sempet belajar materi skripsi gue yang ketebalannya sekitar 200 halaman. Ah, boro mau hafal, malah gue gak sempet baca semua secara detail skripsi sendiri. Oke, disini adalah bagian yang paling ga patut dicontoh dan diterapkan haha. Kalo bisa, belajar dan pahamin skripsi sendiri itu dari awal lo mulai nulis latar belakang. Bersyukurlah yang bikin skripsi sendiri (termasuk gue), jadi sedikit banyaknya, meskipun gak hafal keseluruhan, tapi setidaknya lo paham sama inti dan poin dari skripsi lo dan bisa lo kembangkan sendiri kalo sewaktu- waktu ditanya dosen pembimbing atau penguji. Poin dari paragraph ini adalah, usahakan mengerjakan segala sesuatunya dengan jujur, dan kerjakan dengan sepenuh hati meskipun mungkin karena terpaksa. Hehehe. :p

Setelah lama menanti, tiba giliran gue masuk (waktu itu masuk di ruang serba Guna FISIP Untirta), sekitar jam setengah 1-an (bdw, ini ngaret dari waktu yang seharusnya. Gue gak tau para dosen lagi ngobrolin apa di dalem). Gue dengan segala hiruk pikuk yang ada dipikiran dan di hati, masuk ke ruangan yang udah dihuni 3 dosen penguji, Pak Rangga Galura Gumelar, Ibu Isti Nursih, dan Ibu Naniek Afrilla Framanik. Ketiganya dosen yang pernah ngajar di kelas gue dulu (makasih lho Pak, Bu, atas ilmunya selama kuliah ( ). Gue masuk diikuti beberapa sahabat yang juga ikut masuk buat nonton. Karena sidang skripsi di FISIP pada masa gue dan dari dulu emang terbuka dalam artian boleh ditonton umum. Tapi yang tertutup juga ada, tergantung kehendak yang lagi sidang sama yang menyidang. Waktu itu temen yang masuk ke ruangan mungkin sekitar 10 orang, agak lupa juga gue. Diantaranya Yani, Maya, Lulu, Ida, Tika, Ajeng, Hendrik, Cecep, Dindin, Chiko, Aini dan beberapa diantaranya yang samar dalam ingatan. Haha. Oke,here I go guys !

Sidang skripsi dimulai dengan duduk rapinya semua penonton, ditutupnya pintu ruang sidang dan gue duduk menghadap ketiga dosen penguji. Setelah itu barulah ketua penguji sidang saat itu, Bu Naniek, membuka sidang dengan salam dan lain-lain. Terus gue dikasih kesempatan untuk presentasi yang gak lebih dari 7 atau 10 menitan. Entah gimana proses presentasi itu dengan gue yang super nervous. Mungkin temponya kecepetan, mungkin artikulasinya gak jelas, atau mungkin…. #ahsyudahlah. Bdw, sebelum sidang dimulai, gue naruh handphone di atas meja penguji (persisnya di depan gue dan mereka) buat ngerekam suara selama proses sidang berlangsung. Kenapa hayoh? Karena gue mau ngedenger semua percakapan itu lagi after sidang. Barangkali banyak yang mesti di revisi. Oke guys, ini bisa ditiru terutama buat yang agak pelupa atau pelupa banget. Antisipasi kalo lo gak bisa mencatat semua “catatan” dari dosen penguji. Sekaligus buat kenang-kenangan. Mungkin lo akan ngakak ngikik denger jawaban-jawaban “zonk” dari mulut lo di hadapan penguji. hehehe
Selepas presentasi, dosen penguji nyuruh gue duduk lagi, dan tibalah masa persidangan yang sesungguhnya. Pertama kesempatannya Pak Rangga, alias dosen pembimbing sendiri buat menghujani gue dengan beragam macam pertanyaan, kritikan dan sanggahan. Firstly, he asked me that, why I used pattern of correlation product moment on my thesis ? (oh damn, I forgotten about). Gue gak bisa jawab secara ilmiah pertanyaan yang satu itu. alhasil si mister merendahkan dirikuh yang memang rendah ini (ah sedihnya). Terus doi nanya lagi, kenapa uji F Cuma di satu hipotesis, syarat penggunaan correlation product moment, valid atau engga datanya, bener gak masukin datanya, atau jangan- jangan dimanipulasi (wedew, nyeredet dina hate). Yaa yang kali ini gue akui agak kelimpungan jawabnya, soalnya teoritik banget. Gak hafal.
Kedua adalah bagian Bu Isti. Beliau bilang gak akan banyak ngoreksi (tapi lumayan lama ngomongnya mah, hhehe). Beliau Tanya, kenapa ambil tema ini, masalahnya dimana, dan kenapa di Bab 2 gak nyinggung sedikitpun tentang nasi organic sebagai objek dari penelitian gue. Yasutralah, dengan kekuatan bulan, gue berusaha jawab semampu dan selogisnya. Giliran ketiga, Bu Naniek. Beliau yang biasanya lembut, kali ini agak tegas dan sedikit menyeramkan buat gue heheh. Beliau nanya, paragraph mana di latar belakang yang menjadi inti masalah  penelitian gue, terus beliau ngoreksi satu kalimat yang bisa jadi boomerang buat gue, beliau ngoreksi operasional variabel, ngoreksi juga penulisan, terus kroscek sumber skripsi gue yang ada di footnote, dan lain- lain yang gue agak lupa. Well, semua gue jawab sebisa mungkin dengan hati dan jiwa yang bergemuruh. So far, semua baik- baik aja dan nyantai. Gak kayak yang gue bayangin sebelumnya. Allah memudahkan dan memuluskan semuanya. Entah kenapa Dia selalu baik dan selalu ada saat kita butuh. Makasih Ya Allah.

Sidang selesai, kira- kira selama 59 menitan. Semua keluar dari ruang sidang kecuali dosen penguji yang masih harus ngerundingin nilai buat gue. Gue lega banget, dan langsung ke masjid kampus buat shalat Dzuhur sekaligus wujud terimakasih gue ke Allah. Sampe akhirnya jadwal yudisium tiba. Sekitar jam setengah 4 sore, semua peserta sidang pada hari itu dikumpulin di satu ruangan yang di pimpin sama Bu Mia Dwiana selaku wakil dekan 2. Di bacain lah tuh, satu persatu dari peserta sidang, baik IPK sebelum sidang, sampe nilai sidang dan IPK setelahnya. Tibalah giliran gue. Di sebutkan nama, NIM, dan IPK sebelum. Nilai sidang gue 85,5 dengan predikat A. terus IPKnya 3.95 dengan predikat Cum laude. ALHAMDULILLAH …… gak pernah nyangka bisa dapetin itu. dan gak pernah berharap sebelumnya. Rada gak pede juga nerimanya, tapi gue tau, Allah selalu bales segala hal sesuai dengan usaha hambaNya.  Well, pada akhirnya Oktober 2014 dimulai dengan luar biasa. Subhanallah. Makasih YA Rabbi atas segala nikmat dan karunia. Akhirnya dapet gelar di belakang nama, S.I.Kom (

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rangkaian Mimpi

Rasanya surga melihat hamparan titik bercahaya di langit ketinggian bersamamu kelak. Menghirup nafas dari udara di ketinggian yang sama. Melihat mulut kita berasap karena dingin yang menusuk. Tubuh yang bergetar dingin namun hangat secara bersamaan. Kapan kita kesana ? seperti mimpi yang sudah kita rangkai bersama. Meski mungkin sebagian besarnya hanya terucap dalam hati yang berdoa. Sejenak Lupakanlah orang tuaku yang tidak pernah mengizinkan aku berpeluh dan mengeluh karena puncak disana yang masih jauh. Aku hanya ingin kesana, menikmati sentuhan Tuhan yang luar biasa, bersama kamu.

Atau jika gunung dan puncaknya menjadi kemungkinan kecil kita bersama, ajaklah aku bermain di teriknya pantai yang membuat ketagihan. Ketika hitam dan basah bukan lagi jadi halangan. Asal kita berdua tetap berpegang tangan menyusuri pantai dengan kerang atau kepiting kecil yang berjalan. Atau jika matahari menjadi alasan kemalasan, pergilah kesana di petang hari hingga malam. Saksikan jingga yang terbentang sebelum muncul bintang. Bunyi ombak yang bergulung besar lalu berbuih. Menatap jauh pada perahu nelayan yang mulai berangkat mencari ikan. Melihat daratan di seberang yang entah berpenghuni atau bermisteri. Bagaimana ? nampaknya mengasyikan.

Atau jika gunung dan pantai juga tidak memungkinkan, berkeliling perkotaan dengan segala kesibukannya juga tak masalah. Melalui kemacetan di atas motor putih kesayangan. Debu dan polusi menjadi kawan meski menjengkelkan. Nampaknya itu juga tak apa. Asal kita berdua saja.
Jika jalanan perkotaan terkesan sangat meletihkan, sekadar mampir ke mall yang sejuk ber-AC nampaknya lebih baik. Meski aku tak ber-uang, atau kamu yang belum jadwal gajian, toh para penjaga toko tak melarang jika kita hanya melirik atau menunjuk satu dua barangnya. Beli atau tidak itu urusan belakangan.

Ketika Gunung, pantai, jalanan perkotaan dan mall pun tak kunjung menjadi tujuan karena kesibukan, kita masih bisa bertemu di rumah kecil meski masih menyicil. Sekadar menyiram tanaman yang sejak dulu ku idamkan. Membersihkan halaman yang memang sudah kewajiban. Atau mungkin tidur- tiduran bermalasan. Meski cucian setumpuk, setrikaan menggunung, meja kursi berdebu, meja makan kosong tak beraroma. Asal kamu dan aku bahagia menghabiskan waktu bersama. Itu sederhana nampaknya. Tapi sangat berharga jika kita sudah sibuk pada urusannya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kalau

Kalau kau tanya aku sedang apa,
Aku sedang rindu...

Kalau kau tanya aku ingin apa,
Aku ingin kamu ....

Kalau kau tanya aku kenapa,
Akan kujawab, Aku mungkin gila mencintaimu...

Dan kalau kau tanya, Aku bisa apa...
Aku bisa berdoa untukmu ...

Aa-ku yang puaaaliing mancung :p, IMISSU :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menjadi Wanita


Menjadi wanita itu bukan hal mudah. Aku tak ingin membicarakan bagaimana beratnya menjadi seorang istri, yang harus mengurusi diri sendiri dan suami, membagi uang gaji suami untuk keperluan satu bulan penuh, atau memikirkan bagaimana menjadi istri salehah serta memberikan keturunan yang shaleh atau shalehah juga untuk suami dan dua keluarga besar. Atau aku bukan akan membicarakan tentang beratnya perjuangan menjadi seorang ibu. Mengandung sembilan bulan, menyusui, mendidik, merawat dan mengelola perusahaan bernama rumah tangga sekian lama hingga ajal menjemputnya. Bukan.. bukan itu .. aku merasa belum pantas membahas dan menceriitakan tentang apa yang aku belum rasakan. Bahkan membayangkannya pun tak kuasa bertahan lama.
Ini adalah tentang bagaimana wanita mengelola perasaannya yang ‘katanya’ sensitif, mengelola pikirannya yang mudah sekali bercabang, mengelola firasat dan feelingnya yang katanya sering kali tajam dan benar. Untuk hal ini aku akan berbagi dari sisi dimana aku merasakan dan memandang diri ni sebagai seorang wanita. Wanita semi dewasa yang belum terlalu matang juga kiranya.
Seringkali wanita dihadapkan pada beragam peristiwa yang memberatkan hati dan pikirannya. Oke, untuk yang satu ini rasanya bukan hanya untuk wanita. Tapi dengan sensitif yang wanita punya, terkadang permasalahn yang simpel dan biasa, bisa menjadi luar biasa. Wanita sendiri ada beragam jenisnya. Ada wanita cantik, wanita manis, wanita baik, wanita mandiri, wanita karir, wanita muslimah, bahkan hingga wanita tunasusila. Tapi mereka semua dengan beragam kategori, karakter dan profesi, punya hati yang sama, yaitu hati wanita.
Pernahkah kamu melihat seorang wanita berdiri di hadapmu dengan mata sembab, pipi dan hidungnya memerah, dan penampilannya sedikit berantakan, bahkan ada tisu atau sapu tangan yang dikepalnya erat- erat hingga membuat efek kusut disana sini? Bisakah kau tebak apa yang terjadi padanya ? yak, paling ia habis menangis. Menangis karena apa ? ya entahlah, hanya ia, tuhan dan orang bersangkutan yang tahu. Pernahkan terlintas dipikiranmu, sebegitu mudahnya wanita melunturkan wajh cantik dan manisnya dengan tangisan. Apa yang membuatnya begitu rapuh hingga air mata tidak tertahan ? yaa.. kalau kamu wanita, tebak dan rasakan saja sendiri kenapa demikian adanya.

Ini versiku. Versi bayangan dan pengalaman ku. Aku introvert (sedikit), senang bergurau, senang serius tapi santai, tapi juga mudah stress dengan beragam macam persoalan yang datang. Jadi ya bisa ditebak bagaimana aku. Si perasa dengan segala pemikiran yang ada di kepala. Bagiku sulit menuangkan rasa yang sesungguhnya. Mungkin orang terdekatku seringkali kena semprot dengan ke-BETE-an dan kusutnya wajah, tanpa mereka pernah tahu aku kenapa bahkan sampai mereka lupa. Ada banyak sekali hal yang sering mengganggu perasaanku sebagai wanita, namun seringkali aku tak tahu itu apa. Uring- uringan, galau, gelisah, unmood dan sejenisnya menggelayut berat, tapi tidak terjawab penyebab pastinya. Susah ya jadi perempuan. Terlebih saat kamu ppunya pasangan. Perasaan aneh menjadi semakin aneh. Kadang kamu merasa cinta dan benci secara bersamaan pada lelaki yang dicintai. Perasaan itu cukup menyiksa bukan ? 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Antara Aa, Dilan dan Pidi Baiq


Hari ini gue abis ngebaca dan ngelahap buku “Dilan” karya Pidi Baiq. Padahal lembaran pertama baru aja dibuka tadi pagi persis hari dimana Aa pergi ninggalin gue buat diklat selama 2 bulan di luar kota (You know what i feel, lah). Nepi ka ayeuna ge abi mah anggeur we hoyong ceurik gogoleran. Masalahnya bukan karena ditinggalnya, bukan jaraknya yang jauh, tapi ga bisa komunikasi selama 2 bulan itu yang beurraaatt pisaan. Oke balik lagi ke Dilan-nya Pidi Baiq.
Entah, dulu pertama kali denger kata Pidi Baiq dari temen yang kuliah di Unis. Dan saat itu gue sama sekali gak tau Pidi Baiq itu seonggok apa. Manusia, atau benda lain yang gue gak tau dan gak pernah liat. Dia bilang lusa bakal ada seminar yang ngehadirin Pidi Baiq (dari sini gue baru tau kalo Pidi Baiq itu sejenis manusia, meskipun masih gak tau, manusia yang kayak apa..). temen gue itu berusaha ngejelasin kalo si sosok Pidi Baiq ini adalah penulis dan bla bla bla. Tapi gue masih gak mudeng dan ga peduli juga, karena belom pernah denger sedikitpun. Ga familiar di kuping , di mata, dan di memori. Dan akhirnya, perbincangan tentang Pid Baiq berlalu tanpa menambah informasi apapun buat gue.
Well, setelah beberapa lama dari perbincangan itu, gue denger nama itu lag dari si Aa. Dia bilang dia lagi baca buku Drunken Monster-nya Pidi (untuk kedua kalinya gue denger nama itu dan untuk kedua kalinya juga gue masih gak peduli). Si Aa sempet nanya, “kamu tau Pidi Baiq?” dan gue dengan enteng jawab, “iya pernah denger, tapi gak tau dia siapa. Penulis kalo gak salah”. Si Aa cerita tentang buku Drunken Monster yang dia baca, dia bilang lucu, bagus, dan nyaranin gue baca. Oke, one day gue akan baca, pikir gue waktu itu. Sampe akhirnya si Aa bawain buku itu ke rumah.
Pas gue liat bukunya, dari sampulnya aja udah aneh, ga begitu jelas ini genre apa, jenis buku apa, dan lain-lain. Belom ada niatan baca. Tapi setelah sehari terlewati, gue berubah pikiran, gue buka lembaran pertama, dan pada beberapa chapter kisah awal, gue belom jatuh cinta. Tapi pas udah mulai di bagian chapter Drunken Monster, gue baru nemuin ciri dan kelebihan ini buku dan penulisnya, si Surayah Pidi Baiq. Dia punya cara lain dalam menulis. Jujur, ga terpaku sama aturan, dan luwes. Dia ngejadiin buku dan tulisan itu jadi “dia banget” gak peduli sama buku kebanyakan yang rata- rata konservatif dan ikutin aturan EYD alias kaku. Wkwkwk. Well, si Surayah (dia di panggil surayah yang kata dasarnya di ambil dari “ayah” sama para fansnya di twitter, gue ngikut aja dah)berhasil bikin buku dan tulisan yang berbeda. Itu karakternya, hak paten punya dia, dan jujur, ini buku pertama yang gue baca dengan ide ngalor ngidul semau gue. Tema cerita gak penting lagi buat gue, cara dia mengemas cerita itu luar biasa. Ngena, ngangenin dan unik. Out of the box banget. Yang sederhana jadi spesial kalo kita ngasih bumbunya lain dari yang lain. Dan Surayah berhasiiillll bangeets di buku ini.
Sampe Aa ngenalin bukunya Surayah yang lain, yaitu “Dilan”. Ini jenis bukunya lebih jelas, novel remaja dengan cover warna biru- biru ga jelas gitu, dengan gambar seorang cowo pake seragam SMA plus motornya. Si Aa ngasih (minjemin sebenernya) malem tanggal 4 Agustus plus ama buku lain dengan penulis yang cukup terkenal juga (genre sama karakternya beda banget). Besoknya, pilihan pertama gue jatuh sama Dilan. Selain lebih tipis dari yang satunya, si Aa juga udah rekomendasiin ini novel, dan gue juga penasaran sama Pidi Baiq di Dilan, bakal kaya apa ini novel. So, tanpa pikir panjang, gue langsung baca besok paginya.
Lembar demi lembar novel ini bener- bener Pidi Baiq banget. Luwes, bebas, dan kreatif (pake banget deh). Novel ini berlatar Bandung tahun 1990-an dengan sosok Milea dan Dilan sebagai pemeran utama. Disini sudut pandangnya, surayah itu nyeritain dari sisi perempuannya, yaitu Milea. Dan Milea itu nyeritain tentang Dilan, si cowo SMA anak Geng motor yang dari deskripsinya sih ga ganteng-ganteng amat, tapi lumayan pinter dan populer (gara-gara nakalnya). Dia suka bawa motor ke sekolah, dan pada waktu itu jarang ada yang suka bawa motor. Si Milea sendiri pindahan dari Jakarta. Si Dilan ini memberi kesan pertama yang aneh buat Milea dengan sok- sokan jadi peramal dan tingkah lakunya yang aneh. Haha. Tapi akhirnya bikin si Milea penasaran dan jatuh cinta. Ah, gue gak mau jelasin gimana si Dilan bisa binin Milea jatuh cinta, tingkah aneh apa yang Dilan sering lakuin, gimana uniknya Dilan. Lo harus baca sendiri. Lo harus ngerasain rasanya jadi Milea yang jatuh cinta juga sama Dilan. Lo harus tau gimana Dilan bisa bikin lo dan hampir semua pembaca wanita jatuh cinta. Lo harus baca biar tau betapa pembaca pria diluar sana cemburu dan ngiri sama Dilan, atau malah ada yang mau ngikutin caranya Dilan memperlakukan wanita. tapi gue saranin, JANGAN!!! JANGAN!! Lo gak akan bisa kayak Dilan ! Cuma Dilan yang bisa gitu, Cuma Dilan yang boleh gitu ! Lo gak akan bisa !! GAK AKAN !! kalo lo- lo pada (ngomong ama cowo2 ganteng) baca novel ini, baca tentang Dilan, seganteng apapun elo, lo bakal minder, nyali lo bakal ciut, dan lo mungkin akan sujud- sujud sama Tuhan minta di dunia ini gak pernah ada Dilan (ya emang, wong Cuma novel, kecuali ini based on true story ya!). pasti pada bilang gue lebay. Pada nilai gue rempong. Yeeee... makanya baca dulu ! jangan songong luu.. (agak nyolot dikit. Dikit aja).

Ga butuh lama baca ni novel, tiap lembaran bikin nagih. Tiap lembaran bikin fallin love gaeess. Muach muach buat Dilan yang TOPPP BINGIIITTS. Makanya rada takjub gue bisa baca dalam sehari sajah. Hahahah. Edan, mau setebel novel populer Harry Potter juga gapapa dah, asal tentang Dilan (lebay lagi dan bodo amat). Setelah gue baca Dilan, gue jadi bingung, mau menjatuhkan cinta pada siapa. Aa yang selalu setia, sayang dan cinta sama gue, Dilan yang kece, romantis dan anti-mainstream, atau sama Surayah yang udah nyiptain Dilan yang akhirnya bikin gue jatuh cinta. Tapi lewat tulisan ini gue mau minta maaf sama Aa gue tersayang dan tercinta, maafin aku ya yank, aku berkhianat, aku jatuh cinta sama Dilan. Tapi aku gak mau kita putus. Tapi kalo ada Dilan, yaaa biar aku pikir- pikir dulu. OK

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MASA LALU




sumber by Google
Mengenang masa lalu memang indah. Terkadang ada seulas senyum bahkan tawa yang menyungging di bibir saat kenangan itu sekilas melintas dalam pikiran. Meskipun masa lalu sakit dan pahit, tapi yang manis mengalahkan semuanya. Yang bersisa hanya bahagia saja. Entah kenapa. Apa karena ia terlalu berharga, atau sempat berharga? Mungkin saja. Karena siapa yang menyangka, mendampingi pria selama kurang lebih 2 tahun, lalu kamu hanya mendapat pengkhianatan. Beberapa mimpi pernah dibangun dan diutarakan dengan indah, namun seketika luluh lantak diterpa kebohongan dan kesakitan. Oke, mungkin ini tak seberapa dibanding Ia yang ditinggal menikah dengan pasangannya, atau mungkin ketika pasangan yang dicintainya diambil Tuhan. Tapi sebagai manusia dan wanita, bukankah bersedih adalah manusiawi ?
Bersedih dan menangis kulakukan dalam beberapa hari pertama sejak peristiwa terjadi. Mata sembab menjadi kawan setia setiap hari. Sumpah serapah menghiasi bibir kala mata tak mampu membendung duka lewat airnya. Aku berdoa bahwa ia akan peroleh sakit serupa bahkan lebih dari yang kurasa. Benci dan jijik, tepat sekali kutujukan padanya saat itu. Enggan melihat sosoknya meski dari radius kilometer. Tapi apalah daya, wanita sepertiku terlalu lemah menahan rindu. Tangisan yang keluar adalah rindu. Sumpah serapah yang keluar juga karena rindu yang kutahu tak terbalaskan. Tuhan, inikah yang dinamakan cinta ? sakit yang diterima, tak mampu hancurkan rasa. Aku tersiksa, lantaran rasa cinta yang demikian besar rupanya.
Berselang waktu, kubiasakan semua tanpanya. Ibarat computer, aku tengah menginstall ulang semua program. Menjalani keseharian seperti 2 tahun lalu sebelum mengenal dan jatuh cinta. Berat memang. Tapi kupercaya, ini tak akan lama. Mencintai haruslah sakit. Anak muda harus rapuh, serapuh- rapuhnya. Jatuh sejatuh- jatuhnya. Tapi lekaslah bangkit. Lagi- lagi, bukanlah hal mudah. Satu bulan cukup? Tentu tidak. Dua bulan? Sama saja. Tiga bulan? Belum juga. Empat bulan? Tak jauh berbeda. Tapi akhirnya kutahu, bukan masalah waktu yang membawamu pada kebaikan. Akan tetapi dirimu sendiri. Yaa.. diriku obatnya. Sepuluh tahun sekalipun tak akan mengubah keadaan. Masa lalu tak kembali, dan masa depan tak membaik, jika yang ditunggu hanyalah waktu. Akhirnya kutemukan obatnya, yaitu MEMBUKA DIRI dan HATI. Sulit itu bukan berarti tak bisa. Hanya mungkin usaha yang harus lebih keras dari biasanya. Semangat yang harus lebih besar. Dan hati yang harus lebih lapang menerima.
Biar bagaimanapun, masa lalu memang indah. Bahkan tak jarang ada hasrat dan pengandaian “jika itu terulang”. Tapi percayalah, ruang dan waktu yang saat ini kau pijak adalah yang terbaik dan lebih baik dari masa lalu (yaa setidaknya aku juga terus berusaha belajar mempercayai keyakinan ini). Masa lalu hanya kepingan puzzle yang sudah terbuka dan terpasang sesuai tempatnya. Puzzle bernama masa lalu ini yang kemudian menuntun kita menemukan puzzle- puzzle selanjutnya sampai kita tahu menempatkannya dimana. Masa yang kini kita jalani adalah puzzle yang sudah kita temukan tapi terkadang masih ragu dimana menempatkannya. Sampai akhirnya kita menemukan masa dimana puzzle itu lengkap dan tersusun rapi membentuk sebuah gambar. Masa lalu itu indah (mungkin), tapi bukankah lebih indah masa kini dan yang akan datang? Dimana kita tertantang untuk membentuknya dan menyusunnya sesuai yang kita kehendaki.

Yaa masa lalu “jatuh cintaku” memang kelam sekaligus indah. Tapi lagi- lagi, berarti apa yang kutemukan di masa lalu bukan yang terbaik hingga ia harus tersisih dan tersingkir dengan sendirinya. Tapi aku juga percaya, Tuhan menuliskan scenario yang indah dalam film bernama kehidupan. Pertemuan dengan si A, B atau C , pastilah memiliki makna dan hikmahnya. Seindah- indahnya masa lalu, itu hanya masa lalu. Terulang pun tak mungkin, meskipun di masa kini serpihan masa lalu itu masih ada, pasti dengan goresan- goresan yang berbeda. Jadi, saat ini tugasku adalah menikmati masa ke-kini-anku. Yang kuyakini akan jauh lebih indah dari yang lalu. Hmm.. tapi terima kasih pada masa lalu, karenamu kini kutemukan “puzzle” baru yang akan menuntunku pada masa yang lebih baik. J

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PENDAKI


Ga peduli betapapun nanti akan sering ditinggal naik gunung. Ga peduli akan ditinggal dan ga bisa komunikasi sekian lama. Yang penting kamu balik lagi kesini. Bawa lagi semua yang kamu bawa pergi, terutama keselamatan dan senyum kamu.
Katanya, menikah dengan pendaki gunung itu akan bahagia. Karena dia orang yang setia, tangguh dan bertanggung jawab. Tapi entah aku ga peduli poin- poin itu. Aku kenal kamu sudah lebih lama dan lebih dulu dari gunung- gunung tinggi itu. Lebih lama dari akar- akar tanaman yang kamu injak di atas sana. Aku kenal kamu jauh sebelum kamu menamai dirimu “pendaki”. Buat aku, pendaki atau bukan, kamu tetap orang yang dulu aku tahu. Pendaki atau bukan, ga ngaruh sama “setia” yang kamu punya. Pendaki atau bukan, aku yakin kamu akan bertanggung jawab. Anggaplah gunung dan kawan- kawannya itu media dan saluran, yang kemudian semakin membentuk watak- watak terbaik yang kamu punya.
Aku juga ga akan peduli betapa kamu lebih mencinta gunung daripada aku. Toh secintanya kamu sama gunung, kamu akan tetap turun dan pulang ke ‘rumah’ kita. Aku juga ga peduli betapa kamu lebih sering pasang foto pendakian kamu ketimbang foto kita berdua di BBM atau medsos manapun, toh kamu lebih banyak menghabiskan waktu sama aku ketimbang gunung itu.
maaf yaa nyolong fotonya :p
Terlalu kekanakan buat cemburu sama hobi dan kegemaran kamu, tapi kadang aku pikir cemburu itu perlu. Supaya kamu tahu, kalo ada yang nunggu kamu dan butuh kamu selain ego-mu.  Pulanglah segera, kemanapun kamu pergi, ingat rumahmu disini. Gunung manapun yang kamu daki, ingatlah hatimu tertinggal disini.  Yang pasti, selalu dan tetaplah berhati- hati. Mendaki bukan hanya sebatas tadabur alam, menyalurkan hobi, serta menyenangkan diri. Harus ingat ya, kembali pulang dengan “selamat”, “utuh” dan “baik-baik saja” harus dijadikan tujuan juga. Karena semua orang yang menyayangimu tengah rindu dan menunggu J


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Trip To Pulo Merak (Tamat)


Hari itu kalo ga salah Rabu, tanggal 30 April 2014. Gue berempat sama temen- temen ceritanya pengen refreshing (kecil-kecilan). Ngedadak banget. Yaa as usual, yang dadakan emang lebih gede kemungkinannya untuk jadi ketimbang yang banyak perencanaan dan kompromi. Kita (gue sama Yani) baru ngerencanain berangkat itu malemnya (berarti tanggal 29 April). Dari sore udah ada obrolan pengen ke kampus sama doi, tapi kok kayanya males banget ke kampus dan Cuma gitu- gitu doank terus balik lagi ke rumah. Betapaaa membosankannya.
Terus ngobrol ama doi buat jalan kemana gitu (kali ini ga terbesit sedikitpun pengen ke mall atau yang berbau modernitas *halah*). Nah tanpa diprediksi, ini tangan gerak gitu aja buat ngehubungin salah seorang temen, Chiko namanya. Kebetulan ini anak suka jalan dan ngalor ngidul, plus doi rumahnya di Merak yang deket sama nuansa laut dan pantai gitu. Jadi gue pikir doi pasti punya rekomendasi (meskipun ujung-ujungnya gue juga yang nyebutin nama tempatnya). Gue nanya satu tempat yang gue pernah denger, PULO MERAK. Selain nyari yang nuansa alam, kita (gue dan Yani) nyari yang murah meriah akakak. Ya dadakan juga gitu. Moso lelaguan mau cari yang mahal. Kantong mahasiswa pula. Pas gue Tanya Chiko perihal pulo Merak, doi setuju dan menawarkan diri buat nganter. Dengan senang hati lah ya dapet guide gretongan haha.
Gue berusaha ngehubungin Yani lagi buat nanyain persetujuan dia ke pulo Merak. Seperti biasa, dia setuju (emang Cuma Yani yang lebih sering setuju kalo diajak jalan kemana- mana). Terus gue nyoba hubungin temen- temen yang lain biar jalannya ramean. Sebenernya perjalanan kali ini gue persembahkan untuk Maya, sohib gue yang udah lama ngerengek- rengek pengen refreshing. Tapi ternyataaah sodara- sodara, Maya dengan gamang dan galau menjawab TIDAK karena doi mau ke Bandung (tepatnya Cipendeuy di Cimahi) buat pulang kampong sama mamake. Dengan sedikit patah hati, gue nerimo alesan dia. Padahal gue tau, dia mau banget jalan-jalan. Haha. Makanya dia minta, “nanti rencanain jalan-jalan lagi yaa” akakaka. Kasian tu anak. Kartika alias mba Mawar juga ga bisa, karena doi mau ngajar renang sorenya (doi atlet renang cuy). Tadinya mau ikut, tapi Cuma bisa sampe siang (mana asik cuy kalo jalan diburu-buru). Lulu si imut juga ga mau ikut. Gue lupa alesannya apa. Begitu juga Silvi yang waktu itu lagi ada tugas dari BKKBN kalo ga salah (nyang ini Duta Mahasiswa GenRe BKKBN 2012 delegasi Banten) jadi si ibu Negara ini sibuk. Yasutralah, hanya gue dan Yani si duo Libra yang kemungkinan besar melanjutkan misi perjalanan ini.
Tetep dengan aura patah hati, gue dan Yani berkompromi lagi. Terus kepikiran untuk minta Chiko ajak temen- temen kelas yang lain. Chiko bilang dia juga udah ajak beberapa. Kaya Ewok, Ipul dan Obos. Ewok mengiyakan (meskipun proses komprominya agak lama ama doi), Ipul kepingin tapi mesti masuk kuliah jam 10, dan Obos selalu excited sampe nginep di rumah Chiko malemnya. Haha. Alhasil teteplah kita pada perencanaan awal buat ke Pulo Merak meski tanpa Maya, Tika, Silvi dan Lulu. berarti yang jalan Cuma gue,Yani, Chiko, Obos dan Ewok. Dengan persiapan alakadarnya. Eh tapi, malemnya sekitar jam 10-an, Yani bbm dengan kabar mengejutkan bahwa dia ga diizinin sama mamake. Uwooohh semakin patah hati lah gue. Harepan gue buat refreshing bisa gagal total. Soalnya kalo gak ada temen cewenya, mana mau gue berangkat olangan-___-. Yaudah eh , gue tidur dengan hati yang agak kesel dan keputusan jalan besok masih menggantung. Eh tapi Paginya, sekitar jam setengah enam, Yani bbm lagi, dia bilang, ayolah kita cuss. Gue langsung sumringah dan siap- siap. Terus gue juga langsung ngabarin Chiko kalo kita jadi berangkat. Supaya doi juga siap- siap.
Kita rencananya jam 9 kumpul di polsek Merak dan langsung berangkat nyeberang ke Pulo Merak. Tapi berhubung si Yani ngabarin baru jam setengah 6, dan gue siap- siap dulu, gue baru jalan sekitar jam 7 dari rumah di Tangerang. Estimasi kesiangan udah ada di pikiran. Akhirnya bener aja, sampe Serang aja sekitar jam 9-an lewat dan Yani udah standby di masjid kampus. Soale gue bilang kita solat Dhuha dulu. Setelah solat dan dandan kece, kita langsung cuss Merak naik bus Arimbi (kalo ga salah). Duduk di kursi yang sedikit ke belakang. Dengan ongkos 5 ribu rupiah, si abang Arimbi nganterin kita ke Merak dari Serang via tol Merak.
Perjalanan Serang- Merak itu sekitar 1 jam (soalnya bus suka ngetem lagi). Si Chiko nyuruh kita turun di depan Polsek Merak (gue aja gak tau itu sebelah mana dan minta tolong aja sama mamang keneknya buat turunin kita disitu). Akhirnya gue sama Yani sampe di polsek Merak sekitar jam 10-an lewat. Itupun sebelum turun sempet ada kejadian yang bikin gak nyaman di bus. Masa si mamang kenek godain eyke,cyiin. Ahsyudahlah.
Taraaaa pas turun kita disambut matahari Merak yang mencrang ga jelas bikin mata sakit. Seperti biasa, emang gitu deh Merak mah. Terakhir ke Merak beberapa bulan lalu, ya masih aja kaya gitu, ngebul, berdebu dan puanaase puoll. Tambah lagi si Chiko dkk belom nongol, sampe gue mesti nelepon doi dulu. Agak kesyeeell. Sekitar 15 menit kemudian, Chiko dan Obos nongol dengan 2 motor berbeda. Tanpa lama- lama gue langsung naik di motor Chiko dan Yani di motor Obos. Kita menuju lokasi penyeberangan (padahal gak jauh dari polsek Merak, sebelahan doank, Cuma agak masuk ke dalem). Sampe di lokasi, ada seorang nelayan yang nawarin jasa nyeberang ke Pulo Merak. Bang Asep namanya. Gue serahin Bang Asep sama Chiko, supaya mereka saling mengenal dan negosiasi. Akhirnya gak makan waktu lama, Bang Asep siap- siap mau nyeberangin kita ke Pulo pake perahu nelayannya. Kata Chiko bayarnya cukup 20 ribu aja masing- masing orang buat jasa antar pergi dan pulang. Gue dan Yani sudah menunjukkan wajah berseri- seri. Haha.
Jalan sedikit ke bagan di pinggiran, kita langsung di sambut perahunya Bang Asep (Kok kita Cuma berempat ? yaa kata Chiko, motor si Ewok mati total, jadi mesti ke bengkel. Alhasil, kita Cuma berempat). Terus kita langsung aja naik perahu Bang Asep yang agak goyang- goyang. Setelah ambil posisi dan duduk rapi, Bang Asep nyalain mesin perahunya dan drek dek drek dek.. perahu mulai jalan. Pulo Merak, we’re comiiinnnnnn :D
Awal perjalanan masih enjoy sob. Semua masih kerasa asik. Nah pas mulai ke tengah dikit, goyangan perahu makin dahsyat. Gue yang duduk sebelahan ama Yani, mulai agak panic. Masalahnya ini first experience nyeberang pake perahu nelayan yang guncangannya kaya gitu. Haha. Sementara Chiko sibuk ngobrol sama Bang Asep dan Obos sambil ngedokumentasiin tingkah gue ama Yani pake kamera barunya. Ah masa bodo sama mereka, yang penting gue ama Yani ga kenapa- kenapa di perahu ini. Berasa mau jatoh ke laut pas perahunya goyang heboh. Gue Cuma bisa komat kamit berharap Allah masih baik ngasih gue umur panjang dan matinya ga di laut begitu dan jadi makanan ikan-ikan kecil. Begitu juga Yani. (sekarang dia kapok, katanya gak mau nyeberang lagi kalo gak pake pelampung). Emang rada serem sih. Haha. Padahal nyeberang juga gak sampe 10 menit. Deket banget dari pelabuhan tadi.
Akhirnya kisaran 10 menitan perahu menepi di pulo Merak. Kita turun dan siap- siap menjamah pulau yang cukup sepi ini. Pas kita nyeberang, di pulau ini udah ada 4 orang pemancing yang lagi sibuk ama kailnya.Agak sedikit kecewa sih, soalnya berharap ini pulau sepi tak bertuan dan kita bebas guling- gulingan dan ambil foto disebelah mana aja tanpa ada gangguan pemandangan. But, yaudahlah ya. Emang lo kata pulau pribadi. So, let’s enjoy the moment at Pulo Merak . Yippiiiiiiiiii.
Sampe sekitar jam setengah sebelas di lokasi, kita yang baru aja turun dari perahu masih berusaha beradaptasi sama tempat yang baru dipijak ini. Masih sibuk liat kanan kiri. Ternyata penghuni pulau ini adalah monyet- monyet gerombolan yang suka ngambilin makanan pengunjung. Yaa kebanyakan dari pengunjung menyisakan makanan mereka supaya bisa dinikmati juga sama monyet- monyet disini. Berhubung gue bukan tipikal pecinta binatang, jadi ya gue ga sibuk mengamati mereka atau mungkin takjub kaya pengunjung kebanyakan. I think it’s just ordinary. Cuma monyet gitu loh (padahal mungkin ini karena ada rasa traumatic sendiri sama monyet. Karena dulu gue pernah dijambak monyet waktu lewatin kandangnya di rumah temen nyokap. Nangis lah ya gue, mana masih kecil juga broh).  
Disana gue dan kawan- kawan yang Cuma empat biji ini sibuk main apa aja yang bisa dimainin. Gue ama Yani main pasir dan air, obos mainin kameranya Chiko, dan Chiko sibuk main hati *eh salah (curhat dikit)*. Sebenernya pantai, ombak, air, pasir itu bukan hal yang asing dan menakjubkan lagi buat gue. Tapi lumayan lah bikin otak sedikit refresh pasca sidang outline Senin kemarinnya tanggal 28 April. Satu yang gue gak pernah suka dari pantai adalah, PANAS. Kulit gue gampang banget gosong dan menghitam, dan akan lama putihnya kalo kena paparan matahari langsung. Itu faktor utama kenapa ga begitu suka matahari pantai, eits kecuali pagi dan sore.
Setelah sibuk main- main dan foto- foto (nanti ditunjukkin beberapa foto disana), kita agak sedikit cape dan kepanasan, mulai minggir ke bagian yang aman dari paparan matahari tengah hari bolong di pulau kecil itu. Di kerang-kerangan yang numpuk di pinggiran, kita duduk sambil ngobrol- ngobrol dan ngemil makanan yang kita bawa dari daratan di seberang sana. Banyak yang kita obrolin, mayoritas bercandaan sih. Sampe akhirnya Chiko mengajukan permainan, yaitu plesetan kata. Kita diminta menyebutkan sebuah kalimat yang satu kata di dalamnya itu diplesetin dan temen kita yang sebelah harus menebak kata itu dan biki plesetan baru dari kata yang dia tebak. Yang ga bisa nyebutin, akan dikasih pertanyaan dari masing- masing orang dan harus di jawab jujur. Obos, paling lama dalam menjawab. Entah kelamaan mikir atau entah karena ga bisa mikir haha (just a joke Bos :p). Hmm , tapi skip aja kali ya detail pertanyaannya buat yang kalah, udah lupa juga si gue.
taken by tripod hahah


Dari seberang pulau kita denger suara Adzan Dzuhur berkumandang. Kita memutuskan untuk menunggu sampe jam 1 baru di jemput sama Kang Asep. Kita masih sibuk sama permainan yang entah mau dibawa kemana nanti. Entahlah, kali itu momentnya enak banget buat tidur, angin makin sepoy sepoy, plus matahari ga ngenain kulit dan mata secara langsung. Pengen tiduran tapi ga mungkin. Oya, satu yang gue lupa sampein di atas tadi, di Pulo ini juga ada makam seorang ulama (kalo ga salah, soalnya bacaannya pake kaligrafi, mana ngerti gue). Tapi buat kesana mesti naikin anak tangga yang lumayan banyak. Agak males juga mesti naik- naik kesana. Sayangnya juga, kita ga muterin itu pulau. Cuma stay di satu pojokan karena “malas” hahaha.
cantik yaa modelnya :p
Jam 1 tiba, dari kejauhan kita liat Kang Asep dengan perahu nelayannya dating menjemput. Kita rapiin barang- barang yang kita bawa, plus berusaha sebersih mungkin dan gak meninggalkan sampah disana. Kalo kita pengen tempat yang indah- indah, tapi pas udah disana kita kotorin sama sampah yang kita bawa, egois banget gak sih kaya gitu? Huh. Gue harap kalian engga gitu dan ga akan kayak gitu ya guys. Terus kita jalan ke pinggir siap- siap buat nyeberang lagi ke tempat semula karena Kang Asep sudah mendekat. Perahu akhirnya datang dan Hup Hup.. kita naik ke perahu dan duduk ambil posisi. Siap- siap guncangan lagi broh ,,sist (kali ini gue baru ‘ngeh kenapa itu perahu goyang- goyang, dan cenderung ke kiri. OBOS! Ya karena OBOS. Ini perahu kelebihan muatan.hahahahah. maapin lagi yaa boss. Becandaan kok :p). dan bener aja, perahu goyang dahsyat kaya pas kita berangkat. Memacu adrenalin boo. Lumayan lah daripada mahal ke dufan buat naik kora-kora.
Setelah menempuh perjalanan 10 menitan, akhirnya kita sampe lagi di daratan, tempat dimana kita memarkir motor. Kebetulan ada mushola, maka kita mutusin buat solat dzuhur dulu. Setelah selesai solat dan membayar jasa Kang Asep tadi, kita mutusin untuk ke pantai Kelapa 7 yang letaknya ga begitu jauh, ya sekitar 15 menitan perjalanan lah. Soalnya jalanan rusak berdebu boo. Jangan lupa masker dan helm deh kalo kesini. Niatnya kita mau cari makan siang sama minum es kelapa muda disana. Gue yang naik motor di bonceng Chiko tanpa helm mulai kucek- kucek mata akibat kelilipan debu. Sepanjang jalan kita kebanyakan diem. Sekalinya ngobrol, ngomongin skripsi. (Heloooo Chiko, lagi pengen istirahat nih, ga usah bahas skripsi kenapaahh!).  kalo inget pantai kelapa 7, ada memori disana. Sekarang Cuma bisa ngenang dan cengar- cengir sendiri kalo keingetan. Tapi udah berusaha buat gak diinget- inget sih. (masyaaa laluuu).
Sampailah kita di Pantai Kelapa 7 (dulu ada bacaannya, “BUKAN TEMPAT WISATA”, gatau deh tuh kemana bacaannya sekarang). Pantai ini emang belum cocok dibilang pantai wisata, soalnya masih bener- bener belum terawatt. Meskipun udah ada pengunjung, tapi dari segi fasilitas masih sangat minim. Sampah juga lumayan banyak. Tapi disini udah ada tempat- tempat orang berjualan. Makanya kita makan disitu. Setelah makan siang (waktu itu menu yang gue pilih adalah ketoprak, begitu juga Yani sama Chiko. Kalo Obos, gue lupa dia mesen apa) kita mutusin untuk jalan- jalan aja sepanjang pantai. Lumayan lah sambil main air dan pasir lagi. Waktu itu udah agak sore sekitar jam setengah 3-an. Matahari msih panas tapi udah mulai turun sedikit. Perjalanan kali itu cukup lah bikin gue santai dan terhibur. Terus abis makan yang padahal porsinya lumayan banyak, gue kepengen minum es kelapa muda, begitu juga yang lain. Cuma berhubung kenyang, jadi kita mutusin buat sebatok berdua (apa ya istilahnya kalo satu kelapa berdua?? ). Bercandaan dan ngobrol- ngobrol ga jelas selama disana. Meskipun Cuma berempat, tapi seru lah. Hmmm.. mudah- mudahan silaturrahiim masih tetep terjalin meskipun kita udah pada pisah. Aamiin.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 4. Masjid yang ada di seberang pantai udah mengumandangkan Adzan Ashar. Setelah solat ashar di masjid yang enak itu (masjidnya ada ACnya, dan bersih pula), kita bertolak untuk pulang, eh maksudnya ke rumah Chiko yang gak jauh juga dari situ. Karena gue mau minta foto-foto yang diambil pas di Pulo Merak dan Pantai Kelapa 7 tadi. Kalo nunggu nanti- nanti, susah lagi ketemunya. Kita udah jarang ketemu kalo di kampus soalnya. Kita gak lama di rumah Chiko, sekitar jam 5an kita udah pulang. Berhubung gue pulangnya jauh ke Tangerang, jadi mau gak mau mesti pulang secepatnya takut kemaleman. Yaa meskipun bener aja, sampe rumah jam 10an lewat. Untung Bonyok gak marah. Hehe. Sekian perjalanan ke Pulo Merak dan pantai kelapa 7. Mudah- mudahan masih dikasih kesempatan bertadabur alam di bumi ini. Masih dikasih sehat sama Allah. Aamiin. ~THE END~ 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jejaring Sosial Sebagai Intrik Politik


Politik merupakan suatu bidang dimana segelintir orang memiliki tujuan dan keinginannya sendiri. Masyarakat awam pada umumnya menilai politik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pemerintahan dan penguasa. Namun sebenarnya politik itu tidak terpaku pada hal tersebut, melainkan juga tentang cara atau strategi meraih sesuatu yang kita inginkan.
Politik terkadang menjadi kata yang mengerikan bagi beberapa orang yang traumatis terhadap kekalahan. Namun tidak sesederhana itu memang. Politik yang masyarakat dan kita pahami memang adalah politik yang berkaitan dengan pemerintahan. Dimana adanya perebutan kekuasaan, pergantian, kebijakan, monopoli bahkan mungkin manipulasi. Maka terkadang muncul berbagai spekulasi bahwa politik itu menyengsarakan dan menumbalkan rakyat untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Padahal seharusnya politik menjadi sarana dan wadah dimana rakyat bisa bebas bersandar mengeluhkan berbagai kesukaran bahkan meminta pertolongan dengan kebijakan yang memihak mereka. Namun fakta tak selamanya indah.
Menanggapi kehidupan politik yang memanas, opini public meluas dan juga turut memanas. Banyak orang yang terlibat pembicaraan tentang politik. Hal ini memancing juga opini public yang muncul di jejaring sosial. Muncul berbagai akun di jejaring sosial yang menjadi trend pembicaraan dan pembahasan politik. Terutama yang kita kenal adalah Triomacan2000.
Akun twitter yang satu ini selalu memberikan kultwit tentang tokoh- tokoh politik serta pemberitaan politik lainnya yang cukup controversial dan frontal. Banyak pihak dan pengonsumsi media yang terbantu dengan adanya akun social media seperti ini. Karena membantu memberikan bahan referensi dan pertimbangan mana yang baik dan tidak untuk menduduki kursi politik.
Segala sesuatu yang kontroversi pasti menuai pro dan kontra. Yang setuju dengan akun- akun seperti ini pasti merasa admin dari akun tersebut adalah sosok yang independen dan ingin memberikan pencerahan kepada masyarakat luas dengan mengungkap kebenaran berkenaan dengan dunia politik yang digandrungi. Dan denga adanya akun seperti Triomacan2000 itu, masyarakat jadi bisa mempertimbangkan matang- matang siapa yang nantinya mampu menjalankan kekuasaan yang bersih.
Berbeda dengan kontra, mereka menganggap bahwa akun- akun seperti itu pasti memiliki tunggangan kepentingan sendiri. Mereka tidak independen dan tidak bisa dipercayai dan dipegang begitu saja statementnya. Biar bagaimanapun, seperti yang sudah dijelaskan tadi bahwa, yang namanya politik adalah berbicara tentang kepentingan dan cara. Jadi siapapun tidak bisa kita percayai 100% dalam dunia politik. Maka dari itu jangan telan mentah- mentah apa yang ada di media apalagi jejaring sosial berkenaan dengan pemberitaan politik yang sifatnya masih opini dan belum akurat. Jangan hanya menuntut mereka- mereka memberikan pemberitaan yang benar, namun kita sebagai pengonsumsi harus pandai mencerna pesan dan makna dari media itu sendiri.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perlukah Mengenalkan Seks Sejak Dini ?


Kata seks sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Bahkan hal tersebut telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan atas hidup kita. Seks adalah pembagian jenis kelamin yang secara biologis dan melekat pada jenis kelamin tertentu. Oleh karena itu, konsep jenis kelamin digunakan untuk membedakan laki-laki dan perempuan berdasarkan unsure biologis dan anatomi tubuh (Tuttle, Lisa, Ensyclopedia of Feminism, 1986). Misalnya, laki-laki memiliki penis, testis, jakun, memproduksi sperma dan cir-ciri biologis lainnya yang berbeda dengan biologis perempuan. Sementara perempuan mempunyai alat reproduksi seperti rahim, dan saluran-saluran untuk melahirkan, memproduksi telur (indung telur), vagina, mempunyai payudara dan air susu dan alat biologis perempuan lainnya sehingga bias haid, hamil dan menyusui atau yang disebut dengan fungsi reproduksi. Namun bagaimana jika seks itu kita kenalkan pada anak- anak usia dini ?
Pengenalan akan seks yang dilakukan pada anak usia dini katanya bukanlah berkenaan dengan bagaimana proses itu dilakukan, melainkan bagaimana sang anak paham akan makna seks itu sendiri, apa yang boleh dilakukan, apa yang menjadi batasan wajar untuk hal yang berbau seks, dll. Alasannya, sex education ini dipersembahkan untuk anak- anak sejak usia dini agar terhindar dari hal- hal negative tentang seks. Namun ternyata, lagi lagi masyarakat berpikir kritis. Banyak yang sepaham dan banyak juga yang tidak sepaham dengan system pendidikan yang satu ini.
Mereka- mereka yang sepaham mengungkapkan bahwa pengenalan seks pada usia dini mampu menjadi pondasi pengetahuan dan ilmu bagi generasi penerus bangsa akan makna seks itu sendiri. Terlebih lagi dengan segala kemajuan teknologi yang makin memudahkan informasi masuk secara mudah dan cepat, tak terkecuali perihal seks. Pengetahuan tentang seks yang salah akan mempengaruhi pola pikir dan masa depan dari anak- anak. Maka dari itu pengenalan akan seks atau sex education  setidaknya akan memberikan bekal bagi mereka untuk mengelola pola pikir mereka tentang seks, keuntungan dan kerugiannya, dll.
Namun bertolak belakang dari mereka yang kontra terhadap pendidikan seks menilai bahwa pendidikan seks sejak dini terbilang tabu, tidak penting dan sia- sia. Mengapa tabu ? hal ini adalah hal yang sensitive bagi sebagian besar orang, apalagi jika dibahas dalam ruang lingkup yang tidak privasi. Mengapa tidak penting ? justru pendidikan seks pada usia dini ini akan menjadi batu loncatan bagi mereka- mereka yang mempunyai keinginan ‘mencoba’. Malah bukan hanya tidak penting, melainkan juga akan berdampak buruk jika tidak tepat sasaran dan salah dalam penyampaian. Terblang sia- sia karena sudah banyak lembaga kependudukan yang mendapatkan hasil buruk dari penghitungan mereka atas praktek aborsi,remaja wanita yang hilang keperawanannya, seks bebas dan sebagainya. Jadi mereka beranggapan bahwa buat apa ada pendidikan seks kalau ternyata hasilnya tetap mengenaskan bagi kehidupan sosial kita.
Namun disamping itu perlu digarisbawahi bahwa pendidikan seks atau pengenalan seks pada usia dini tidak hanya dilakukan di sekolah formal. Orang tua sebagai agen sosialisasi primer bisa menjadi wadah dimana seorang anak belajar tentang hal tersebut. Ditambah lagi dengan penanaman nilai dan norma, moralitas serta nilai keimanan akan membentengi juga menambah kokoh pendidikan akan seks.

Dan sebenarnya pendidikan akan seks bukanlah pendidikan yang terus dan melulu berkenaan dengan ‘hubungan seks’, melainkan kita sudah mendapatinya dalam pelajaran Biologi ketika memasuki bab anatomi dan reproduksi. Jadi perlu dikaji lagi bagaimana pendidikan dan pengenalan seks yang sesungguhnya. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PKS ohhh PKS (Latepost)


 “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kalian. Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul (Nya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” An-Nisa’ [4] : 59
Potongan ayat al- Quran diatas menjelaskan pada kita bahwa kepatuhan kepada Allah , rasul dan ulil amri (pemerintah) adalah sebuah kewajiban ! tetapi bagaimana dengan ulil amri yang lalim dan dzalim ?
Awesome !! setelah mengumpulkan tugas wawancara anggota dewan pada Dosen pengampu, ternyata tugas tidak berhenti sampai disana. Saya bersama kawan- kawan dikelas diminta membuat lagi 10 paper artikel kami berkenaan dengan tema masing- masing. Dan Pak Dosen meminta saya membuat paper dengan tema “kelembagaan”. Namun paper kali ini merupakan langkah lanjutan dari tugas yang baru saja kami kumpulkan. Jadi tema apa yang kami dapatkan sekarang, harus memiliki keterkaitan substansi dengan tema sebelumnya.
Flash back pada prosesi wawancara yang ketika itu saya lakukan dengan Pak Mohamad Tahyar, ketua Fraksi PKS dan anggota Komisi II  DPRD Cilegon, memberikan kesan tersendiri dan meninggalkan pesan tersembunyi. Hmm, memang terkesan berlebihan. Namun rasanya memang itu pesan yang tersirat. Banyak yang mampu saya duga dan simpulkan sendiri. Meskipun saya tahu bahwa kesimpulan yang tercipta di otak dan benak saya belum tentu benar. Namun saya pikir, tidak ada yang salah untuk sebuah pendapat bukan ? J
DPR atau DPRD adalah tempat yang berisikan para wakil rakyat (yang katanya) adalah panjang tangan dari masyarakat untuk menyampaikan segala aspirasi, keluhan dan perlindungan dari kebijakan yang merugikan mereka. DPRD merupakan suatu lembaga legislative yang menjadi tempat bernaungnya masyarakat yang membutuhkan penyambung lidah kepada pemerintah. Menjadi anggota dewan juga bukan hal yang mudah, mengingat harus banyak yang dikorbankan, banyak yang diperjuangkan, banyak yang harus diurus dengan sebegitu banyak prioritas, terlebih lagi banyak sekali godaan dan ujian. Baik internal maupun eksternal. Setidaknya ini menjadi bahan pertimbangan sebelum mencalonkan diri.
DPRD juga terdiri dari banyak fraksi yang bernaung di dalamnya. Berapa banyaknya ? ya tergantung. Contohnya saja di DPRD Cilegon terdiri dari 7 Fraksi dari partai yang lumayan besar, yakni. PKS, Golkar, PDI-P, PPP, Demokrat, PAN, PKB dan BKN. Saya pikir menggabungkan ketujuh partai yang pastinya punya ideology sendiri serta memiliki otoritas sendiri merupakan hal yang tidak mudah. Apalagi jika tengah menghadapai permusyawarahan untuk penyelesaian sebuah masalah, pasti akan lebih rumit menyatukan berbagai perbedaan pemikiran dan interpretasi menjadi sebuah consensus demi kepentingan rakyat bersama. Namun saya enggan membahas
Seperti yang sudah saya ceritakan panjang lebar pada synopsis di lembar EKT 2, DPRD Cilegon menyimpan banyak misteri. Dari mulai bangunan, orang- orang yang ada di dalamnya, hingga bagaimana system yang dikelola disana. Tempo hari saya mebaca sebuah berita berkenaan dengan kasus keterlibatan korupsi tentang Kubangsari. Padahal masih terekam di memori saya ketika Pak Tahyar berkata bahwa, “Tidak ada yang bisa dikorupsi oleh angota dewan di daerah, karena jatah keuangan itu haya 0,10% dari keseluruhan dana yang ada. Pemegang kendali itu adanya di pusat. Maka bisa jadi jika pusat melakukan korupsi itu karena mereka memiliki banyak peluang. Sedangkan kami ? perlu dipertanyakan uang mana yang dikorupsinya ? karena kami minim sumber dana”. Apa yang dikatakan beliau bertolak belakang dari kenyataan yang terjadi. KPK tidak mungkin mensinyalir adanya kegiatan korupsi jika tidak ada kegiatan yang mencurigakan di dalamnya. Padahal memang pada dasarnya korupsi bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja. Contohnya saja kita sering terlambat dalam menghadiri acara, apakah itu tidak bisa disebut dengan korupsi waktu ? hmmm… begitupun saya menginterpretasikan bahwa apalagi di DPRD yang meskipun tidak mendapat banyak dana, tapi kan banyak proyek yang bisa ditangani dan mungkin saja dimanfaatkan oknum.
Saya juga pernah membaca berita yang dilansir salah satu pemberitaan di media online, DPRD Cilegon menganggarkan sebesar Rp 161 juta untuk pembuatan pakaian anggota Dewan. Tiap anggota Dewan nantinya bakal mendapatkan empat setel baju yakni Pakaian Dinas Lengkap (PDL), Pakaian Dinas Harian (PDH), Pakaian Sipil Resmi (PSR), dan Pakaian Sipil Harian (PSR). Bukan jumlah yang sedikit untuk kategori pakaian. Meskipun sudah masuk kedalam anggaran kesekretariatan, namun bukankah alangkah lebih baik jika diminimalisir?
Ada lagi terkait pemberitaan DPRD Cilegon yang menganggarkan dana tunjangan perumahan yang naik dari Rp.7jt/ bulan menjadi Rp.10jt. Selain itu juga mereka memfasilitasi ketujuh fraksi yang ada disana dengan satu unit kendaraan operasional. Ternyata pemborosan selalu terjadi dimana- mana baik pusat maupun daerah. Padahal buat apa itu dianggarkan ? toh kinerja mereka belum dirasakan maksimal.
Berdasarkan wawancara saya dengan ketua Fraksi Partai PKS, masih terekam baik di memori saya,  beliau mengatakan bahwa memang anggota dewan memiliki anggaran tersendiri dan sudah ada Undang- Undang yang mengatur yakni PP no. 24 Tahun 2004. Baik anggaran rumah, pemeliharaan sekaligus perlengkapannya, tunjangan kesehatan, uang representasi, dan lainnya. Cukup banyak dari dana pembelanjaan daerah yang teralokasikan untuk kegiatan penunjang anggota dewan. Meskipun beberapa anggota dewan tetap menganggap bahwa mereka termarginalkan, namun setidaknya mereka tidak seperti rakyatnya yang berada di kolong jembatan, bukan ?
Di DPRD Cilegon seperti yang saya sebutkan terdapat 7 fraksi yang mengisi kekosongan kursi- kursi ruang rapat paripurna. Salah satu diantaranya adalah PKS. Partai Keadilan Sejahtera atau lebih akrab disapa dengan PKS adalah partai yang tidak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia apalagi dengan usianya yang kurang lebih 10 tahun di kancah perpolitikan. Bukan usia yang terlalu muda untuk mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Apalagi Partai satu ini berbasiskan Islam, dan notabene Penghuni Islam di Indonesia lebih banyak daripada yang lainnya. Terlebih lagi dengan menjamurnya partai- partai sekuler di Indonesia, PKS memiliki kesan tersendiri di mata masyarakat.
Partai (yang katanya) Non sekularis ini jelas sekali menggunakan Islam sebagai pedoman organisasi mereka. Dengan Visi sebagai partai da’wah penegak keadilan dan kesejahteraan dalam bingkai persatuan ummat dan bangsa”, terlihat jelas bahwa Partai Islam yang satu ini mendambakan Indonesia dengan otoritas sentral (pemerintahan) yang betul- betul berpedoman pada Islam dan tidak menjadi liberal seperti Negara- Negara lain pada umumnya. PKS menjadikan Al- Quran dan Al- Hadist sebagai pedoman mereka. Karena mereka menganggap bahwa hokum Allah adalah hokum yang terbaik sepanjang masa. Seperti yang terkandung dalam surat Al- Maidah ayat 50 yang berbunyi :
أفحكم الجهلية يبغون ، ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون
Artinya: “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?
Saya jadi ingat ketika berbincang dengan Pak Tahyar tempo lalu, saya sempat mengurai pertanyaan tentang “ sejauh mana penerapan etika dan personal integrity yang baik bagi seorang anggota dewan sesuai dengan yang diharapakan warganya?” beliau menjawab dan mengakui bahwa dirinya sendiri masih jauh jika harus dikatakan bekerja secara professional serta sesuai dengan etika- etika yang diharapkan warganya. Namun beliau juga menguraikan bahwa peran dan posisi partai sangat mempengaruhi kinerja dan perangai anggota dewan dalam menduduki posisinya di DPRD. Partai yang bernuansa religi seperti PKS akan juga menanamkan image religiusitas pada anggota- anggotanya.
Partai berperan secara aktif membentuk karakter anggota yang ada. Terlebih lagi, PKS yang notabene adalah partai Islam, merekrut anggotanya dari kader- kader dakwah yang memiliki kompetensi dan kapabilitas dalam bidangnya. Meskipun bukan partai ‘senior’ seperti Golkar atau PDI-P, namun PKS juga memiliki orang- orang yang memiliki jam terbang tinggi seperti Anis Matta, Hidayat Nurwachid, Tifatul Sembiring, Adhyaksa Dault, Nur Mahmudi, dan nama- nama lain. Melihat dari konstruksi karakter yang ada pada diri masing- masing orang yang disebutkan diatas, orang awam pasti mampu menyimpulkan bahwa partai ‘junior’ ini adalah partai yang menjunjung tinggi eksistensi Islam dan nilai- nilai yang terkandung di dalamnya.
Masih dalam perbincangan yang sama, saya lagi- lagi mengajukan pertanyaan pada Pak Tahyar berkenaan dengan sejauh mana pengaruh partai terhadap kinerja para anggota sangat besar, apalagi PKS. PKS menekankan pada para anggotanya untuk melaporkan kegiatan mereka dari bangun tidur hingga waktunya tidur lagi. Ungkap pak Tahyar, hal ini sengaja dilakukan demi mengontrol kegiatan para kader agar tetap pada koridor. Namun kita (orang- orang di luar partai) kan tidak tahu apakah kegiatan itu terlaksana benar adanya atau hanya sebuah wacana belaka. Karena tidak dapat dipungkiri, kegiatan perpolitikan identik dengan penggunaan dan penanaman citra positif dimata masyarakat. Maka dari itu segala kegiatan yang berbau positif dicanangkan dan berusaha di ekspose demi mempengaruhi opini public. Selain itu juga kegiatan orang- orang di PKS pada saat berada di DPR atau DPRD terkesan sangat normative dan konservatif . karena PKS adalah partai Islam, maka anggota- anggotanya sangat terkesan rapi dan menjaga image tersebut.
Seperti yang dicantumkan PKS dalam visi khususnya, yaitu menjadi “partai berpengaruh baik secara kekuatan politik, partisipasi, maupun opini dalam mewujudkan masyarakat indonesia yang madani”. Ini menandakan bahwa PKS memang benar- benar memperhatikan penanaman image yang baik dan berupaya tetap menjadi partai yang baik bagi masyarakat Indonesia.
            Image- image positif ini juga ditanamkan lewat beberapa pengambilan keputusan dan sikap yang dilakukan oleh PKS, baik pusat maupun daerah (Cilegon). Seperti keputusan yang diambil oleh PKS pusat untuk menolak kenaikan harga BBM oleh pemerintah Indonesia. PKS memandang bahwa kenaikan harga BBM Bersubsidi untuk seluruh segmen masyarakat akan meningkatkan beban kehidupan sehari-hari rakyat. Kenaikan harga BBM Bersubsidi akan memberikan dampak inflasi yang berlipat ganda yang akan memberikan beban ekonomi yang semakin berat bagi rakyat, terutama akibat melonjaknya biaya transportasi dan harga bahan-bahan pangan. Hal ini menimbulkan reaksi bahwa SBY akan mendepak PKS dari koalisi kepartaian. Namun hal tersebut tidak menjadi halangan dan membuat PKS gentar. Mereka tetap memilih mendukung rakyat. Seperti yang dikatakan Pak Tahyar kepada saya waktu itu, “Ternyata dalam konteks teori dan praktek ada signifikansi yang mencolok. Kami (anggota Dewan) terikat dengan system. Bukan benar dan salah yang menang. Tapi banyak sedikitnya. Tapi kami tidak pernah menyerah. Terbuktinya setelah waktu berjalan. Konteks idealism tidak terkikis semuanya. Kami mensupport jika kebijakan itu cocok dan baik. Namun jika sebaliknya, meskipun pendukung atas kebijakan tersebut lebih banyak (suara mayoritas), hal tersebut akan kami kritisi bahkan tak segan kami tolak”. Hal tersebut secara tidak langsung menunjukkan idealism dari PKS terhadap prinsip dan ideology yang mereka anut. Seperti yang ada dalam hadist : qulil haqqa walaukana murran (katakanlah apa yang benar walaupun pahit rasanya) (hadis). Kedua, falyakul khairan au liyasmut (katakanlah bila benar kalau tidak bisa,diamlah). Ketiga, laa takul qabla tafakur (janganlah berbicara sebelum berpikir terlebih dahulu). Jadi tidak peduli seberapa banyak pendukung atau penentang kita, namun yang harus dipertimbangkan adalah apa yang kita upayakan dan sampaikan benar atau tidak.
            Dari contoh kasus diatas yang mampu saya simpulkan adalah, PKS baik pusat maupun daerah adalah partai yang berani melawan arus. Dalam kondisi isu kenaikan harga BBM, PKS menjadi partai koalisinya Pak SBY yang paling menentang. Padahal partai- partai koalisi lain sepertinya cari aman dan ‘manut- manut wae’ dengan keputusan otoritas. Padahal entah keputusan itu adalah keputusan terbaik bagi kepentingan rakyat banyak, atau hanya menjadi kepentingan laten bagi yang membutuhkan.
            Penilaian sementara saya dari beberapa kasus yang ada, PKS mampu mempertahankan konsistensi dan jalurnya. Ditengah maraknya liberalisasi, PKS tetap meneguhkan ideology dan prinsip mereka atas dasar hokum Allah. Partai ini tetap bertahan dengan berbagai cemoohan karena menjadi partai dengan suara minoritas. Bahkan Pak Tahyar pernah berbagi pengalamn kasus PKS Cilegon waktu itu, fraksi partai PKS pernah menjadi bulan- bulanan dengan dibuat boneka tiruannya dan dipasangkan baju wanita karena PKS menolak pengalokasian dana untuk kubangsari. Fraksi PKS menjadi yang paling menentang . namun pada akhirnya ternyata, kasus Kubangsari menjadi sorotan KPK dan media karena bermasalah.
            Dalam kondisi di cemooh dan dipandang tidak solid seperti itu pasti adalah masa sulit. Namun tetap tidak mengubah keputusan PKS untuk berubah haluan menjadi pro pemerintah. PKS tetap bersikeras menentang apa yang sekiranya tidak cocok bagi idealism mereka.
Contoh lain yang dilakukan PKS Cilegon sebagai salah satu kegiatan pencitraan adalah penolakan mereka terhadap keputusan pemkot Cilegon atas pajak yang dikenakan bagi hiburan malam disana. Mereka beranggapan bahwa, hiburan malam itu identik dengan pornografi dan pornoaksi. Dan PKS beranggapan bahwa pembangunan kota Cilegon tidak boleh dibiayai oleh ‘uang haram’ yang diperoleh dari pajak hiburan malam. Karena tidak sesuai dengan nilai aturan dalam Islam yang sangat mereka junjung tinggi. Seperti yang terkandung Dalam firman Allah SWT dalam surat Al- Baqarah Ayat ke 172 yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rejeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” Apa jadinya jika pembenahan dan pembangunan sebuah daerah dibiayai oleh uang haram ? bukankah pembangunan sebuah daerah melibatkan keberadaan dan kepentingan orang banyak ? sudikah anda diberi makan dari uang haram yang artinya anda akan menelan mentah- mentah api neraka kedalam perut seperti yang Allah ungkapkan dalam Al- quran ? (yaa setidaknya kali ini saya setuju dengan keputusan PKS).
 Sesuai dengan Visi yang ada di PKS, hal- hal tersebut akan menjadikan PKS menjadi partai yang berlandaskan Islam dalam rangka menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu juga visi amar am’ruf nahi munkar yang di programkan PKS, menjadi slah satu cirri khas dari visi partai ini, disaat yang lain mengacuhkan hal tersebut, namun PKS tetap menjadikannya sebuah jalur untuk menjadi agent of change.

Namun penting juga untuk digarisbawahi bahwa, meskipun PKS merupakan partai Islam yang cukup kental, tetapi PKS telah berhasil mengukuhkan diri sebagai partai yang juga terbuka bagi non muslim. PKS memiliki beberapa anggota parlemen yang non Islam. Namun tidak meredupkan semangat dakwah mereka, mereka bahkan mengundang orang- orang non muslim itu untuk membahas tentang Islam.
Toleransi diatas juga agak menggelitik pikiran saya. Mengapa PKS menggemar- gemborkan dan menjadi partai Islam di Indonesia yang berada di garis keras, namun pada akhirnya mengukuhkan diri juga untuk turut meminang non muslim dalam perjalanan politiknya. Terkesan frontal memang. Namun bukankah dulu juga Rasulullah menyebarkan Islam lewat jalur terang- terangan meskipun pada akhirnya menuai banyak kontroversi ?  (baik akan kita bahas lagi hal ini diakhir cerita).
Pembangunan citra pada partai ini hamper sama dengan partai- partai lain yang juga ingin mendapatkan feedback yang baik dari masyarakat. Hanya saja mungkin yang membedakan adalah cara dan strateginya. PKS berusaha menanamkan citra positif itu lewat bantuan- bantuan yang disalurkan bagi para penderita dan Korban bencana alam. Tempo hari ketika terjadi tsunami, lalu meletusnya gunung merapi, dan disetiap bencana- bencana yang terjadi di bumi pertiwi, PKS selalu berusaha menempatkan diri dan mengambil posisi. Begitu pula dengan fraksi PKS yang ada di Cilegon. Para anggota legislatifnya berusaha menanamkan citra yang baik itu dimata masyarakat sekitar. Seperti pada kasus lalainya penanganan pasien di salah satu rumah sakit yang ada disana, fraksi PKS sangat mengecam kenyataan tersebut. Dan segera merekonstruksikan kembali system yang ada. Ini menjadi salah satu wujud kepedulian mereka terhadap rakyat, yang diibaratkan adalah partner kerja mereka. Seperti yang dikatakan Pak Tahyar bahwa “ anggota dewan bukanlah apa- apa dan tidak akan menjadi apa- apa jika tidak ada rakyat. Tapi rakyat juga harus mau dan tidak segan melibatkan kami dalam ruang lingkup mereka. Jangan terlalu underestimate pada para anggota dewan. Serta tidak lupa untuk menjalin kerasama yang baik”.
Bukan merupakan hal asing memang. Meskipun terkesan sangat klise bantuan serta kebaikan ini (karena kita sudah sangat sering mendengar, menyaksikan bahkan mengalami sendiri), namun siapa yang tahu kedalaman hati manusia ? barangkali saja apa yang dilakukan kader- kader PKS bukan lantaran untuk membangun citra positif dan mendapat simpati rakyat. Akan tetapi memang muncul dari lubuk hati mereka sebagai manusia untuk saling menolong satu sama lain. hmm.. perihal bagaimana rakyat atau media atau siapasaja yang menanggapinya dengan pro atau kontra, itu adalah hal biasa. Karena, jangankan dunia politik, dalam hubungan interpersonal saja, disuka atau dibenci, dipuji atau dihina, dicela atau dicinta adalah perkara biasa. Seperti kata pepatah “anjing mengonggong khafilah berlalu”.
Langkah dan strategi lain untuk memperbaiki internal PKS adalah melalui jalur tarbiyah (pendidikan). Seperti yang dilansir ooleh salah satu media online, presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq mencanangkan kader- kader PKS harus bersekolah minimal hingga S2. Hal ini bertujuan untuk memperkuat daya saing yang semakin gencar dewasa ini. Langkah ini pun menjadi salah satu wujud kepedulian dan perhatian PKS terhadap kadernya dengan wujud investasi pendidikan. Pencanangan program yang sangat baik. Karena pada dasarnya pendidikan menjadi ladang awal terbinanya manusia-manusia terdidik dan berakhlak. Program ini menandakan bahwasanya PKS sangat memperhatikan kapabilitas dan kredibilitas kader- kadernya. Jangan sampai kalah dengan organisasi- organisasi lain yang juga pasti memiliki anggota- anggota yang mumpuni dalam bidangnya. Terlebih lagi, PKS menjadi yang seperti sekarang, tidak luput dari kontribusi para kader. Maka dari itu iklim organisasinya harus diciptakan seharmonis mungkin dengan para kader. Salah satunya dengan memberikan fasilitas yang memadai bagi mereka para kader.
Namun ternyata penilaian saya bisa saja salah, dan penilaian anda bisa juga salah. Begitulah symbol – symbol dan unsure- unsure semiotik selalu bermain dan mempermainkan kita dalam kegiatan politik . Anda ingat PKSWatch yang sempat menjadi kontroversi dikalangan kader dan simpatisan PKS ? disana mengungkap berbaggai kebijakan- kebijakan PKS yang dianggap sudah tidak lagi sesuai dan sejalur dengan rel yang ada sesuai dengan visi dan misi PKS semula.
PKS diduga menggantungkan asas- asas dan prinsip keislaman dan jalur dakwah yang diusung sejak awal. Merasa pergerakan sangat lambat dalam kancah politik, PKS menempatkan dan mengukuhkan diri menjadi partai beraliran tengah, bukan lagi partai nasionalis religious. Dibuktikan dengan pembahasan yang ada diatas tadi berkenaan dengan pemboyongan anggota- anggota non muslim kedalam partai Islam ini. Bahkan PKS mengubah Jargon menjadi “PKS untuk semua”. Saya menganggap bahwa lagi- lagi ada symbol yang bermain. Jargon tersebut bisa saja menjadi sebuah kalimat “ PKS bisa jadi apa saja, siapa saja, sesuai dengan kebutuhan. Jadi kalaupun tidak lagi sesuai dengan niatan awal, yang penting tercapai segala kepentingan”.
Kini diakhir penceritaan, saya berani menyimpulkan bahwa, tidak ada yang special dari PKS baik pusat maupun Cilegon. (karena pada dasarnya, system pusat dan daerah memiliki benang merah yang kuat). Mereka bukan lagi partai dakwah dan partai Islam seperti yang semula digembor- gemborkan. PKS nampaknya sudah mulai haus kuasa, sama seperti partai yang lainnya. Orientasi dan prioritasnya jatuh pada sekularisasi dan liberalisasi lagi. Miris memang. PKS beserta kader- kader yang ada di dalamnya,berusaha keluar dari tema- tema sempit dalam rangka mengubah cirta islamis. Dan seperti yang kita ketahui bahwa, kegiatan politik itu penuh dengan strategi untuk berkuasa, dan nampaknya PKS beserta partai lainnya sudah terkukung oleh euphoria ‘haus kuasa’ yang sama yang mereka perebutkan. Padahal dalam al- hadist disebutkan bahwa : Dari Abdurrahman ibn Smurah ra. Ia berkata : Rasulullah bersabda :”Wahai Abdurrahman Ibn sammurah, janganlah kamu meminta jabatan. Jika kau diberi jabatan karena memintanya, jabatan itu diserahkan sepenuhnya. Dan Apabila kamu diberi dan tidak memintanya, kamu akan mendapat pertolongan Allah dalam melaksanakannya.  Apabila kamu bersumpah terhadap satu perbuatan, kemudian kamu melihat ada perbuatan yang lebih baik, maka kerjakanlah perbuatan yang lebih baik itu.“ (HR Bukhari dan Muslim).

Wallahu’alam. Bagaimanapun orientasinya dari PKS pusat maupun daerah khusunya Cilegon, wajar jika masyarakat masih punya harapan untuk dapat menemui “malaikat tanpa sayap” yang siap amanah dan menolong mereka tanpa ada imning- iming dan embel- embel kekuasaan dan materi semata. 

nb : ini latepost banget. tugas komunikasi politik semester 4, tepatnya 2 tahun lalu. tapi barangkali bermanfaat buat adek-adek yang kuliah :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS