“Hai orang-orang
yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara
kalian. Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul (Nya), jika kalian benar-benar beriman
kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan
lebih baik akibatnya.” An-Nisa’ [4] : 59
Potongan ayat al- Quran diatas menjelaskan pada kita
bahwa kepatuhan kepada Allah , rasul dan ulil amri (pemerintah) adalah sebuah
kewajiban ! tetapi bagaimana dengan ulil amri yang lalim dan dzalim ?
Awesome
!! setelah mengumpulkan tugas wawancara anggota dewan pada Dosen pengampu,
ternyata tugas tidak berhenti sampai disana. Saya bersama kawan- kawan dikelas
diminta membuat lagi 10 paper artikel kami berkenaan dengan tema masing-
masing. Dan Pak Dosen meminta saya membuat paper dengan tema “kelembagaan”.
Namun paper kali ini merupakan langkah lanjutan dari tugas yang baru saja kami
kumpulkan. Jadi tema apa yang kami dapatkan sekarang, harus memiliki keterkaitan
substansi dengan tema sebelumnya.
Flash
back pada prosesi wawancara yang ketika itu saya lakukan dengan Pak Mohamad
Tahyar, ketua Fraksi PKS dan anggota Komisi II
DPRD Cilegon, memberikan kesan tersendiri dan meninggalkan pesan
tersembunyi. Hmm, memang terkesan berlebihan. Namun rasanya memang itu pesan
yang tersirat. Banyak yang mampu saya duga dan simpulkan sendiri. Meskipun saya
tahu bahwa kesimpulan yang tercipta di otak dan benak saya belum tentu benar. Namun
saya pikir, tidak ada yang salah untuk sebuah pendapat bukan ? J
DPR
atau DPRD adalah tempat yang berisikan para wakil rakyat (yang katanya) adalah
panjang tangan dari masyarakat untuk menyampaikan segala aspirasi, keluhan dan
perlindungan dari kebijakan yang merugikan mereka. DPRD merupakan suatu lembaga
legislative yang menjadi tempat bernaungnya masyarakat yang membutuhkan
penyambung lidah kepada pemerintah. Menjadi anggota dewan juga bukan hal yang
mudah, mengingat harus banyak yang dikorbankan, banyak yang diperjuangkan, banyak
yang harus diurus dengan sebegitu banyak prioritas, terlebih lagi banyak sekali
godaan dan ujian. Baik internal maupun eksternal. Setidaknya ini menjadi bahan
pertimbangan sebelum mencalonkan diri.
DPRD
juga terdiri dari banyak fraksi yang bernaung di dalamnya. Berapa banyaknya ?
ya tergantung. Contohnya saja di DPRD Cilegon terdiri dari 7 Fraksi dari partai
yang lumayan besar, yakni. PKS, Golkar, PDI-P, PPP, Demokrat, PAN, PKB dan BKN.
Saya pikir menggabungkan ketujuh partai yang pastinya punya ideology sendiri
serta memiliki otoritas sendiri merupakan hal yang tidak mudah. Apalagi jika
tengah menghadapai permusyawarahan untuk penyelesaian sebuah masalah, pasti
akan lebih rumit menyatukan berbagai perbedaan pemikiran dan interpretasi
menjadi sebuah consensus demi kepentingan rakyat bersama. Namun saya enggan
membahas
Seperti
yang sudah saya ceritakan panjang lebar pada synopsis di lembar EKT 2, DPRD
Cilegon menyimpan banyak misteri. Dari mulai bangunan, orang- orang yang ada di
dalamnya, hingga bagaimana system yang dikelola disana. Tempo hari saya mebaca
sebuah berita berkenaan dengan kasus keterlibatan korupsi tentang Kubangsari.
Padahal masih terekam di memori saya ketika Pak Tahyar berkata bahwa, “Tidak ada yang bisa dikorupsi oleh angota
dewan di daerah, karena jatah keuangan itu haya 0,10% dari keseluruhan dana
yang ada. Pemegang kendali itu adanya di pusat. Maka bisa jadi jika pusat
melakukan korupsi itu karena mereka memiliki banyak peluang. Sedangkan kami ?
perlu dipertanyakan uang mana yang dikorupsinya ? karena kami minim sumber dana”.
Apa yang dikatakan beliau bertolak belakang dari kenyataan yang terjadi. KPK
tidak mungkin mensinyalir adanya kegiatan korupsi jika tidak ada kegiatan yang
mencurigakan di dalamnya. Padahal memang pada dasarnya korupsi bisa dilakukan
oleh siapa saja, kapan saja. Contohnya saja kita sering terlambat dalam
menghadiri acara, apakah itu tidak bisa disebut dengan korupsi waktu ? hmmm…
begitupun saya menginterpretasikan bahwa apalagi di DPRD yang meskipun tidak
mendapat banyak dana, tapi kan banyak proyek yang bisa ditangani dan mungkin
saja dimanfaatkan oknum.
Saya
juga pernah membaca berita yang dilansir salah satu pemberitaan di media
online, DPRD Cilegon menganggarkan sebesar Rp 161 juta untuk pembuatan pakaian
anggota Dewan. Tiap anggota Dewan nantinya bakal mendapatkan empat setel baju
yakni Pakaian Dinas Lengkap (PDL), Pakaian Dinas Harian (PDH), Pakaian Sipil
Resmi (PSR), dan Pakaian Sipil Harian (PSR). Bukan jumlah yang sedikit untuk
kategori pakaian. Meskipun sudah masuk kedalam anggaran kesekretariatan, namun
bukankah alangkah lebih baik jika diminimalisir?
Ada
lagi terkait pemberitaan DPRD Cilegon yang menganggarkan dana tunjangan
perumahan yang naik dari Rp.7jt/ bulan menjadi Rp.10jt. Selain itu juga mereka
memfasilitasi ketujuh fraksi yang ada disana dengan satu unit kendaraan
operasional. Ternyata pemborosan selalu terjadi dimana- mana baik pusat maupun
daerah. Padahal buat apa itu dianggarkan ? toh kinerja mereka belum dirasakan
maksimal.
Berdasarkan
wawancara saya dengan ketua Fraksi Partai PKS, masih terekam baik di memori
saya, beliau mengatakan bahwa memang
anggota dewan memiliki anggaran tersendiri dan sudah ada Undang- Undang yang
mengatur yakni PP no. 24 Tahun 2004. Baik anggaran rumah, pemeliharaan
sekaligus perlengkapannya, tunjangan kesehatan, uang representasi, dan lainnya.
Cukup banyak dari dana pembelanjaan daerah yang teralokasikan untuk kegiatan
penunjang anggota dewan. Meskipun beberapa anggota dewan tetap menganggap bahwa
mereka termarginalkan, namun setidaknya mereka tidak seperti rakyatnya yang
berada di kolong jembatan, bukan ?
Di
DPRD Cilegon seperti yang saya sebutkan terdapat 7 fraksi yang mengisi
kekosongan kursi- kursi ruang rapat paripurna. Salah satu diantaranya adalah
PKS. Partai Keadilan Sejahtera atau lebih akrab disapa dengan PKS adalah partai
yang tidak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia apalagi dengan usianya
yang kurang lebih 10 tahun di kancah perpolitikan. Bukan usia yang terlalu muda
untuk mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Apalagi Partai satu ini
berbasiskan Islam, dan notabene Penghuni Islam di Indonesia lebih banyak
daripada yang lainnya. Terlebih lagi dengan menjamurnya partai- partai sekuler
di Indonesia, PKS memiliki kesan tersendiri di mata masyarakat.
Partai
(yang katanya) Non sekularis ini jelas sekali menggunakan Islam sebagai pedoman
organisasi mereka. Dengan Visi “sebagai
partai da’wah penegak keadilan dan kesejahteraan dalam bingkai persatuan ummat
dan bangsa”, terlihat jelas bahwa Partai Islam yang
satu ini mendambakan Indonesia dengan otoritas sentral (pemerintahan) yang
betul- betul berpedoman pada Islam dan tidak menjadi liberal seperti Negara-
Negara lain pada umumnya. PKS menjadikan Al- Quran dan Al- Hadist sebagai
pedoman mereka. Karena mereka menganggap bahwa hokum Allah adalah hokum yang
terbaik sepanjang masa. Seperti yang terkandung dalam surat Al- Maidah ayat 50
yang berbunyi :
أفحكم
الجهلية يبغون ، ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون
Artinya: “Apakah hukum
Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada
hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”
Saya
jadi ingat ketika berbincang dengan Pak Tahyar tempo lalu, saya sempat mengurai
pertanyaan tentang “ sejauh mana penerapan etika dan personal integrity yang
baik bagi seorang anggota dewan sesuai dengan yang diharapakan warganya?”
beliau menjawab dan mengakui bahwa dirinya sendiri masih jauh jika harus
dikatakan bekerja secara professional serta sesuai dengan etika- etika yang
diharapkan warganya. Namun beliau juga menguraikan bahwa peran dan posisi partai
sangat mempengaruhi kinerja dan perangai anggota dewan dalam menduduki
posisinya di DPRD. Partai yang bernuansa religi seperti PKS akan juga
menanamkan image religiusitas pada anggota- anggotanya.
Partai
berperan secara aktif membentuk karakter anggota yang ada. Terlebih lagi, PKS
yang notabene adalah partai Islam, merekrut anggotanya dari kader- kader dakwah
yang memiliki kompetensi dan kapabilitas dalam bidangnya. Meskipun bukan partai
‘senior’ seperti Golkar atau PDI-P, namun PKS juga memiliki orang- orang yang
memiliki jam terbang tinggi seperti Anis Matta, Hidayat Nurwachid, Tifatul
Sembiring, Adhyaksa Dault, Nur Mahmudi, dan nama- nama lain. Melihat dari
konstruksi karakter yang ada pada diri masing- masing orang yang disebutkan
diatas, orang awam pasti mampu menyimpulkan bahwa partai ‘junior’ ini adalah
partai yang menjunjung tinggi eksistensi Islam dan nilai- nilai yang terkandung
di dalamnya.
Masih
dalam perbincangan yang sama, saya lagi- lagi mengajukan pertanyaan pada Pak
Tahyar berkenaan dengan sejauh mana pengaruh partai terhadap kinerja para
anggota sangat besar, apalagi PKS. PKS menekankan pada para anggotanya untuk
melaporkan kegiatan mereka dari bangun tidur hingga waktunya tidur lagi. Ungkap
pak Tahyar, hal ini sengaja dilakukan demi mengontrol kegiatan para kader agar
tetap pada koridor. Namun kita (orang- orang di luar partai) kan tidak tahu
apakah kegiatan itu terlaksana benar adanya atau hanya sebuah wacana belaka. Karena
tidak dapat dipungkiri, kegiatan perpolitikan identik dengan penggunaan dan
penanaman citra positif dimata masyarakat. Maka dari itu segala kegiatan yang
berbau positif dicanangkan dan berusaha di ekspose demi mempengaruhi opini
public. Selain itu juga kegiatan orang- orang di PKS pada saat berada di DPR
atau DPRD terkesan sangat normative dan konservatif . karena PKS adalah partai
Islam, maka anggota- anggotanya sangat terkesan rapi dan menjaga image
tersebut.
Seperti
yang dicantumkan PKS dalam visi khususnya, yaitu menjadi “partai berpengaruh
baik secara kekuatan politik, partisipasi, maupun opini dalam mewujudkan
masyarakat indonesia yang madani”. Ini menandakan bahwa PKS memang benar- benar
memperhatikan penanaman image yang baik dan berupaya tetap menjadi partai yang
baik bagi masyarakat Indonesia.
Image- image positif ini juga
ditanamkan lewat beberapa pengambilan keputusan dan sikap yang dilakukan oleh
PKS, baik pusat maupun daerah (Cilegon). Seperti keputusan yang diambil oleh
PKS pusat untuk menolak kenaikan harga BBM oleh pemerintah Indonesia. PKS
memandang bahwa kenaikan harga BBM Bersubsidi untuk seluruh segmen masyarakat
akan meningkatkan beban kehidupan sehari-hari rakyat. Kenaikan harga BBM
Bersubsidi akan memberikan dampak inflasi yang berlipat ganda yang akan
memberikan beban ekonomi yang semakin berat bagi rakyat, terutama akibat
melonjaknya biaya transportasi dan harga bahan-bahan pangan. Hal ini
menimbulkan reaksi bahwa SBY akan mendepak PKS dari koalisi kepartaian. Namun
hal tersebut tidak menjadi halangan dan membuat PKS gentar. Mereka tetap
memilih mendukung rakyat. Seperti yang dikatakan Pak Tahyar kepada saya waktu
itu, “Ternyata dalam konteks teori dan
praktek ada signifikansi yang mencolok. Kami (anggota Dewan) terikat dengan
system. Bukan benar dan salah yang menang. Tapi banyak sedikitnya. Tapi kami
tidak pernah menyerah. Terbuktinya setelah waktu berjalan. Konteks idealism
tidak terkikis semuanya. Kami mensupport jika kebijakan itu cocok dan baik.
Namun jika sebaliknya, meskipun pendukung atas kebijakan tersebut lebih banyak
(suara mayoritas), hal tersebut akan kami kritisi bahkan tak segan kami tolak”.
Hal tersebut secara tidak langsung menunjukkan idealism dari PKS terhadap
prinsip dan ideology yang mereka anut. Seperti yang ada dalam hadist : qulil
haqqa walaukana murran (katakanlah apa yang benar walaupun pahit rasanya)
(hadis). Kedua, falyakul khairan au liyasmut (katakanlah bila benar
kalau tidak bisa,diamlah). Ketiga, laa takul qabla tafakur (janganlah berbicara
sebelum berpikir terlebih dahulu). Jadi tidak peduli seberapa banyak pendukung
atau penentang kita, namun yang harus dipertimbangkan adalah apa yang kita
upayakan dan sampaikan benar atau tidak.
Dari contoh kasus diatas yang mampu
saya simpulkan adalah, PKS baik pusat maupun daerah adalah partai yang berani
melawan arus. Dalam kondisi isu kenaikan harga BBM, PKS menjadi partai
koalisinya Pak SBY yang paling menentang. Padahal partai- partai koalisi lain
sepertinya cari aman dan ‘manut- manut wae’ dengan keputusan otoritas. Padahal
entah keputusan itu adalah keputusan terbaik bagi kepentingan rakyat banyak,
atau hanya menjadi kepentingan laten bagi yang membutuhkan.
Penilaian sementara saya dari
beberapa kasus yang ada, PKS mampu mempertahankan konsistensi dan jalurnya.
Ditengah maraknya liberalisasi, PKS tetap meneguhkan ideology dan prinsip
mereka atas dasar hokum Allah. Partai ini tetap bertahan dengan berbagai
cemoohan karena menjadi partai dengan suara minoritas. Bahkan Pak Tahyar pernah
berbagi pengalamn kasus PKS Cilegon waktu itu, fraksi partai PKS pernah menjadi
bulan- bulanan dengan dibuat boneka tiruannya dan dipasangkan baju wanita
karena PKS menolak pengalokasian dana untuk kubangsari. Fraksi PKS menjadi yang
paling menentang . namun pada akhirnya ternyata, kasus Kubangsari menjadi
sorotan KPK dan media karena bermasalah.
Dalam kondisi di cemooh dan
dipandang tidak solid seperti itu pasti adalah masa sulit. Namun tetap tidak
mengubah keputusan PKS untuk berubah haluan menjadi pro pemerintah. PKS tetap
bersikeras menentang apa yang sekiranya tidak cocok bagi idealism mereka.
Contoh lain
yang dilakukan PKS Cilegon sebagai salah satu kegiatan pencitraan adalah penolakan
mereka terhadap keputusan pemkot Cilegon atas pajak yang dikenakan bagi hiburan
malam disana. Mereka beranggapan bahwa, hiburan malam itu identik dengan
pornografi dan pornoaksi. Dan PKS beranggapan bahwa pembangunan kota Cilegon
tidak boleh dibiayai oleh ‘uang haram’ yang diperoleh dari pajak hiburan malam.
Karena tidak sesuai dengan nilai aturan dalam Islam yang sangat mereka junjung
tinggi. Seperti yang terkandung Dalam firman Allah SWT dalam surat Al- Baqarah Ayat
ke 172 yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rejeki yang baik-baik
yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar
hanya kepada-Nya kamu menyembah.” Apa jadinya jika pembenahan dan pembangunan
sebuah daerah dibiayai oleh uang haram ? bukankah pembangunan sebuah daerah
melibatkan keberadaan dan kepentingan orang banyak ? sudikah anda diberi makan
dari uang haram yang artinya anda akan menelan mentah- mentah api neraka
kedalam perut seperti yang Allah ungkapkan dalam Al- quran ? (yaa setidaknya
kali ini saya setuju dengan keputusan PKS).
Sesuai dengan Visi yang ada di PKS, hal- hal
tersebut akan menjadikan PKS menjadi partai yang berlandaskan Islam dalam
rangka menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu juga visi amar
am’ruf nahi munkar yang di programkan PKS, menjadi slah satu cirri khas dari
visi partai ini, disaat yang lain mengacuhkan hal tersebut, namun PKS tetap
menjadikannya sebuah jalur untuk menjadi agent of change.
Namun
penting juga untuk digarisbawahi bahwa, meskipun PKS merupakan partai Islam
yang cukup kental, tetapi PKS telah berhasil mengukuhkan diri sebagai partai
yang juga terbuka bagi non muslim. PKS memiliki beberapa anggota parlemen yang
non Islam. Namun tidak meredupkan semangat dakwah mereka, mereka bahkan
mengundang orang- orang non muslim itu untuk membahas tentang Islam.
Toleransi
diatas juga agak menggelitik pikiran saya. Mengapa PKS menggemar- gemborkan dan
menjadi partai Islam di Indonesia yang berada di garis keras, namun pada
akhirnya mengukuhkan diri juga untuk turut meminang non muslim dalam perjalanan
politiknya. Terkesan frontal memang. Namun bukankah dulu juga Rasulullah
menyebarkan Islam lewat jalur terang- terangan meskipun pada akhirnya menuai
banyak kontroversi ? (baik akan kita
bahas lagi hal ini diakhir cerita).
Pembangunan
citra pada partai ini hamper sama dengan partai- partai lain yang juga ingin
mendapatkan feedback yang baik dari masyarakat. Hanya saja mungkin yang
membedakan adalah cara dan strateginya. PKS berusaha menanamkan citra positif
itu lewat bantuan- bantuan yang disalurkan bagi para penderita dan Korban
bencana alam. Tempo hari ketika terjadi tsunami, lalu meletusnya gunung merapi,
dan disetiap bencana- bencana yang terjadi di bumi pertiwi, PKS selalu berusaha
menempatkan diri dan mengambil posisi. Begitu pula dengan fraksi PKS yang ada
di Cilegon. Para anggota legislatifnya berusaha menanamkan citra yang baik itu
dimata masyarakat sekitar. Seperti pada kasus lalainya penanganan pasien di
salah satu rumah sakit yang ada disana, fraksi PKS sangat mengecam kenyataan
tersebut. Dan segera merekonstruksikan kembali system yang ada. Ini menjadi
salah satu wujud kepedulian mereka terhadap rakyat, yang diibaratkan adalah
partner kerja mereka. Seperti yang dikatakan Pak Tahyar bahwa “ anggota dewan bukanlah apa- apa dan tidak
akan menjadi apa- apa jika tidak ada rakyat. Tapi rakyat juga harus mau dan
tidak segan melibatkan kami dalam ruang lingkup mereka. Jangan terlalu
underestimate pada para anggota dewan. Serta tidak lupa untuk menjalin kerasama
yang baik”.
Bukan
merupakan hal asing memang. Meskipun terkesan sangat klise bantuan serta
kebaikan ini (karena kita sudah sangat sering mendengar, menyaksikan bahkan
mengalami sendiri), namun siapa yang tahu kedalaman hati manusia ? barangkali
saja apa yang dilakukan kader- kader PKS bukan lantaran untuk membangun citra
positif dan mendapat simpati rakyat. Akan tetapi memang muncul dari lubuk hati
mereka sebagai manusia untuk saling menolong satu sama lain. hmm.. perihal
bagaimana rakyat atau media atau siapasaja yang menanggapinya dengan pro atau
kontra, itu adalah hal biasa. Karena, jangankan dunia politik, dalam hubungan
interpersonal saja, disuka atau dibenci, dipuji atau dihina, dicela atau
dicinta adalah perkara biasa. Seperti kata pepatah “anjing mengonggong khafilah
berlalu”.
Langkah
dan strategi lain untuk memperbaiki internal PKS adalah melalui jalur tarbiyah
(pendidikan). Seperti yang dilansir ooleh salah satu media online, presiden
PKS, Luthfi Hasan Ishaaq mencanangkan kader- kader PKS harus bersekolah minimal
hingga S2. Hal ini bertujuan untuk memperkuat daya saing yang semakin gencar
dewasa ini. Langkah ini pun menjadi salah satu wujud kepedulian dan perhatian
PKS terhadap kadernya dengan wujud investasi pendidikan. Pencanangan program
yang sangat baik. Karena pada dasarnya pendidikan menjadi ladang awal
terbinanya manusia-manusia terdidik dan berakhlak. Program ini menandakan
bahwasanya PKS sangat memperhatikan kapabilitas dan kredibilitas kader-
kadernya. Jangan sampai kalah dengan organisasi- organisasi lain yang juga
pasti memiliki anggota- anggota yang mumpuni dalam bidangnya. Terlebih lagi,
PKS menjadi yang seperti sekarang, tidak luput dari kontribusi para kader. Maka
dari itu iklim organisasinya harus diciptakan seharmonis mungkin dengan para
kader. Salah satunya dengan memberikan fasilitas yang memadai bagi mereka para
kader.
Namun
ternyata penilaian saya bisa saja salah, dan penilaian anda bisa juga salah. Begitulah
symbol – symbol dan unsure- unsure semiotik selalu bermain dan mempermainkan
kita dalam kegiatan politik . Anda ingat PKSWatch yang sempat menjadi
kontroversi dikalangan kader dan simpatisan PKS ? disana mengungkap berbaggai kebijakan-
kebijakan PKS yang dianggap sudah tidak lagi sesuai dan sejalur dengan rel yang
ada sesuai dengan visi dan misi PKS semula.
PKS
diduga menggantungkan asas- asas dan prinsip keislaman dan jalur dakwah yang
diusung sejak awal. Merasa pergerakan sangat lambat dalam kancah politik, PKS
menempatkan dan mengukuhkan diri menjadi partai beraliran tengah, bukan lagi
partai nasionalis religious. Dibuktikan dengan pembahasan yang ada diatas tadi
berkenaan dengan pemboyongan anggota- anggota non muslim kedalam partai Islam
ini. Bahkan PKS mengubah Jargon menjadi “PKS untuk semua”. Saya menganggap
bahwa lagi- lagi ada symbol yang bermain. Jargon tersebut bisa saja menjadi
sebuah kalimat “ PKS bisa jadi apa saja, siapa saja, sesuai dengan kebutuhan.
Jadi kalaupun tidak lagi sesuai dengan niatan awal, yang penting tercapai
segala kepentingan”.
Kini
diakhir penceritaan, saya berani menyimpulkan bahwa, tidak ada yang special
dari PKS baik pusat maupun Cilegon. (karena pada dasarnya, system pusat dan
daerah memiliki benang merah yang kuat). Mereka bukan lagi partai dakwah dan
partai Islam seperti yang semula digembor- gemborkan. PKS nampaknya sudah mulai
haus kuasa, sama seperti partai yang lainnya. Orientasi dan prioritasnya jatuh
pada sekularisasi dan liberalisasi lagi. Miris memang. PKS beserta kader- kader
yang ada di dalamnya,berusaha keluar dari tema- tema sempit dalam rangka
mengubah cirta islamis. Dan seperti yang kita ketahui bahwa, kegiatan politik
itu penuh dengan strategi untuk berkuasa, dan nampaknya PKS beserta partai lainnya
sudah terkukung oleh euphoria ‘haus kuasa’ yang sama yang mereka perebutkan.
Padahal dalam al- hadist disebutkan bahwa : Dari Abdurrahman ibn Smurah ra. Ia berkata : Rasulullah
bersabda :”Wahai Abdurrahman Ibn sammurah, janganlah kamu meminta jabatan. Jika
kau diberi jabatan karena memintanya, jabatan itu diserahkan sepenuhnya. Dan
Apabila kamu diberi dan tidak memintanya, kamu akan mendapat pertolongan Allah
dalam melaksanakannya. Apabila kamu
bersumpah terhadap satu perbuatan, kemudian kamu melihat ada perbuatan yang
lebih baik, maka kerjakanlah perbuatan yang lebih baik itu.“ (HR Bukhari dan Muslim).
Wallahu’alam. Bagaimanapun orientasinya dari PKS pusat
maupun daerah khusunya Cilegon, wajar jika masyarakat masih punya harapan untuk
dapat menemui “malaikat tanpa sayap” yang siap amanah dan menolong mereka tanpa
ada imning- iming dan embel- embel kekuasaan dan materi semata.
nb : ini latepost banget. tugas komunikasi politik semester 4, tepatnya 2 tahun lalu. tapi barangkali bermanfaat buat adek-adek yang kuliah :D