My Tweetie

https://twitter.com/OktaaZikriani

my facebook

http://www.facebook.com/okta.athena
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Pages

MY DAY (PASCA SIDANG SKRIPSI RIBET BOO…)

Sejak hari sidang skripsi dan yudisium gue tanggal 1 Oktober 2014, segala hal yang berbau wisuda mulai dipersiapkan. Pertama sih gue ngurusin hal-hal administratif dulu, kaya revisian, bebas pustaka di perpus fakultas, bikin hardcover dan softcover, siapin foto, dan lain- lain. Yang paling penting sih revisian ya, biar cepet bikin hardcover, minta tandatangan dosen penguji, kaprodi sama dekan buat lembar pengesahan dan persetujuan. Masalahnya setelah sidang itu bukan berarti masalah lo selesai. Dulu waktu bimbingan lo susah ketemu dosen pembimbing, ya setelah sidang lo akan susah ketemu dosen penguji, padahal Cuma buat ttd doank (oke, bukan perkara sepele sih, karena dosen penguji harus bener-bener periksa hasil revisian lo, makanya ada beberapa dosen yang mungkin memprosesnya agak lama). Hal ini gue alami di masa- masa setelah sidang itu. ketemu Bu Isti dan Bu Naniek mah bagaikan dinaungi awan keberuntungan waktu itu. gue ketemu bliau2 dalam hari yang sama. Pucuk dicinta wulan pun tiba. Sama beliau- bliau prosesnya gampang banget. Cuma nunjukin bagian mana yang kita revisi, beliau liat- liat sebentar, terus Acc. How lucky I am. Hahah. Girang banget hari itu. Jumat barokah pisan pokonya mah. Berharap juga akan ada Pak Rangga hari itu, tapi ditunggu sampe sore pun ternyata gak ada. Yaa tapi Alhamdulillah lah udah selangkah lebih dekat.

Hari seninya gue mencoba peruntungan lagi, berharap pak Rangga ada. Tapi kalo gak salah waktu itu Pak Rangga gak ngajar. Jadi gue balik lagi ke kampus besoknya, dengan harapan proses sama beliau akan selancar dengan dua dosen pertama. But the fact, the reality isn’t same like my expectation. Pak Rangga ada di kelas, tapi ternyata naskah skripsinya harus di bawa pulang dulu dan dibaca. Nanti di kabarin lagi. Oke seperti yang mahasiswa tau pada umumnya, kata “nanti dikabarin” yang terlontar dari dosen super sibuk adalah suatu hal yang menakutkan. Karena artinya nasib kita digantung kaya jemuran basah di pekarangan rumah. Well, gue yang selalu ditemani cowok rese, Nicko (wkwwkw) dengan langkah gontai meninggalkan pak rangga, dengan harapan beliau manggil kita dan ngasih ttd dengan Cuma- Cuma. Ah emang dikata nawar dagangan di pasar, yang pura- pura pergi supaya pedagang manggil lagi. Yasudahlah. Singkat cerita, setelah seminggu lebih, pak rangga baru ngasih Acc, itupun sempet ada konflik kecil dulu sama beliau (apalagi beliau dosen pembimbing eyke cyiin). Setelah di Acc itu rasanyaaa SURGAAAAAA. Setelah dapet Acc beliau, gue langsung persiapin data lagi buat minta acc dari Kaprodi sama Dekan, dan sore sekitar jam 4an semua selesai dengan sempurna.

Setelah semua bagian yang harus ditandatanganin sempurna, tinggallah kita bikin  hardcover, softcopy, dll buat dapetin surat kelulusan sementara dari fakultas biar bisa daftar verifikasi wisuda di rekorat. Setelah mondar mandir sana sini, akhirnya selesai lah, 2 hardcover skripsi, dan 3 keping CD softcopy skripsi. Satu keping CD kita serahin ke staff kemahasiswaan di fakultas buat nebus SKL. Satu keping lagi beserta satu hardcover kita serahin ke perpus fakultas buat bikin surat keterangan bebas pustaka, satu keping CD sisanya kita serahin ke perpus universitas nanti setelah wisuda. Buat bikin surat keterangan bebas pustaka. Bdw, surat- surat ini plus surat keterangan bebas spp diperuntukkan buat ngambil ijazah nanti, so jangan ilang ya! Setelah semua diserahin ke bagian yang semestinya, tuntaslah. Sekarang tinggal daftar verifikasi wisuda.

Daftar verifikasi wisuda didahulukan dengan daftar secara online (buka di web Untirta). Oya, daftar online ini bisa dilakuin setelah lo sidang sih, asal lo tau nilai IPK terakhir sama punya foto formal yang lo pake buat di ijazah nanti. Kalo kira- kira bates waktunya mepet banget, daftar online aja duluan, ibaratnya ini adalah proses booking kursi buat wisuda nanti. Abis daftar online nanti ada perintah ngeprint 2 hal, surat keterangan verifikasi sama surat pernyataan. Abis itu, dengan membawa beberapa persyaratan lain (kaya SKL, Transkrip, beberapa lembar foto, 2 surat tadi, dan beberapa yang lainnya), masuklah ke rektorat bagian BAAKPSI buat nyerahin semua itu, supaya lembar verifikasinya di acc sama staff disana. Setelah itu sah lah kita menjadi salah satu calon wisudawan pada gelombang tersebut. Abis itu lo udah bisa deh beli baju toga di koperasi kampus. Waktu zaman gue sih harganya 150rb. Gatau ya gimana nasib angkatan setelah ini. Seiring dengan naiknya harga BBM, maka segala kebutuhan pun akan naik. Malah desas- desusnya, biaya daftar wisuda atau yudisium fakultas (FISIP loh ya) biayanya nambah, yang sebelumnya 350rb jadi 550rb. Wisuda universitas juga konon katanya bayar lagi. Pada masa gue, wisuda universitas itu gratis tiss tiss. Yaa you know lah, everything has changed. Heehhe. Padahal bedanya gak sampe tahunan ya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MY DAY (I Love October)

Hari itu 1 Oktober 2014. Menjadi hari yang akan bersejarah dalam hidup. Mengantarkan gue menemukan kunci pintu yang selama ini dicari. SIDANG SKRIPSI. Jadwal sidang baru keluar hari Senin, tanggal 29 September 2014 lewat sebuah pesan singkat. I hope u know what I felt. Khawatir, takut, pusing dan ah entahlah. Semua campur jadi satu. Terlebih bagi gue yang gampang khawatir dan nervous. Kalo lagi deg- degan, semua rasa percaya diri yang udah dibangun sebaik dan sekokoh mungkin, bisa tiba- tiba runtuh. But, semuanya suka gak suka harus dihadapin dengan mata dan pikiran terbuka. Doa gak putus dipanjatkan, karena gue percaya, saat gak ada satu orangpun yang bisa bantu lo, There’s Allah (. I believe in power of pray. Laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzalimiin. Entah percaya sama doa itu segitu kuatnya, dan gak berhenti buat diulang-ulang.

Segala hal dipersiapkan, dari mulai baju, sepatu, buku, notebook, materi sidang, slide presentasi, handbook, dan everything I need lah. Buat sidang komprehensif pun gue persiapin sebaik mungkin, belajar dan baca- baca materi kuliah yang dulu pernah dibahas. Berhubung gue mahasiswa komunikasi yang ngambil konsentrasi humas, gue baca buku seputar komunikasi dan kehumasan. Kalo gak salah, gak banyak buku yang gue ambil buat belajar (minjem di perpus fakultas). Komunikasi Antar Manusia punya Joseph A. Devito, sama bukunya Soleh Soemirat yang gue lupa judulnya apa. Materi yang gue baca gue salin lagi ke handbook kecil, secara garis besar aja sih, yang penting- pentingnya aja. Ya paling kaya definisi  komunikasi, perkembangan ilmu komunikasi, konsep dasar komunikasi, dasar- dasar kehumasan, strategi humas, dan sejenisnya.

Waktu itu jadwal sidang gue bareng sama 4 orang lain. Risya, Ana, Nicko, dan yang dua lagi kakak tingkat yang gue juga lupa namanya. Pada hari H sidang, paginya sekitar jam 9-an sidang dibuka dulu sama kepala jurusan harusnya, tapi karena suatu hal, sidang itu dibuka sama dosen pembimbing gue yang merangkap jadi dosen penguji komprehensif gue waktu itu, Pak Iman Mukhroman. Selepas pembukaan sidang yang Cuma ngucapin salam terus baca hari pelaksanaan sidang dan bismillah, gue tetep di ruangan sama dua cewek lain, Risya dan Ana serta Pak Iman. Karena sidang komprehensif akan segera dimulai. Well, pertunjukan dimulai …
Sidang komprehensif dibuka dengan salam sama Pak Iman. Terus beliau bilang sidang akan berlangsung sekitar 50 menit. Dalam sidang kali ini, pertanyaan menggunakan system lempar. Jadi kalo peserta satu gak bisa jawab, peserta lain boleh jawab. Pertanyaan waktu itu lumayan banyak, sekitar 20 soal secara lisan. Tapi sorry banget, gue lupa rincian pertanyaannya. Haha. Cuma beberapa yang inget, kaya “apa makna komunikasi secara aksiologi, maksud dari komunikasi bersifat irreversible, esensi public relations, perkembangan ilmu komunikasi, syarat – syarat PR menurut Frank Jeffkins, dll”. Suasana sidang cair banget, bisa ketawa ketiwi, bisa ngeles, dan kaya ngobrol aja. Sampe akhirnya, sidang kompre pun selesai. Heheheh. Legaaaaa sedikit.
Tapi kelegaan itu gak berlangsung lama, begitu ngeliat muka- muka dosen penguji skripsi yang baru pada dateng, hati langsung cenut- cenut gak jelas lagi. Kemarin itu jadwal sidang skripsinya dimulai dari Risya. Gue kebagian jam setengah 12 siang. Jadi masih sempet belajar materi skripsi gue yang ketebalannya sekitar 200 halaman. Ah, boro mau hafal, malah gue gak sempet baca semua secara detail skripsi sendiri. Oke, disini adalah bagian yang paling ga patut dicontoh dan diterapkan haha. Kalo bisa, belajar dan pahamin skripsi sendiri itu dari awal lo mulai nulis latar belakang. Bersyukurlah yang bikin skripsi sendiri (termasuk gue), jadi sedikit banyaknya, meskipun gak hafal keseluruhan, tapi setidaknya lo paham sama inti dan poin dari skripsi lo dan bisa lo kembangkan sendiri kalo sewaktu- waktu ditanya dosen pembimbing atau penguji. Poin dari paragraph ini adalah, usahakan mengerjakan segala sesuatunya dengan jujur, dan kerjakan dengan sepenuh hati meskipun mungkin karena terpaksa. Hehehe. :p

Setelah lama menanti, tiba giliran gue masuk (waktu itu masuk di ruang serba Guna FISIP Untirta), sekitar jam setengah 1-an (bdw, ini ngaret dari waktu yang seharusnya. Gue gak tau para dosen lagi ngobrolin apa di dalem). Gue dengan segala hiruk pikuk yang ada dipikiran dan di hati, masuk ke ruangan yang udah dihuni 3 dosen penguji, Pak Rangga Galura Gumelar, Ibu Isti Nursih, dan Ibu Naniek Afrilla Framanik. Ketiganya dosen yang pernah ngajar di kelas gue dulu (makasih lho Pak, Bu, atas ilmunya selama kuliah ( ). Gue masuk diikuti beberapa sahabat yang juga ikut masuk buat nonton. Karena sidang skripsi di FISIP pada masa gue dan dari dulu emang terbuka dalam artian boleh ditonton umum. Tapi yang tertutup juga ada, tergantung kehendak yang lagi sidang sama yang menyidang. Waktu itu temen yang masuk ke ruangan mungkin sekitar 10 orang, agak lupa juga gue. Diantaranya Yani, Maya, Lulu, Ida, Tika, Ajeng, Hendrik, Cecep, Dindin, Chiko, Aini dan beberapa diantaranya yang samar dalam ingatan. Haha. Oke,here I go guys !

Sidang skripsi dimulai dengan duduk rapinya semua penonton, ditutupnya pintu ruang sidang dan gue duduk menghadap ketiga dosen penguji. Setelah itu barulah ketua penguji sidang saat itu, Bu Naniek, membuka sidang dengan salam dan lain-lain. Terus gue dikasih kesempatan untuk presentasi yang gak lebih dari 7 atau 10 menitan. Entah gimana proses presentasi itu dengan gue yang super nervous. Mungkin temponya kecepetan, mungkin artikulasinya gak jelas, atau mungkin…. #ahsyudahlah. Bdw, sebelum sidang dimulai, gue naruh handphone di atas meja penguji (persisnya di depan gue dan mereka) buat ngerekam suara selama proses sidang berlangsung. Kenapa hayoh? Karena gue mau ngedenger semua percakapan itu lagi after sidang. Barangkali banyak yang mesti di revisi. Oke guys, ini bisa ditiru terutama buat yang agak pelupa atau pelupa banget. Antisipasi kalo lo gak bisa mencatat semua “catatan” dari dosen penguji. Sekaligus buat kenang-kenangan. Mungkin lo akan ngakak ngikik denger jawaban-jawaban “zonk” dari mulut lo di hadapan penguji. hehehe
Selepas presentasi, dosen penguji nyuruh gue duduk lagi, dan tibalah masa persidangan yang sesungguhnya. Pertama kesempatannya Pak Rangga, alias dosen pembimbing sendiri buat menghujani gue dengan beragam macam pertanyaan, kritikan dan sanggahan. Firstly, he asked me that, why I used pattern of correlation product moment on my thesis ? (oh damn, I forgotten about). Gue gak bisa jawab secara ilmiah pertanyaan yang satu itu. alhasil si mister merendahkan dirikuh yang memang rendah ini (ah sedihnya). Terus doi nanya lagi, kenapa uji F Cuma di satu hipotesis, syarat penggunaan correlation product moment, valid atau engga datanya, bener gak masukin datanya, atau jangan- jangan dimanipulasi (wedew, nyeredet dina hate). Yaa yang kali ini gue akui agak kelimpungan jawabnya, soalnya teoritik banget. Gak hafal.
Kedua adalah bagian Bu Isti. Beliau bilang gak akan banyak ngoreksi (tapi lumayan lama ngomongnya mah, hhehe). Beliau Tanya, kenapa ambil tema ini, masalahnya dimana, dan kenapa di Bab 2 gak nyinggung sedikitpun tentang nasi organic sebagai objek dari penelitian gue. Yasutralah, dengan kekuatan bulan, gue berusaha jawab semampu dan selogisnya. Giliran ketiga, Bu Naniek. Beliau yang biasanya lembut, kali ini agak tegas dan sedikit menyeramkan buat gue heheh. Beliau nanya, paragraph mana di latar belakang yang menjadi inti masalah  penelitian gue, terus beliau ngoreksi satu kalimat yang bisa jadi boomerang buat gue, beliau ngoreksi operasional variabel, ngoreksi juga penulisan, terus kroscek sumber skripsi gue yang ada di footnote, dan lain- lain yang gue agak lupa. Well, semua gue jawab sebisa mungkin dengan hati dan jiwa yang bergemuruh. So far, semua baik- baik aja dan nyantai. Gak kayak yang gue bayangin sebelumnya. Allah memudahkan dan memuluskan semuanya. Entah kenapa Dia selalu baik dan selalu ada saat kita butuh. Makasih Ya Allah.

Sidang selesai, kira- kira selama 59 menitan. Semua keluar dari ruang sidang kecuali dosen penguji yang masih harus ngerundingin nilai buat gue. Gue lega banget, dan langsung ke masjid kampus buat shalat Dzuhur sekaligus wujud terimakasih gue ke Allah. Sampe akhirnya jadwal yudisium tiba. Sekitar jam setengah 4 sore, semua peserta sidang pada hari itu dikumpulin di satu ruangan yang di pimpin sama Bu Mia Dwiana selaku wakil dekan 2. Di bacain lah tuh, satu persatu dari peserta sidang, baik IPK sebelum sidang, sampe nilai sidang dan IPK setelahnya. Tibalah giliran gue. Di sebutkan nama, NIM, dan IPK sebelum. Nilai sidang gue 85,5 dengan predikat A. terus IPKnya 3.95 dengan predikat Cum laude. ALHAMDULILLAH …… gak pernah nyangka bisa dapetin itu. dan gak pernah berharap sebelumnya. Rada gak pede juga nerimanya, tapi gue tau, Allah selalu bales segala hal sesuai dengan usaha hambaNya.  Well, pada akhirnya Oktober 2014 dimulai dengan luar biasa. Subhanallah. Makasih YA Rabbi atas segala nikmat dan karunia. Akhirnya dapet gelar di belakang nama, S.I.Kom (

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rangkaian Mimpi

Rasanya surga melihat hamparan titik bercahaya di langit ketinggian bersamamu kelak. Menghirup nafas dari udara di ketinggian yang sama. Melihat mulut kita berasap karena dingin yang menusuk. Tubuh yang bergetar dingin namun hangat secara bersamaan. Kapan kita kesana ? seperti mimpi yang sudah kita rangkai bersama. Meski mungkin sebagian besarnya hanya terucap dalam hati yang berdoa. Sejenak Lupakanlah orang tuaku yang tidak pernah mengizinkan aku berpeluh dan mengeluh karena puncak disana yang masih jauh. Aku hanya ingin kesana, menikmati sentuhan Tuhan yang luar biasa, bersama kamu.

Atau jika gunung dan puncaknya menjadi kemungkinan kecil kita bersama, ajaklah aku bermain di teriknya pantai yang membuat ketagihan. Ketika hitam dan basah bukan lagi jadi halangan. Asal kita berdua tetap berpegang tangan menyusuri pantai dengan kerang atau kepiting kecil yang berjalan. Atau jika matahari menjadi alasan kemalasan, pergilah kesana di petang hari hingga malam. Saksikan jingga yang terbentang sebelum muncul bintang. Bunyi ombak yang bergulung besar lalu berbuih. Menatap jauh pada perahu nelayan yang mulai berangkat mencari ikan. Melihat daratan di seberang yang entah berpenghuni atau bermisteri. Bagaimana ? nampaknya mengasyikan.

Atau jika gunung dan pantai juga tidak memungkinkan, berkeliling perkotaan dengan segala kesibukannya juga tak masalah. Melalui kemacetan di atas motor putih kesayangan. Debu dan polusi menjadi kawan meski menjengkelkan. Nampaknya itu juga tak apa. Asal kita berdua saja.
Jika jalanan perkotaan terkesan sangat meletihkan, sekadar mampir ke mall yang sejuk ber-AC nampaknya lebih baik. Meski aku tak ber-uang, atau kamu yang belum jadwal gajian, toh para penjaga toko tak melarang jika kita hanya melirik atau menunjuk satu dua barangnya. Beli atau tidak itu urusan belakangan.

Ketika Gunung, pantai, jalanan perkotaan dan mall pun tak kunjung menjadi tujuan karena kesibukan, kita masih bisa bertemu di rumah kecil meski masih menyicil. Sekadar menyiram tanaman yang sejak dulu ku idamkan. Membersihkan halaman yang memang sudah kewajiban. Atau mungkin tidur- tiduran bermalasan. Meski cucian setumpuk, setrikaan menggunung, meja kursi berdebu, meja makan kosong tak beraroma. Asal kamu dan aku bahagia menghabiskan waktu bersama. Itu sederhana nampaknya. Tapi sangat berharga jika kita sudah sibuk pada urusannya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS