My Tweetie

https://twitter.com/OktaaZikriani

my facebook

http://www.facebook.com/okta.athena
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Pages

Kalau

Kalau kau tanya aku sedang apa,
Aku sedang rindu...

Kalau kau tanya aku ingin apa,
Aku ingin kamu ....

Kalau kau tanya aku kenapa,
Akan kujawab, Aku mungkin gila mencintaimu...

Dan kalau kau tanya, Aku bisa apa...
Aku bisa berdoa untukmu ...

Aa-ku yang puaaaliing mancung :p, IMISSU :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menjadi Wanita


Menjadi wanita itu bukan hal mudah. Aku tak ingin membicarakan bagaimana beratnya menjadi seorang istri, yang harus mengurusi diri sendiri dan suami, membagi uang gaji suami untuk keperluan satu bulan penuh, atau memikirkan bagaimana menjadi istri salehah serta memberikan keturunan yang shaleh atau shalehah juga untuk suami dan dua keluarga besar. Atau aku bukan akan membicarakan tentang beratnya perjuangan menjadi seorang ibu. Mengandung sembilan bulan, menyusui, mendidik, merawat dan mengelola perusahaan bernama rumah tangga sekian lama hingga ajal menjemputnya. Bukan.. bukan itu .. aku merasa belum pantas membahas dan menceriitakan tentang apa yang aku belum rasakan. Bahkan membayangkannya pun tak kuasa bertahan lama.
Ini adalah tentang bagaimana wanita mengelola perasaannya yang ‘katanya’ sensitif, mengelola pikirannya yang mudah sekali bercabang, mengelola firasat dan feelingnya yang katanya sering kali tajam dan benar. Untuk hal ini aku akan berbagi dari sisi dimana aku merasakan dan memandang diri ni sebagai seorang wanita. Wanita semi dewasa yang belum terlalu matang juga kiranya.
Seringkali wanita dihadapkan pada beragam peristiwa yang memberatkan hati dan pikirannya. Oke, untuk yang satu ini rasanya bukan hanya untuk wanita. Tapi dengan sensitif yang wanita punya, terkadang permasalahn yang simpel dan biasa, bisa menjadi luar biasa. Wanita sendiri ada beragam jenisnya. Ada wanita cantik, wanita manis, wanita baik, wanita mandiri, wanita karir, wanita muslimah, bahkan hingga wanita tunasusila. Tapi mereka semua dengan beragam kategori, karakter dan profesi, punya hati yang sama, yaitu hati wanita.
Pernahkah kamu melihat seorang wanita berdiri di hadapmu dengan mata sembab, pipi dan hidungnya memerah, dan penampilannya sedikit berantakan, bahkan ada tisu atau sapu tangan yang dikepalnya erat- erat hingga membuat efek kusut disana sini? Bisakah kau tebak apa yang terjadi padanya ? yak, paling ia habis menangis. Menangis karena apa ? ya entahlah, hanya ia, tuhan dan orang bersangkutan yang tahu. Pernahkan terlintas dipikiranmu, sebegitu mudahnya wanita melunturkan wajh cantik dan manisnya dengan tangisan. Apa yang membuatnya begitu rapuh hingga air mata tidak tertahan ? yaa.. kalau kamu wanita, tebak dan rasakan saja sendiri kenapa demikian adanya.

Ini versiku. Versi bayangan dan pengalaman ku. Aku introvert (sedikit), senang bergurau, senang serius tapi santai, tapi juga mudah stress dengan beragam macam persoalan yang datang. Jadi ya bisa ditebak bagaimana aku. Si perasa dengan segala pemikiran yang ada di kepala. Bagiku sulit menuangkan rasa yang sesungguhnya. Mungkin orang terdekatku seringkali kena semprot dengan ke-BETE-an dan kusutnya wajah, tanpa mereka pernah tahu aku kenapa bahkan sampai mereka lupa. Ada banyak sekali hal yang sering mengganggu perasaanku sebagai wanita, namun seringkali aku tak tahu itu apa. Uring- uringan, galau, gelisah, unmood dan sejenisnya menggelayut berat, tapi tidak terjawab penyebab pastinya. Susah ya jadi perempuan. Terlebih saat kamu ppunya pasangan. Perasaan aneh menjadi semakin aneh. Kadang kamu merasa cinta dan benci secara bersamaan pada lelaki yang dicintai. Perasaan itu cukup menyiksa bukan ? 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Antara Aa, Dilan dan Pidi Baiq


Hari ini gue abis ngebaca dan ngelahap buku “Dilan” karya Pidi Baiq. Padahal lembaran pertama baru aja dibuka tadi pagi persis hari dimana Aa pergi ninggalin gue buat diklat selama 2 bulan di luar kota (You know what i feel, lah). Nepi ka ayeuna ge abi mah anggeur we hoyong ceurik gogoleran. Masalahnya bukan karena ditinggalnya, bukan jaraknya yang jauh, tapi ga bisa komunikasi selama 2 bulan itu yang beurraaatt pisaan. Oke balik lagi ke Dilan-nya Pidi Baiq.
Entah, dulu pertama kali denger kata Pidi Baiq dari temen yang kuliah di Unis. Dan saat itu gue sama sekali gak tau Pidi Baiq itu seonggok apa. Manusia, atau benda lain yang gue gak tau dan gak pernah liat. Dia bilang lusa bakal ada seminar yang ngehadirin Pidi Baiq (dari sini gue baru tau kalo Pidi Baiq itu sejenis manusia, meskipun masih gak tau, manusia yang kayak apa..). temen gue itu berusaha ngejelasin kalo si sosok Pidi Baiq ini adalah penulis dan bla bla bla. Tapi gue masih gak mudeng dan ga peduli juga, karena belom pernah denger sedikitpun. Ga familiar di kuping , di mata, dan di memori. Dan akhirnya, perbincangan tentang Pid Baiq berlalu tanpa menambah informasi apapun buat gue.
Well, setelah beberapa lama dari perbincangan itu, gue denger nama itu lag dari si Aa. Dia bilang dia lagi baca buku Drunken Monster-nya Pidi (untuk kedua kalinya gue denger nama itu dan untuk kedua kalinya juga gue masih gak peduli). Si Aa sempet nanya, “kamu tau Pidi Baiq?” dan gue dengan enteng jawab, “iya pernah denger, tapi gak tau dia siapa. Penulis kalo gak salah”. Si Aa cerita tentang buku Drunken Monster yang dia baca, dia bilang lucu, bagus, dan nyaranin gue baca. Oke, one day gue akan baca, pikir gue waktu itu. Sampe akhirnya si Aa bawain buku itu ke rumah.
Pas gue liat bukunya, dari sampulnya aja udah aneh, ga begitu jelas ini genre apa, jenis buku apa, dan lain-lain. Belom ada niatan baca. Tapi setelah sehari terlewati, gue berubah pikiran, gue buka lembaran pertama, dan pada beberapa chapter kisah awal, gue belom jatuh cinta. Tapi pas udah mulai di bagian chapter Drunken Monster, gue baru nemuin ciri dan kelebihan ini buku dan penulisnya, si Surayah Pidi Baiq. Dia punya cara lain dalam menulis. Jujur, ga terpaku sama aturan, dan luwes. Dia ngejadiin buku dan tulisan itu jadi “dia banget” gak peduli sama buku kebanyakan yang rata- rata konservatif dan ikutin aturan EYD alias kaku. Wkwkwk. Well, si Surayah (dia di panggil surayah yang kata dasarnya di ambil dari “ayah” sama para fansnya di twitter, gue ngikut aja dah)berhasil bikin buku dan tulisan yang berbeda. Itu karakternya, hak paten punya dia, dan jujur, ini buku pertama yang gue baca dengan ide ngalor ngidul semau gue. Tema cerita gak penting lagi buat gue, cara dia mengemas cerita itu luar biasa. Ngena, ngangenin dan unik. Out of the box banget. Yang sederhana jadi spesial kalo kita ngasih bumbunya lain dari yang lain. Dan Surayah berhasiiillll bangeets di buku ini.
Sampe Aa ngenalin bukunya Surayah yang lain, yaitu “Dilan”. Ini jenis bukunya lebih jelas, novel remaja dengan cover warna biru- biru ga jelas gitu, dengan gambar seorang cowo pake seragam SMA plus motornya. Si Aa ngasih (minjemin sebenernya) malem tanggal 4 Agustus plus ama buku lain dengan penulis yang cukup terkenal juga (genre sama karakternya beda banget). Besoknya, pilihan pertama gue jatuh sama Dilan. Selain lebih tipis dari yang satunya, si Aa juga udah rekomendasiin ini novel, dan gue juga penasaran sama Pidi Baiq di Dilan, bakal kaya apa ini novel. So, tanpa pikir panjang, gue langsung baca besok paginya.
Lembar demi lembar novel ini bener- bener Pidi Baiq banget. Luwes, bebas, dan kreatif (pake banget deh). Novel ini berlatar Bandung tahun 1990-an dengan sosok Milea dan Dilan sebagai pemeran utama. Disini sudut pandangnya, surayah itu nyeritain dari sisi perempuannya, yaitu Milea. Dan Milea itu nyeritain tentang Dilan, si cowo SMA anak Geng motor yang dari deskripsinya sih ga ganteng-ganteng amat, tapi lumayan pinter dan populer (gara-gara nakalnya). Dia suka bawa motor ke sekolah, dan pada waktu itu jarang ada yang suka bawa motor. Si Milea sendiri pindahan dari Jakarta. Si Dilan ini memberi kesan pertama yang aneh buat Milea dengan sok- sokan jadi peramal dan tingkah lakunya yang aneh. Haha. Tapi akhirnya bikin si Milea penasaran dan jatuh cinta. Ah, gue gak mau jelasin gimana si Dilan bisa binin Milea jatuh cinta, tingkah aneh apa yang Dilan sering lakuin, gimana uniknya Dilan. Lo harus baca sendiri. Lo harus ngerasain rasanya jadi Milea yang jatuh cinta juga sama Dilan. Lo harus tau gimana Dilan bisa bikin lo dan hampir semua pembaca wanita jatuh cinta. Lo harus baca biar tau betapa pembaca pria diluar sana cemburu dan ngiri sama Dilan, atau malah ada yang mau ngikutin caranya Dilan memperlakukan wanita. tapi gue saranin, JANGAN!!! JANGAN!! Lo gak akan bisa kayak Dilan ! Cuma Dilan yang bisa gitu, Cuma Dilan yang boleh gitu ! Lo gak akan bisa !! GAK AKAN !! kalo lo- lo pada (ngomong ama cowo2 ganteng) baca novel ini, baca tentang Dilan, seganteng apapun elo, lo bakal minder, nyali lo bakal ciut, dan lo mungkin akan sujud- sujud sama Tuhan minta di dunia ini gak pernah ada Dilan (ya emang, wong Cuma novel, kecuali ini based on true story ya!). pasti pada bilang gue lebay. Pada nilai gue rempong. Yeeee... makanya baca dulu ! jangan songong luu.. (agak nyolot dikit. Dikit aja).

Ga butuh lama baca ni novel, tiap lembaran bikin nagih. Tiap lembaran bikin fallin love gaeess. Muach muach buat Dilan yang TOPPP BINGIIITTS. Makanya rada takjub gue bisa baca dalam sehari sajah. Hahahah. Edan, mau setebel novel populer Harry Potter juga gapapa dah, asal tentang Dilan (lebay lagi dan bodo amat). Setelah gue baca Dilan, gue jadi bingung, mau menjatuhkan cinta pada siapa. Aa yang selalu setia, sayang dan cinta sama gue, Dilan yang kece, romantis dan anti-mainstream, atau sama Surayah yang udah nyiptain Dilan yang akhirnya bikin gue jatuh cinta. Tapi lewat tulisan ini gue mau minta maaf sama Aa gue tersayang dan tercinta, maafin aku ya yank, aku berkhianat, aku jatuh cinta sama Dilan. Tapi aku gak mau kita putus. Tapi kalo ada Dilan, yaaa biar aku pikir- pikir dulu. OK

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS