My Tweetie

https://twitter.com/OktaaZikriani

my facebook

http://www.facebook.com/okta.athena
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Pages

MASA LALU




sumber by Google
Mengenang masa lalu memang indah. Terkadang ada seulas senyum bahkan tawa yang menyungging di bibir saat kenangan itu sekilas melintas dalam pikiran. Meskipun masa lalu sakit dan pahit, tapi yang manis mengalahkan semuanya. Yang bersisa hanya bahagia saja. Entah kenapa. Apa karena ia terlalu berharga, atau sempat berharga? Mungkin saja. Karena siapa yang menyangka, mendampingi pria selama kurang lebih 2 tahun, lalu kamu hanya mendapat pengkhianatan. Beberapa mimpi pernah dibangun dan diutarakan dengan indah, namun seketika luluh lantak diterpa kebohongan dan kesakitan. Oke, mungkin ini tak seberapa dibanding Ia yang ditinggal menikah dengan pasangannya, atau mungkin ketika pasangan yang dicintainya diambil Tuhan. Tapi sebagai manusia dan wanita, bukankah bersedih adalah manusiawi ?
Bersedih dan menangis kulakukan dalam beberapa hari pertama sejak peristiwa terjadi. Mata sembab menjadi kawan setia setiap hari. Sumpah serapah menghiasi bibir kala mata tak mampu membendung duka lewat airnya. Aku berdoa bahwa ia akan peroleh sakit serupa bahkan lebih dari yang kurasa. Benci dan jijik, tepat sekali kutujukan padanya saat itu. Enggan melihat sosoknya meski dari radius kilometer. Tapi apalah daya, wanita sepertiku terlalu lemah menahan rindu. Tangisan yang keluar adalah rindu. Sumpah serapah yang keluar juga karena rindu yang kutahu tak terbalaskan. Tuhan, inikah yang dinamakan cinta ? sakit yang diterima, tak mampu hancurkan rasa. Aku tersiksa, lantaran rasa cinta yang demikian besar rupanya.
Berselang waktu, kubiasakan semua tanpanya. Ibarat computer, aku tengah menginstall ulang semua program. Menjalani keseharian seperti 2 tahun lalu sebelum mengenal dan jatuh cinta. Berat memang. Tapi kupercaya, ini tak akan lama. Mencintai haruslah sakit. Anak muda harus rapuh, serapuh- rapuhnya. Jatuh sejatuh- jatuhnya. Tapi lekaslah bangkit. Lagi- lagi, bukanlah hal mudah. Satu bulan cukup? Tentu tidak. Dua bulan? Sama saja. Tiga bulan? Belum juga. Empat bulan? Tak jauh berbeda. Tapi akhirnya kutahu, bukan masalah waktu yang membawamu pada kebaikan. Akan tetapi dirimu sendiri. Yaa.. diriku obatnya. Sepuluh tahun sekalipun tak akan mengubah keadaan. Masa lalu tak kembali, dan masa depan tak membaik, jika yang ditunggu hanyalah waktu. Akhirnya kutemukan obatnya, yaitu MEMBUKA DIRI dan HATI. Sulit itu bukan berarti tak bisa. Hanya mungkin usaha yang harus lebih keras dari biasanya. Semangat yang harus lebih besar. Dan hati yang harus lebih lapang menerima.
Biar bagaimanapun, masa lalu memang indah. Bahkan tak jarang ada hasrat dan pengandaian “jika itu terulang”. Tapi percayalah, ruang dan waktu yang saat ini kau pijak adalah yang terbaik dan lebih baik dari masa lalu (yaa setidaknya aku juga terus berusaha belajar mempercayai keyakinan ini). Masa lalu hanya kepingan puzzle yang sudah terbuka dan terpasang sesuai tempatnya. Puzzle bernama masa lalu ini yang kemudian menuntun kita menemukan puzzle- puzzle selanjutnya sampai kita tahu menempatkannya dimana. Masa yang kini kita jalani adalah puzzle yang sudah kita temukan tapi terkadang masih ragu dimana menempatkannya. Sampai akhirnya kita menemukan masa dimana puzzle itu lengkap dan tersusun rapi membentuk sebuah gambar. Masa lalu itu indah (mungkin), tapi bukankah lebih indah masa kini dan yang akan datang? Dimana kita tertantang untuk membentuknya dan menyusunnya sesuai yang kita kehendaki.

Yaa masa lalu “jatuh cintaku” memang kelam sekaligus indah. Tapi lagi- lagi, berarti apa yang kutemukan di masa lalu bukan yang terbaik hingga ia harus tersisih dan tersingkir dengan sendirinya. Tapi aku juga percaya, Tuhan menuliskan scenario yang indah dalam film bernama kehidupan. Pertemuan dengan si A, B atau C , pastilah memiliki makna dan hikmahnya. Seindah- indahnya masa lalu, itu hanya masa lalu. Terulang pun tak mungkin, meskipun di masa kini serpihan masa lalu itu masih ada, pasti dengan goresan- goresan yang berbeda. Jadi, saat ini tugasku adalah menikmati masa ke-kini-anku. Yang kuyakini akan jauh lebih indah dari yang lalu. Hmm.. tapi terima kasih pada masa lalu, karenamu kini kutemukan “puzzle” baru yang akan menuntunku pada masa yang lebih baik. J

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PENDAKI


Ga peduli betapapun nanti akan sering ditinggal naik gunung. Ga peduli akan ditinggal dan ga bisa komunikasi sekian lama. Yang penting kamu balik lagi kesini. Bawa lagi semua yang kamu bawa pergi, terutama keselamatan dan senyum kamu.
Katanya, menikah dengan pendaki gunung itu akan bahagia. Karena dia orang yang setia, tangguh dan bertanggung jawab. Tapi entah aku ga peduli poin- poin itu. Aku kenal kamu sudah lebih lama dan lebih dulu dari gunung- gunung tinggi itu. Lebih lama dari akar- akar tanaman yang kamu injak di atas sana. Aku kenal kamu jauh sebelum kamu menamai dirimu “pendaki”. Buat aku, pendaki atau bukan, kamu tetap orang yang dulu aku tahu. Pendaki atau bukan, ga ngaruh sama “setia” yang kamu punya. Pendaki atau bukan, aku yakin kamu akan bertanggung jawab. Anggaplah gunung dan kawan- kawannya itu media dan saluran, yang kemudian semakin membentuk watak- watak terbaik yang kamu punya.
Aku juga ga akan peduli betapa kamu lebih mencinta gunung daripada aku. Toh secintanya kamu sama gunung, kamu akan tetap turun dan pulang ke ‘rumah’ kita. Aku juga ga peduli betapa kamu lebih sering pasang foto pendakian kamu ketimbang foto kita berdua di BBM atau medsos manapun, toh kamu lebih banyak menghabiskan waktu sama aku ketimbang gunung itu.
maaf yaa nyolong fotonya :p
Terlalu kekanakan buat cemburu sama hobi dan kegemaran kamu, tapi kadang aku pikir cemburu itu perlu. Supaya kamu tahu, kalo ada yang nunggu kamu dan butuh kamu selain ego-mu.  Pulanglah segera, kemanapun kamu pergi, ingat rumahmu disini. Gunung manapun yang kamu daki, ingatlah hatimu tertinggal disini.  Yang pasti, selalu dan tetaplah berhati- hati. Mendaki bukan hanya sebatas tadabur alam, menyalurkan hobi, serta menyenangkan diri. Harus ingat ya, kembali pulang dengan “selamat”, “utuh” dan “baik-baik saja” harus dijadikan tujuan juga. Karena semua orang yang menyayangimu tengah rindu dan menunggu J


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Trip To Pulo Merak (Tamat)


Hari itu kalo ga salah Rabu, tanggal 30 April 2014. Gue berempat sama temen- temen ceritanya pengen refreshing (kecil-kecilan). Ngedadak banget. Yaa as usual, yang dadakan emang lebih gede kemungkinannya untuk jadi ketimbang yang banyak perencanaan dan kompromi. Kita (gue sama Yani) baru ngerencanain berangkat itu malemnya (berarti tanggal 29 April). Dari sore udah ada obrolan pengen ke kampus sama doi, tapi kok kayanya males banget ke kampus dan Cuma gitu- gitu doank terus balik lagi ke rumah. Betapaaa membosankannya.
Terus ngobrol ama doi buat jalan kemana gitu (kali ini ga terbesit sedikitpun pengen ke mall atau yang berbau modernitas *halah*). Nah tanpa diprediksi, ini tangan gerak gitu aja buat ngehubungin salah seorang temen, Chiko namanya. Kebetulan ini anak suka jalan dan ngalor ngidul, plus doi rumahnya di Merak yang deket sama nuansa laut dan pantai gitu. Jadi gue pikir doi pasti punya rekomendasi (meskipun ujung-ujungnya gue juga yang nyebutin nama tempatnya). Gue nanya satu tempat yang gue pernah denger, PULO MERAK. Selain nyari yang nuansa alam, kita (gue dan Yani) nyari yang murah meriah akakak. Ya dadakan juga gitu. Moso lelaguan mau cari yang mahal. Kantong mahasiswa pula. Pas gue Tanya Chiko perihal pulo Merak, doi setuju dan menawarkan diri buat nganter. Dengan senang hati lah ya dapet guide gretongan haha.
Gue berusaha ngehubungin Yani lagi buat nanyain persetujuan dia ke pulo Merak. Seperti biasa, dia setuju (emang Cuma Yani yang lebih sering setuju kalo diajak jalan kemana- mana). Terus gue nyoba hubungin temen- temen yang lain biar jalannya ramean. Sebenernya perjalanan kali ini gue persembahkan untuk Maya, sohib gue yang udah lama ngerengek- rengek pengen refreshing. Tapi ternyataaah sodara- sodara, Maya dengan gamang dan galau menjawab TIDAK karena doi mau ke Bandung (tepatnya Cipendeuy di Cimahi) buat pulang kampong sama mamake. Dengan sedikit patah hati, gue nerimo alesan dia. Padahal gue tau, dia mau banget jalan-jalan. Haha. Makanya dia minta, “nanti rencanain jalan-jalan lagi yaa” akakaka. Kasian tu anak. Kartika alias mba Mawar juga ga bisa, karena doi mau ngajar renang sorenya (doi atlet renang cuy). Tadinya mau ikut, tapi Cuma bisa sampe siang (mana asik cuy kalo jalan diburu-buru). Lulu si imut juga ga mau ikut. Gue lupa alesannya apa. Begitu juga Silvi yang waktu itu lagi ada tugas dari BKKBN kalo ga salah (nyang ini Duta Mahasiswa GenRe BKKBN 2012 delegasi Banten) jadi si ibu Negara ini sibuk. Yasutralah, hanya gue dan Yani si duo Libra yang kemungkinan besar melanjutkan misi perjalanan ini.
Tetep dengan aura patah hati, gue dan Yani berkompromi lagi. Terus kepikiran untuk minta Chiko ajak temen- temen kelas yang lain. Chiko bilang dia juga udah ajak beberapa. Kaya Ewok, Ipul dan Obos. Ewok mengiyakan (meskipun proses komprominya agak lama ama doi), Ipul kepingin tapi mesti masuk kuliah jam 10, dan Obos selalu excited sampe nginep di rumah Chiko malemnya. Haha. Alhasil teteplah kita pada perencanaan awal buat ke Pulo Merak meski tanpa Maya, Tika, Silvi dan Lulu. berarti yang jalan Cuma gue,Yani, Chiko, Obos dan Ewok. Dengan persiapan alakadarnya. Eh tapi, malemnya sekitar jam 10-an, Yani bbm dengan kabar mengejutkan bahwa dia ga diizinin sama mamake. Uwooohh semakin patah hati lah gue. Harepan gue buat refreshing bisa gagal total. Soalnya kalo gak ada temen cewenya, mana mau gue berangkat olangan-___-. Yaudah eh , gue tidur dengan hati yang agak kesel dan keputusan jalan besok masih menggantung. Eh tapi Paginya, sekitar jam setengah enam, Yani bbm lagi, dia bilang, ayolah kita cuss. Gue langsung sumringah dan siap- siap. Terus gue juga langsung ngabarin Chiko kalo kita jadi berangkat. Supaya doi juga siap- siap.
Kita rencananya jam 9 kumpul di polsek Merak dan langsung berangkat nyeberang ke Pulo Merak. Tapi berhubung si Yani ngabarin baru jam setengah 6, dan gue siap- siap dulu, gue baru jalan sekitar jam 7 dari rumah di Tangerang. Estimasi kesiangan udah ada di pikiran. Akhirnya bener aja, sampe Serang aja sekitar jam 9-an lewat dan Yani udah standby di masjid kampus. Soale gue bilang kita solat Dhuha dulu. Setelah solat dan dandan kece, kita langsung cuss Merak naik bus Arimbi (kalo ga salah). Duduk di kursi yang sedikit ke belakang. Dengan ongkos 5 ribu rupiah, si abang Arimbi nganterin kita ke Merak dari Serang via tol Merak.
Perjalanan Serang- Merak itu sekitar 1 jam (soalnya bus suka ngetem lagi). Si Chiko nyuruh kita turun di depan Polsek Merak (gue aja gak tau itu sebelah mana dan minta tolong aja sama mamang keneknya buat turunin kita disitu). Akhirnya gue sama Yani sampe di polsek Merak sekitar jam 10-an lewat. Itupun sebelum turun sempet ada kejadian yang bikin gak nyaman di bus. Masa si mamang kenek godain eyke,cyiin. Ahsyudahlah.
Taraaaa pas turun kita disambut matahari Merak yang mencrang ga jelas bikin mata sakit. Seperti biasa, emang gitu deh Merak mah. Terakhir ke Merak beberapa bulan lalu, ya masih aja kaya gitu, ngebul, berdebu dan puanaase puoll. Tambah lagi si Chiko dkk belom nongol, sampe gue mesti nelepon doi dulu. Agak kesyeeell. Sekitar 15 menit kemudian, Chiko dan Obos nongol dengan 2 motor berbeda. Tanpa lama- lama gue langsung naik di motor Chiko dan Yani di motor Obos. Kita menuju lokasi penyeberangan (padahal gak jauh dari polsek Merak, sebelahan doank, Cuma agak masuk ke dalem). Sampe di lokasi, ada seorang nelayan yang nawarin jasa nyeberang ke Pulo Merak. Bang Asep namanya. Gue serahin Bang Asep sama Chiko, supaya mereka saling mengenal dan negosiasi. Akhirnya gak makan waktu lama, Bang Asep siap- siap mau nyeberangin kita ke Pulo pake perahu nelayannya. Kata Chiko bayarnya cukup 20 ribu aja masing- masing orang buat jasa antar pergi dan pulang. Gue dan Yani sudah menunjukkan wajah berseri- seri. Haha.
Jalan sedikit ke bagan di pinggiran, kita langsung di sambut perahunya Bang Asep (Kok kita Cuma berempat ? yaa kata Chiko, motor si Ewok mati total, jadi mesti ke bengkel. Alhasil, kita Cuma berempat). Terus kita langsung aja naik perahu Bang Asep yang agak goyang- goyang. Setelah ambil posisi dan duduk rapi, Bang Asep nyalain mesin perahunya dan drek dek drek dek.. perahu mulai jalan. Pulo Merak, we’re comiiinnnnnn :D
Awal perjalanan masih enjoy sob. Semua masih kerasa asik. Nah pas mulai ke tengah dikit, goyangan perahu makin dahsyat. Gue yang duduk sebelahan ama Yani, mulai agak panic. Masalahnya ini first experience nyeberang pake perahu nelayan yang guncangannya kaya gitu. Haha. Sementara Chiko sibuk ngobrol sama Bang Asep dan Obos sambil ngedokumentasiin tingkah gue ama Yani pake kamera barunya. Ah masa bodo sama mereka, yang penting gue ama Yani ga kenapa- kenapa di perahu ini. Berasa mau jatoh ke laut pas perahunya goyang heboh. Gue Cuma bisa komat kamit berharap Allah masih baik ngasih gue umur panjang dan matinya ga di laut begitu dan jadi makanan ikan-ikan kecil. Begitu juga Yani. (sekarang dia kapok, katanya gak mau nyeberang lagi kalo gak pake pelampung). Emang rada serem sih. Haha. Padahal nyeberang juga gak sampe 10 menit. Deket banget dari pelabuhan tadi.
Akhirnya kisaran 10 menitan perahu menepi di pulo Merak. Kita turun dan siap- siap menjamah pulau yang cukup sepi ini. Pas kita nyeberang, di pulau ini udah ada 4 orang pemancing yang lagi sibuk ama kailnya.Agak sedikit kecewa sih, soalnya berharap ini pulau sepi tak bertuan dan kita bebas guling- gulingan dan ambil foto disebelah mana aja tanpa ada gangguan pemandangan. But, yaudahlah ya. Emang lo kata pulau pribadi. So, let’s enjoy the moment at Pulo Merak . Yippiiiiiiiiii.
Sampe sekitar jam setengah sebelas di lokasi, kita yang baru aja turun dari perahu masih berusaha beradaptasi sama tempat yang baru dipijak ini. Masih sibuk liat kanan kiri. Ternyata penghuni pulau ini adalah monyet- monyet gerombolan yang suka ngambilin makanan pengunjung. Yaa kebanyakan dari pengunjung menyisakan makanan mereka supaya bisa dinikmati juga sama monyet- monyet disini. Berhubung gue bukan tipikal pecinta binatang, jadi ya gue ga sibuk mengamati mereka atau mungkin takjub kaya pengunjung kebanyakan. I think it’s just ordinary. Cuma monyet gitu loh (padahal mungkin ini karena ada rasa traumatic sendiri sama monyet. Karena dulu gue pernah dijambak monyet waktu lewatin kandangnya di rumah temen nyokap. Nangis lah ya gue, mana masih kecil juga broh).  
Disana gue dan kawan- kawan yang Cuma empat biji ini sibuk main apa aja yang bisa dimainin. Gue ama Yani main pasir dan air, obos mainin kameranya Chiko, dan Chiko sibuk main hati *eh salah (curhat dikit)*. Sebenernya pantai, ombak, air, pasir itu bukan hal yang asing dan menakjubkan lagi buat gue. Tapi lumayan lah bikin otak sedikit refresh pasca sidang outline Senin kemarinnya tanggal 28 April. Satu yang gue gak pernah suka dari pantai adalah, PANAS. Kulit gue gampang banget gosong dan menghitam, dan akan lama putihnya kalo kena paparan matahari langsung. Itu faktor utama kenapa ga begitu suka matahari pantai, eits kecuali pagi dan sore.
Setelah sibuk main- main dan foto- foto (nanti ditunjukkin beberapa foto disana), kita agak sedikit cape dan kepanasan, mulai minggir ke bagian yang aman dari paparan matahari tengah hari bolong di pulau kecil itu. Di kerang-kerangan yang numpuk di pinggiran, kita duduk sambil ngobrol- ngobrol dan ngemil makanan yang kita bawa dari daratan di seberang sana. Banyak yang kita obrolin, mayoritas bercandaan sih. Sampe akhirnya Chiko mengajukan permainan, yaitu plesetan kata. Kita diminta menyebutkan sebuah kalimat yang satu kata di dalamnya itu diplesetin dan temen kita yang sebelah harus menebak kata itu dan biki plesetan baru dari kata yang dia tebak. Yang ga bisa nyebutin, akan dikasih pertanyaan dari masing- masing orang dan harus di jawab jujur. Obos, paling lama dalam menjawab. Entah kelamaan mikir atau entah karena ga bisa mikir haha (just a joke Bos :p). Hmm , tapi skip aja kali ya detail pertanyaannya buat yang kalah, udah lupa juga si gue.
taken by tripod hahah


Dari seberang pulau kita denger suara Adzan Dzuhur berkumandang. Kita memutuskan untuk menunggu sampe jam 1 baru di jemput sama Kang Asep. Kita masih sibuk sama permainan yang entah mau dibawa kemana nanti. Entahlah, kali itu momentnya enak banget buat tidur, angin makin sepoy sepoy, plus matahari ga ngenain kulit dan mata secara langsung. Pengen tiduran tapi ga mungkin. Oya, satu yang gue lupa sampein di atas tadi, di Pulo ini juga ada makam seorang ulama (kalo ga salah, soalnya bacaannya pake kaligrafi, mana ngerti gue). Tapi buat kesana mesti naikin anak tangga yang lumayan banyak. Agak males juga mesti naik- naik kesana. Sayangnya juga, kita ga muterin itu pulau. Cuma stay di satu pojokan karena “malas” hahaha.
cantik yaa modelnya :p
Jam 1 tiba, dari kejauhan kita liat Kang Asep dengan perahu nelayannya dating menjemput. Kita rapiin barang- barang yang kita bawa, plus berusaha sebersih mungkin dan gak meninggalkan sampah disana. Kalo kita pengen tempat yang indah- indah, tapi pas udah disana kita kotorin sama sampah yang kita bawa, egois banget gak sih kaya gitu? Huh. Gue harap kalian engga gitu dan ga akan kayak gitu ya guys. Terus kita jalan ke pinggir siap- siap buat nyeberang lagi ke tempat semula karena Kang Asep sudah mendekat. Perahu akhirnya datang dan Hup Hup.. kita naik ke perahu dan duduk ambil posisi. Siap- siap guncangan lagi broh ,,sist (kali ini gue baru ‘ngeh kenapa itu perahu goyang- goyang, dan cenderung ke kiri. OBOS! Ya karena OBOS. Ini perahu kelebihan muatan.hahahahah. maapin lagi yaa boss. Becandaan kok :p). dan bener aja, perahu goyang dahsyat kaya pas kita berangkat. Memacu adrenalin boo. Lumayan lah daripada mahal ke dufan buat naik kora-kora.
Setelah menempuh perjalanan 10 menitan, akhirnya kita sampe lagi di daratan, tempat dimana kita memarkir motor. Kebetulan ada mushola, maka kita mutusin buat solat dzuhur dulu. Setelah selesai solat dan membayar jasa Kang Asep tadi, kita mutusin untuk ke pantai Kelapa 7 yang letaknya ga begitu jauh, ya sekitar 15 menitan perjalanan lah. Soalnya jalanan rusak berdebu boo. Jangan lupa masker dan helm deh kalo kesini. Niatnya kita mau cari makan siang sama minum es kelapa muda disana. Gue yang naik motor di bonceng Chiko tanpa helm mulai kucek- kucek mata akibat kelilipan debu. Sepanjang jalan kita kebanyakan diem. Sekalinya ngobrol, ngomongin skripsi. (Heloooo Chiko, lagi pengen istirahat nih, ga usah bahas skripsi kenapaahh!).  kalo inget pantai kelapa 7, ada memori disana. Sekarang Cuma bisa ngenang dan cengar- cengir sendiri kalo keingetan. Tapi udah berusaha buat gak diinget- inget sih. (masyaaa laluuu).
Sampailah kita di Pantai Kelapa 7 (dulu ada bacaannya, “BUKAN TEMPAT WISATA”, gatau deh tuh kemana bacaannya sekarang). Pantai ini emang belum cocok dibilang pantai wisata, soalnya masih bener- bener belum terawatt. Meskipun udah ada pengunjung, tapi dari segi fasilitas masih sangat minim. Sampah juga lumayan banyak. Tapi disini udah ada tempat- tempat orang berjualan. Makanya kita makan disitu. Setelah makan siang (waktu itu menu yang gue pilih adalah ketoprak, begitu juga Yani sama Chiko. Kalo Obos, gue lupa dia mesen apa) kita mutusin untuk jalan- jalan aja sepanjang pantai. Lumayan lah sambil main air dan pasir lagi. Waktu itu udah agak sore sekitar jam setengah 3-an. Matahari msih panas tapi udah mulai turun sedikit. Perjalanan kali itu cukup lah bikin gue santai dan terhibur. Terus abis makan yang padahal porsinya lumayan banyak, gue kepengen minum es kelapa muda, begitu juga yang lain. Cuma berhubung kenyang, jadi kita mutusin buat sebatok berdua (apa ya istilahnya kalo satu kelapa berdua?? ). Bercandaan dan ngobrol- ngobrol ga jelas selama disana. Meskipun Cuma berempat, tapi seru lah. Hmmm.. mudah- mudahan silaturrahiim masih tetep terjalin meskipun kita udah pada pisah. Aamiin.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 4. Masjid yang ada di seberang pantai udah mengumandangkan Adzan Ashar. Setelah solat ashar di masjid yang enak itu (masjidnya ada ACnya, dan bersih pula), kita bertolak untuk pulang, eh maksudnya ke rumah Chiko yang gak jauh juga dari situ. Karena gue mau minta foto-foto yang diambil pas di Pulo Merak dan Pantai Kelapa 7 tadi. Kalo nunggu nanti- nanti, susah lagi ketemunya. Kita udah jarang ketemu kalo di kampus soalnya. Kita gak lama di rumah Chiko, sekitar jam 5an kita udah pulang. Berhubung gue pulangnya jauh ke Tangerang, jadi mau gak mau mesti pulang secepatnya takut kemaleman. Yaa meskipun bener aja, sampe rumah jam 10an lewat. Untung Bonyok gak marah. Hehe. Sekian perjalanan ke Pulo Merak dan pantai kelapa 7. Mudah- mudahan masih dikasih kesempatan bertadabur alam di bumi ini. Masih dikasih sehat sama Allah. Aamiin. ~THE END~ 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jejaring Sosial Sebagai Intrik Politik


Politik merupakan suatu bidang dimana segelintir orang memiliki tujuan dan keinginannya sendiri. Masyarakat awam pada umumnya menilai politik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pemerintahan dan penguasa. Namun sebenarnya politik itu tidak terpaku pada hal tersebut, melainkan juga tentang cara atau strategi meraih sesuatu yang kita inginkan.
Politik terkadang menjadi kata yang mengerikan bagi beberapa orang yang traumatis terhadap kekalahan. Namun tidak sesederhana itu memang. Politik yang masyarakat dan kita pahami memang adalah politik yang berkaitan dengan pemerintahan. Dimana adanya perebutan kekuasaan, pergantian, kebijakan, monopoli bahkan mungkin manipulasi. Maka terkadang muncul berbagai spekulasi bahwa politik itu menyengsarakan dan menumbalkan rakyat untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Padahal seharusnya politik menjadi sarana dan wadah dimana rakyat bisa bebas bersandar mengeluhkan berbagai kesukaran bahkan meminta pertolongan dengan kebijakan yang memihak mereka. Namun fakta tak selamanya indah.
Menanggapi kehidupan politik yang memanas, opini public meluas dan juga turut memanas. Banyak orang yang terlibat pembicaraan tentang politik. Hal ini memancing juga opini public yang muncul di jejaring sosial. Muncul berbagai akun di jejaring sosial yang menjadi trend pembicaraan dan pembahasan politik. Terutama yang kita kenal adalah Triomacan2000.
Akun twitter yang satu ini selalu memberikan kultwit tentang tokoh- tokoh politik serta pemberitaan politik lainnya yang cukup controversial dan frontal. Banyak pihak dan pengonsumsi media yang terbantu dengan adanya akun social media seperti ini. Karena membantu memberikan bahan referensi dan pertimbangan mana yang baik dan tidak untuk menduduki kursi politik.
Segala sesuatu yang kontroversi pasti menuai pro dan kontra. Yang setuju dengan akun- akun seperti ini pasti merasa admin dari akun tersebut adalah sosok yang independen dan ingin memberikan pencerahan kepada masyarakat luas dengan mengungkap kebenaran berkenaan dengan dunia politik yang digandrungi. Dan denga adanya akun seperti Triomacan2000 itu, masyarakat jadi bisa mempertimbangkan matang- matang siapa yang nantinya mampu menjalankan kekuasaan yang bersih.
Berbeda dengan kontra, mereka menganggap bahwa akun- akun seperti itu pasti memiliki tunggangan kepentingan sendiri. Mereka tidak independen dan tidak bisa dipercayai dan dipegang begitu saja statementnya. Biar bagaimanapun, seperti yang sudah dijelaskan tadi bahwa, yang namanya politik adalah berbicara tentang kepentingan dan cara. Jadi siapapun tidak bisa kita percayai 100% dalam dunia politik. Maka dari itu jangan telan mentah- mentah apa yang ada di media apalagi jejaring sosial berkenaan dengan pemberitaan politik yang sifatnya masih opini dan belum akurat. Jangan hanya menuntut mereka- mereka memberikan pemberitaan yang benar, namun kita sebagai pengonsumsi harus pandai mencerna pesan dan makna dari media itu sendiri.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perlukah Mengenalkan Seks Sejak Dini ?


Kata seks sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Bahkan hal tersebut telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan atas hidup kita. Seks adalah pembagian jenis kelamin yang secara biologis dan melekat pada jenis kelamin tertentu. Oleh karena itu, konsep jenis kelamin digunakan untuk membedakan laki-laki dan perempuan berdasarkan unsure biologis dan anatomi tubuh (Tuttle, Lisa, Ensyclopedia of Feminism, 1986). Misalnya, laki-laki memiliki penis, testis, jakun, memproduksi sperma dan cir-ciri biologis lainnya yang berbeda dengan biologis perempuan. Sementara perempuan mempunyai alat reproduksi seperti rahim, dan saluran-saluran untuk melahirkan, memproduksi telur (indung telur), vagina, mempunyai payudara dan air susu dan alat biologis perempuan lainnya sehingga bias haid, hamil dan menyusui atau yang disebut dengan fungsi reproduksi. Namun bagaimana jika seks itu kita kenalkan pada anak- anak usia dini ?
Pengenalan akan seks yang dilakukan pada anak usia dini katanya bukanlah berkenaan dengan bagaimana proses itu dilakukan, melainkan bagaimana sang anak paham akan makna seks itu sendiri, apa yang boleh dilakukan, apa yang menjadi batasan wajar untuk hal yang berbau seks, dll. Alasannya, sex education ini dipersembahkan untuk anak- anak sejak usia dini agar terhindar dari hal- hal negative tentang seks. Namun ternyata, lagi lagi masyarakat berpikir kritis. Banyak yang sepaham dan banyak juga yang tidak sepaham dengan system pendidikan yang satu ini.
Mereka- mereka yang sepaham mengungkapkan bahwa pengenalan seks pada usia dini mampu menjadi pondasi pengetahuan dan ilmu bagi generasi penerus bangsa akan makna seks itu sendiri. Terlebih lagi dengan segala kemajuan teknologi yang makin memudahkan informasi masuk secara mudah dan cepat, tak terkecuali perihal seks. Pengetahuan tentang seks yang salah akan mempengaruhi pola pikir dan masa depan dari anak- anak. Maka dari itu pengenalan akan seks atau sex education  setidaknya akan memberikan bekal bagi mereka untuk mengelola pola pikir mereka tentang seks, keuntungan dan kerugiannya, dll.
Namun bertolak belakang dari mereka yang kontra terhadap pendidikan seks menilai bahwa pendidikan seks sejak dini terbilang tabu, tidak penting dan sia- sia. Mengapa tabu ? hal ini adalah hal yang sensitive bagi sebagian besar orang, apalagi jika dibahas dalam ruang lingkup yang tidak privasi. Mengapa tidak penting ? justru pendidikan seks pada usia dini ini akan menjadi batu loncatan bagi mereka- mereka yang mempunyai keinginan ‘mencoba’. Malah bukan hanya tidak penting, melainkan juga akan berdampak buruk jika tidak tepat sasaran dan salah dalam penyampaian. Terblang sia- sia karena sudah banyak lembaga kependudukan yang mendapatkan hasil buruk dari penghitungan mereka atas praktek aborsi,remaja wanita yang hilang keperawanannya, seks bebas dan sebagainya. Jadi mereka beranggapan bahwa buat apa ada pendidikan seks kalau ternyata hasilnya tetap mengenaskan bagi kehidupan sosial kita.
Namun disamping itu perlu digarisbawahi bahwa pendidikan seks atau pengenalan seks pada usia dini tidak hanya dilakukan di sekolah formal. Orang tua sebagai agen sosialisasi primer bisa menjadi wadah dimana seorang anak belajar tentang hal tersebut. Ditambah lagi dengan penanaman nilai dan norma, moralitas serta nilai keimanan akan membentengi juga menambah kokoh pendidikan akan seks.

Dan sebenarnya pendidikan akan seks bukanlah pendidikan yang terus dan melulu berkenaan dengan ‘hubungan seks’, melainkan kita sudah mendapatinya dalam pelajaran Biologi ketika memasuki bab anatomi dan reproduksi. Jadi perlu dikaji lagi bagaimana pendidikan dan pengenalan seks yang sesungguhnya. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PKS ohhh PKS (Latepost)


 “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kalian. Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul (Nya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” An-Nisa’ [4] : 59
Potongan ayat al- Quran diatas menjelaskan pada kita bahwa kepatuhan kepada Allah , rasul dan ulil amri (pemerintah) adalah sebuah kewajiban ! tetapi bagaimana dengan ulil amri yang lalim dan dzalim ?
Awesome !! setelah mengumpulkan tugas wawancara anggota dewan pada Dosen pengampu, ternyata tugas tidak berhenti sampai disana. Saya bersama kawan- kawan dikelas diminta membuat lagi 10 paper artikel kami berkenaan dengan tema masing- masing. Dan Pak Dosen meminta saya membuat paper dengan tema “kelembagaan”. Namun paper kali ini merupakan langkah lanjutan dari tugas yang baru saja kami kumpulkan. Jadi tema apa yang kami dapatkan sekarang, harus memiliki keterkaitan substansi dengan tema sebelumnya.
Flash back pada prosesi wawancara yang ketika itu saya lakukan dengan Pak Mohamad Tahyar, ketua Fraksi PKS dan anggota Komisi II  DPRD Cilegon, memberikan kesan tersendiri dan meninggalkan pesan tersembunyi. Hmm, memang terkesan berlebihan. Namun rasanya memang itu pesan yang tersirat. Banyak yang mampu saya duga dan simpulkan sendiri. Meskipun saya tahu bahwa kesimpulan yang tercipta di otak dan benak saya belum tentu benar. Namun saya pikir, tidak ada yang salah untuk sebuah pendapat bukan ? J
DPR atau DPRD adalah tempat yang berisikan para wakil rakyat (yang katanya) adalah panjang tangan dari masyarakat untuk menyampaikan segala aspirasi, keluhan dan perlindungan dari kebijakan yang merugikan mereka. DPRD merupakan suatu lembaga legislative yang menjadi tempat bernaungnya masyarakat yang membutuhkan penyambung lidah kepada pemerintah. Menjadi anggota dewan juga bukan hal yang mudah, mengingat harus banyak yang dikorbankan, banyak yang diperjuangkan, banyak yang harus diurus dengan sebegitu banyak prioritas, terlebih lagi banyak sekali godaan dan ujian. Baik internal maupun eksternal. Setidaknya ini menjadi bahan pertimbangan sebelum mencalonkan diri.
DPRD juga terdiri dari banyak fraksi yang bernaung di dalamnya. Berapa banyaknya ? ya tergantung. Contohnya saja di DPRD Cilegon terdiri dari 7 Fraksi dari partai yang lumayan besar, yakni. PKS, Golkar, PDI-P, PPP, Demokrat, PAN, PKB dan BKN. Saya pikir menggabungkan ketujuh partai yang pastinya punya ideology sendiri serta memiliki otoritas sendiri merupakan hal yang tidak mudah. Apalagi jika tengah menghadapai permusyawarahan untuk penyelesaian sebuah masalah, pasti akan lebih rumit menyatukan berbagai perbedaan pemikiran dan interpretasi menjadi sebuah consensus demi kepentingan rakyat bersama. Namun saya enggan membahas
Seperti yang sudah saya ceritakan panjang lebar pada synopsis di lembar EKT 2, DPRD Cilegon menyimpan banyak misteri. Dari mulai bangunan, orang- orang yang ada di dalamnya, hingga bagaimana system yang dikelola disana. Tempo hari saya mebaca sebuah berita berkenaan dengan kasus keterlibatan korupsi tentang Kubangsari. Padahal masih terekam di memori saya ketika Pak Tahyar berkata bahwa, “Tidak ada yang bisa dikorupsi oleh angota dewan di daerah, karena jatah keuangan itu haya 0,10% dari keseluruhan dana yang ada. Pemegang kendali itu adanya di pusat. Maka bisa jadi jika pusat melakukan korupsi itu karena mereka memiliki banyak peluang. Sedangkan kami ? perlu dipertanyakan uang mana yang dikorupsinya ? karena kami minim sumber dana”. Apa yang dikatakan beliau bertolak belakang dari kenyataan yang terjadi. KPK tidak mungkin mensinyalir adanya kegiatan korupsi jika tidak ada kegiatan yang mencurigakan di dalamnya. Padahal memang pada dasarnya korupsi bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja. Contohnya saja kita sering terlambat dalam menghadiri acara, apakah itu tidak bisa disebut dengan korupsi waktu ? hmmm… begitupun saya menginterpretasikan bahwa apalagi di DPRD yang meskipun tidak mendapat banyak dana, tapi kan banyak proyek yang bisa ditangani dan mungkin saja dimanfaatkan oknum.
Saya juga pernah membaca berita yang dilansir salah satu pemberitaan di media online, DPRD Cilegon menganggarkan sebesar Rp 161 juta untuk pembuatan pakaian anggota Dewan. Tiap anggota Dewan nantinya bakal mendapatkan empat setel baju yakni Pakaian Dinas Lengkap (PDL), Pakaian Dinas Harian (PDH), Pakaian Sipil Resmi (PSR), dan Pakaian Sipil Harian (PSR). Bukan jumlah yang sedikit untuk kategori pakaian. Meskipun sudah masuk kedalam anggaran kesekretariatan, namun bukankah alangkah lebih baik jika diminimalisir?
Ada lagi terkait pemberitaan DPRD Cilegon yang menganggarkan dana tunjangan perumahan yang naik dari Rp.7jt/ bulan menjadi Rp.10jt. Selain itu juga mereka memfasilitasi ketujuh fraksi yang ada disana dengan satu unit kendaraan operasional. Ternyata pemborosan selalu terjadi dimana- mana baik pusat maupun daerah. Padahal buat apa itu dianggarkan ? toh kinerja mereka belum dirasakan maksimal.
Berdasarkan wawancara saya dengan ketua Fraksi Partai PKS, masih terekam baik di memori saya,  beliau mengatakan bahwa memang anggota dewan memiliki anggaran tersendiri dan sudah ada Undang- Undang yang mengatur yakni PP no. 24 Tahun 2004. Baik anggaran rumah, pemeliharaan sekaligus perlengkapannya, tunjangan kesehatan, uang representasi, dan lainnya. Cukup banyak dari dana pembelanjaan daerah yang teralokasikan untuk kegiatan penunjang anggota dewan. Meskipun beberapa anggota dewan tetap menganggap bahwa mereka termarginalkan, namun setidaknya mereka tidak seperti rakyatnya yang berada di kolong jembatan, bukan ?
Di DPRD Cilegon seperti yang saya sebutkan terdapat 7 fraksi yang mengisi kekosongan kursi- kursi ruang rapat paripurna. Salah satu diantaranya adalah PKS. Partai Keadilan Sejahtera atau lebih akrab disapa dengan PKS adalah partai yang tidak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia apalagi dengan usianya yang kurang lebih 10 tahun di kancah perpolitikan. Bukan usia yang terlalu muda untuk mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Apalagi Partai satu ini berbasiskan Islam, dan notabene Penghuni Islam di Indonesia lebih banyak daripada yang lainnya. Terlebih lagi dengan menjamurnya partai- partai sekuler di Indonesia, PKS memiliki kesan tersendiri di mata masyarakat.
Partai (yang katanya) Non sekularis ini jelas sekali menggunakan Islam sebagai pedoman organisasi mereka. Dengan Visi sebagai partai da’wah penegak keadilan dan kesejahteraan dalam bingkai persatuan ummat dan bangsa”, terlihat jelas bahwa Partai Islam yang satu ini mendambakan Indonesia dengan otoritas sentral (pemerintahan) yang betul- betul berpedoman pada Islam dan tidak menjadi liberal seperti Negara- Negara lain pada umumnya. PKS menjadikan Al- Quran dan Al- Hadist sebagai pedoman mereka. Karena mereka menganggap bahwa hokum Allah adalah hokum yang terbaik sepanjang masa. Seperti yang terkandung dalam surat Al- Maidah ayat 50 yang berbunyi :
أفحكم الجهلية يبغون ، ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون
Artinya: “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?
Saya jadi ingat ketika berbincang dengan Pak Tahyar tempo lalu, saya sempat mengurai pertanyaan tentang “ sejauh mana penerapan etika dan personal integrity yang baik bagi seorang anggota dewan sesuai dengan yang diharapakan warganya?” beliau menjawab dan mengakui bahwa dirinya sendiri masih jauh jika harus dikatakan bekerja secara professional serta sesuai dengan etika- etika yang diharapkan warganya. Namun beliau juga menguraikan bahwa peran dan posisi partai sangat mempengaruhi kinerja dan perangai anggota dewan dalam menduduki posisinya di DPRD. Partai yang bernuansa religi seperti PKS akan juga menanamkan image religiusitas pada anggota- anggotanya.
Partai berperan secara aktif membentuk karakter anggota yang ada. Terlebih lagi, PKS yang notabene adalah partai Islam, merekrut anggotanya dari kader- kader dakwah yang memiliki kompetensi dan kapabilitas dalam bidangnya. Meskipun bukan partai ‘senior’ seperti Golkar atau PDI-P, namun PKS juga memiliki orang- orang yang memiliki jam terbang tinggi seperti Anis Matta, Hidayat Nurwachid, Tifatul Sembiring, Adhyaksa Dault, Nur Mahmudi, dan nama- nama lain. Melihat dari konstruksi karakter yang ada pada diri masing- masing orang yang disebutkan diatas, orang awam pasti mampu menyimpulkan bahwa partai ‘junior’ ini adalah partai yang menjunjung tinggi eksistensi Islam dan nilai- nilai yang terkandung di dalamnya.
Masih dalam perbincangan yang sama, saya lagi- lagi mengajukan pertanyaan pada Pak Tahyar berkenaan dengan sejauh mana pengaruh partai terhadap kinerja para anggota sangat besar, apalagi PKS. PKS menekankan pada para anggotanya untuk melaporkan kegiatan mereka dari bangun tidur hingga waktunya tidur lagi. Ungkap pak Tahyar, hal ini sengaja dilakukan demi mengontrol kegiatan para kader agar tetap pada koridor. Namun kita (orang- orang di luar partai) kan tidak tahu apakah kegiatan itu terlaksana benar adanya atau hanya sebuah wacana belaka. Karena tidak dapat dipungkiri, kegiatan perpolitikan identik dengan penggunaan dan penanaman citra positif dimata masyarakat. Maka dari itu segala kegiatan yang berbau positif dicanangkan dan berusaha di ekspose demi mempengaruhi opini public. Selain itu juga kegiatan orang- orang di PKS pada saat berada di DPR atau DPRD terkesan sangat normative dan konservatif . karena PKS adalah partai Islam, maka anggota- anggotanya sangat terkesan rapi dan menjaga image tersebut.
Seperti yang dicantumkan PKS dalam visi khususnya, yaitu menjadi “partai berpengaruh baik secara kekuatan politik, partisipasi, maupun opini dalam mewujudkan masyarakat indonesia yang madani”. Ini menandakan bahwa PKS memang benar- benar memperhatikan penanaman image yang baik dan berupaya tetap menjadi partai yang baik bagi masyarakat Indonesia.
            Image- image positif ini juga ditanamkan lewat beberapa pengambilan keputusan dan sikap yang dilakukan oleh PKS, baik pusat maupun daerah (Cilegon). Seperti keputusan yang diambil oleh PKS pusat untuk menolak kenaikan harga BBM oleh pemerintah Indonesia. PKS memandang bahwa kenaikan harga BBM Bersubsidi untuk seluruh segmen masyarakat akan meningkatkan beban kehidupan sehari-hari rakyat. Kenaikan harga BBM Bersubsidi akan memberikan dampak inflasi yang berlipat ganda yang akan memberikan beban ekonomi yang semakin berat bagi rakyat, terutama akibat melonjaknya biaya transportasi dan harga bahan-bahan pangan. Hal ini menimbulkan reaksi bahwa SBY akan mendepak PKS dari koalisi kepartaian. Namun hal tersebut tidak menjadi halangan dan membuat PKS gentar. Mereka tetap memilih mendukung rakyat. Seperti yang dikatakan Pak Tahyar kepada saya waktu itu, “Ternyata dalam konteks teori dan praktek ada signifikansi yang mencolok. Kami (anggota Dewan) terikat dengan system. Bukan benar dan salah yang menang. Tapi banyak sedikitnya. Tapi kami tidak pernah menyerah. Terbuktinya setelah waktu berjalan. Konteks idealism tidak terkikis semuanya. Kami mensupport jika kebijakan itu cocok dan baik. Namun jika sebaliknya, meskipun pendukung atas kebijakan tersebut lebih banyak (suara mayoritas), hal tersebut akan kami kritisi bahkan tak segan kami tolak”. Hal tersebut secara tidak langsung menunjukkan idealism dari PKS terhadap prinsip dan ideology yang mereka anut. Seperti yang ada dalam hadist : qulil haqqa walaukana murran (katakanlah apa yang benar walaupun pahit rasanya) (hadis). Kedua, falyakul khairan au liyasmut (katakanlah bila benar kalau tidak bisa,diamlah). Ketiga, laa takul qabla tafakur (janganlah berbicara sebelum berpikir terlebih dahulu). Jadi tidak peduli seberapa banyak pendukung atau penentang kita, namun yang harus dipertimbangkan adalah apa yang kita upayakan dan sampaikan benar atau tidak.
            Dari contoh kasus diatas yang mampu saya simpulkan adalah, PKS baik pusat maupun daerah adalah partai yang berani melawan arus. Dalam kondisi isu kenaikan harga BBM, PKS menjadi partai koalisinya Pak SBY yang paling menentang. Padahal partai- partai koalisi lain sepertinya cari aman dan ‘manut- manut wae’ dengan keputusan otoritas. Padahal entah keputusan itu adalah keputusan terbaik bagi kepentingan rakyat banyak, atau hanya menjadi kepentingan laten bagi yang membutuhkan.
            Penilaian sementara saya dari beberapa kasus yang ada, PKS mampu mempertahankan konsistensi dan jalurnya. Ditengah maraknya liberalisasi, PKS tetap meneguhkan ideology dan prinsip mereka atas dasar hokum Allah. Partai ini tetap bertahan dengan berbagai cemoohan karena menjadi partai dengan suara minoritas. Bahkan Pak Tahyar pernah berbagi pengalamn kasus PKS Cilegon waktu itu, fraksi partai PKS pernah menjadi bulan- bulanan dengan dibuat boneka tiruannya dan dipasangkan baju wanita karena PKS menolak pengalokasian dana untuk kubangsari. Fraksi PKS menjadi yang paling menentang . namun pada akhirnya ternyata, kasus Kubangsari menjadi sorotan KPK dan media karena bermasalah.
            Dalam kondisi di cemooh dan dipandang tidak solid seperti itu pasti adalah masa sulit. Namun tetap tidak mengubah keputusan PKS untuk berubah haluan menjadi pro pemerintah. PKS tetap bersikeras menentang apa yang sekiranya tidak cocok bagi idealism mereka.
Contoh lain yang dilakukan PKS Cilegon sebagai salah satu kegiatan pencitraan adalah penolakan mereka terhadap keputusan pemkot Cilegon atas pajak yang dikenakan bagi hiburan malam disana. Mereka beranggapan bahwa, hiburan malam itu identik dengan pornografi dan pornoaksi. Dan PKS beranggapan bahwa pembangunan kota Cilegon tidak boleh dibiayai oleh ‘uang haram’ yang diperoleh dari pajak hiburan malam. Karena tidak sesuai dengan nilai aturan dalam Islam yang sangat mereka junjung tinggi. Seperti yang terkandung Dalam firman Allah SWT dalam surat Al- Baqarah Ayat ke 172 yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rejeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” Apa jadinya jika pembenahan dan pembangunan sebuah daerah dibiayai oleh uang haram ? bukankah pembangunan sebuah daerah melibatkan keberadaan dan kepentingan orang banyak ? sudikah anda diberi makan dari uang haram yang artinya anda akan menelan mentah- mentah api neraka kedalam perut seperti yang Allah ungkapkan dalam Al- quran ? (yaa setidaknya kali ini saya setuju dengan keputusan PKS).
 Sesuai dengan Visi yang ada di PKS, hal- hal tersebut akan menjadikan PKS menjadi partai yang berlandaskan Islam dalam rangka menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu juga visi amar am’ruf nahi munkar yang di programkan PKS, menjadi slah satu cirri khas dari visi partai ini, disaat yang lain mengacuhkan hal tersebut, namun PKS tetap menjadikannya sebuah jalur untuk menjadi agent of change.

Namun penting juga untuk digarisbawahi bahwa, meskipun PKS merupakan partai Islam yang cukup kental, tetapi PKS telah berhasil mengukuhkan diri sebagai partai yang juga terbuka bagi non muslim. PKS memiliki beberapa anggota parlemen yang non Islam. Namun tidak meredupkan semangat dakwah mereka, mereka bahkan mengundang orang- orang non muslim itu untuk membahas tentang Islam.
Toleransi diatas juga agak menggelitik pikiran saya. Mengapa PKS menggemar- gemborkan dan menjadi partai Islam di Indonesia yang berada di garis keras, namun pada akhirnya mengukuhkan diri juga untuk turut meminang non muslim dalam perjalanan politiknya. Terkesan frontal memang. Namun bukankah dulu juga Rasulullah menyebarkan Islam lewat jalur terang- terangan meskipun pada akhirnya menuai banyak kontroversi ?  (baik akan kita bahas lagi hal ini diakhir cerita).
Pembangunan citra pada partai ini hamper sama dengan partai- partai lain yang juga ingin mendapatkan feedback yang baik dari masyarakat. Hanya saja mungkin yang membedakan adalah cara dan strateginya. PKS berusaha menanamkan citra positif itu lewat bantuan- bantuan yang disalurkan bagi para penderita dan Korban bencana alam. Tempo hari ketika terjadi tsunami, lalu meletusnya gunung merapi, dan disetiap bencana- bencana yang terjadi di bumi pertiwi, PKS selalu berusaha menempatkan diri dan mengambil posisi. Begitu pula dengan fraksi PKS yang ada di Cilegon. Para anggota legislatifnya berusaha menanamkan citra yang baik itu dimata masyarakat sekitar. Seperti pada kasus lalainya penanganan pasien di salah satu rumah sakit yang ada disana, fraksi PKS sangat mengecam kenyataan tersebut. Dan segera merekonstruksikan kembali system yang ada. Ini menjadi salah satu wujud kepedulian mereka terhadap rakyat, yang diibaratkan adalah partner kerja mereka. Seperti yang dikatakan Pak Tahyar bahwa “ anggota dewan bukanlah apa- apa dan tidak akan menjadi apa- apa jika tidak ada rakyat. Tapi rakyat juga harus mau dan tidak segan melibatkan kami dalam ruang lingkup mereka. Jangan terlalu underestimate pada para anggota dewan. Serta tidak lupa untuk menjalin kerasama yang baik”.
Bukan merupakan hal asing memang. Meskipun terkesan sangat klise bantuan serta kebaikan ini (karena kita sudah sangat sering mendengar, menyaksikan bahkan mengalami sendiri), namun siapa yang tahu kedalaman hati manusia ? barangkali saja apa yang dilakukan kader- kader PKS bukan lantaran untuk membangun citra positif dan mendapat simpati rakyat. Akan tetapi memang muncul dari lubuk hati mereka sebagai manusia untuk saling menolong satu sama lain. hmm.. perihal bagaimana rakyat atau media atau siapasaja yang menanggapinya dengan pro atau kontra, itu adalah hal biasa. Karena, jangankan dunia politik, dalam hubungan interpersonal saja, disuka atau dibenci, dipuji atau dihina, dicela atau dicinta adalah perkara biasa. Seperti kata pepatah “anjing mengonggong khafilah berlalu”.
Langkah dan strategi lain untuk memperbaiki internal PKS adalah melalui jalur tarbiyah (pendidikan). Seperti yang dilansir ooleh salah satu media online, presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq mencanangkan kader- kader PKS harus bersekolah minimal hingga S2. Hal ini bertujuan untuk memperkuat daya saing yang semakin gencar dewasa ini. Langkah ini pun menjadi salah satu wujud kepedulian dan perhatian PKS terhadap kadernya dengan wujud investasi pendidikan. Pencanangan program yang sangat baik. Karena pada dasarnya pendidikan menjadi ladang awal terbinanya manusia-manusia terdidik dan berakhlak. Program ini menandakan bahwasanya PKS sangat memperhatikan kapabilitas dan kredibilitas kader- kadernya. Jangan sampai kalah dengan organisasi- organisasi lain yang juga pasti memiliki anggota- anggota yang mumpuni dalam bidangnya. Terlebih lagi, PKS menjadi yang seperti sekarang, tidak luput dari kontribusi para kader. Maka dari itu iklim organisasinya harus diciptakan seharmonis mungkin dengan para kader. Salah satunya dengan memberikan fasilitas yang memadai bagi mereka para kader.
Namun ternyata penilaian saya bisa saja salah, dan penilaian anda bisa juga salah. Begitulah symbol – symbol dan unsure- unsure semiotik selalu bermain dan mempermainkan kita dalam kegiatan politik . Anda ingat PKSWatch yang sempat menjadi kontroversi dikalangan kader dan simpatisan PKS ? disana mengungkap berbaggai kebijakan- kebijakan PKS yang dianggap sudah tidak lagi sesuai dan sejalur dengan rel yang ada sesuai dengan visi dan misi PKS semula.
PKS diduga menggantungkan asas- asas dan prinsip keislaman dan jalur dakwah yang diusung sejak awal. Merasa pergerakan sangat lambat dalam kancah politik, PKS menempatkan dan mengukuhkan diri menjadi partai beraliran tengah, bukan lagi partai nasionalis religious. Dibuktikan dengan pembahasan yang ada diatas tadi berkenaan dengan pemboyongan anggota- anggota non muslim kedalam partai Islam ini. Bahkan PKS mengubah Jargon menjadi “PKS untuk semua”. Saya menganggap bahwa lagi- lagi ada symbol yang bermain. Jargon tersebut bisa saja menjadi sebuah kalimat “ PKS bisa jadi apa saja, siapa saja, sesuai dengan kebutuhan. Jadi kalaupun tidak lagi sesuai dengan niatan awal, yang penting tercapai segala kepentingan”.
Kini diakhir penceritaan, saya berani menyimpulkan bahwa, tidak ada yang special dari PKS baik pusat maupun Cilegon. (karena pada dasarnya, system pusat dan daerah memiliki benang merah yang kuat). Mereka bukan lagi partai dakwah dan partai Islam seperti yang semula digembor- gemborkan. PKS nampaknya sudah mulai haus kuasa, sama seperti partai yang lainnya. Orientasi dan prioritasnya jatuh pada sekularisasi dan liberalisasi lagi. Miris memang. PKS beserta kader- kader yang ada di dalamnya,berusaha keluar dari tema- tema sempit dalam rangka mengubah cirta islamis. Dan seperti yang kita ketahui bahwa, kegiatan politik itu penuh dengan strategi untuk berkuasa, dan nampaknya PKS beserta partai lainnya sudah terkukung oleh euphoria ‘haus kuasa’ yang sama yang mereka perebutkan. Padahal dalam al- hadist disebutkan bahwa : Dari Abdurrahman ibn Smurah ra. Ia berkata : Rasulullah bersabda :”Wahai Abdurrahman Ibn sammurah, janganlah kamu meminta jabatan. Jika kau diberi jabatan karena memintanya, jabatan itu diserahkan sepenuhnya. Dan Apabila kamu diberi dan tidak memintanya, kamu akan mendapat pertolongan Allah dalam melaksanakannya.  Apabila kamu bersumpah terhadap satu perbuatan, kemudian kamu melihat ada perbuatan yang lebih baik, maka kerjakanlah perbuatan yang lebih baik itu.“ (HR Bukhari dan Muslim).

Wallahu’alam. Bagaimanapun orientasinya dari PKS pusat maupun daerah khusunya Cilegon, wajar jika masyarakat masih punya harapan untuk dapat menemui “malaikat tanpa sayap” yang siap amanah dan menolong mereka tanpa ada imning- iming dan embel- embel kekuasaan dan materi semata. 

nb : ini latepost banget. tugas komunikasi politik semester 4, tepatnya 2 tahun lalu. tapi barangkali bermanfaat buat adek-adek yang kuliah :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

OMBAK


Ombak, pernahkah kamu perhatikan ia? entah darimana asalnya, bergerak mengayun dan bergelombang, membuat air terlihat meliuk- liuk kegelian di sepanjang lautan.  Dalam bidang oseanografi, Ombak dikenal sebagai gelombang dalam (internal wave). Fenomena ini juga ada dalam bidang meteorologi, dimana gelombang menjalar pada lapisan antar muka antara udara yang hangat dan dingin (Wikipedia). Gelombang laut biasanya disebabkan oleh angin. Angin di atas lautan memindahkan tenaganya ke permukaan perairan, menyebabkan riak-riak, alunan/bukit, dan berubah menjadi apa yang kita sebut sebagai ombak (nah ini diambil dari blog sebelah).



Ombak ini bergerak dan terus bergerak selama hembusan angin tidak berhenti. Semakin dekat dengan darat, pergerakan angin sedikit lebih terbatas karena terhalang beragam macam benda- benda di daratan (pepohonan, atap rumah, gedung dan sebagainya). Berbeda dengan di tengah lautan, angin semakin kencang, dan inilah mengapa ombak semakin besar disana. Entahlah bagaimana prosesnya secara teoritikal, saya bukan ahli oceanologi yang paham akan ini. Tulisan di atas berdasarkan pengetahuan saya sebagai awam-ers.

Kalau kamu pernah naik perahu ke tengah lautan, memancing atau menyeberang ke pulau, kamu pasti paham bagaimana rasanya terombang ambing di kolam raksasa bernama laut. Apalagi kalau perahu yang digunakan adalah perahu nelayan biasa, ini akan lebih membuat adrenalin kamu terpacu (based on my experience). Karena semakin ke tengah, goyangan perahu akan semakin dahsyat karena ombak dan angin semakin ganas. Saran saya, jangan coba- coba menyeberangi lautan dengan perahu nelayan tanpa ada alat perlindungan (pelampung misalnya).

Kembali lagi pada objek kita, yaitu ombak. Kalau mau diperhatikan, kehidupan kita ini seperti menyeberangi lautan. Semakin jauh, semakin dalam, semakin ke tengah maka semakin besar ombak yang menghadang. Goncangan dan goyangan akan semakin hebat. Bahkan bisa jadi semakin mengerikan. Analogikan kita hendak menyeberangi lautan menuju ke pulau yang indah (terserah kamu membayangkan pulau mana saja yang indah- indah). Berawal dari segala perlengkapan yang kita persiapkan. Dari mulai bawaan pribadi, biaya, makanan, dan lain- lain. Kemudian, kita menuju pesisir dimana perahu, kapal atau sejenisnya berlabuh. Disini ombak belum ada apa-apanya. Masih terlihat bersahabat dan ramah. Kita masih senang, masih tenang dan nyaman. Masih bisa berleha-leha dan terbuai kesenangan. Namun begitu perahumu hampir sampai ke tengah, ombak dan angin sudah memberi tanda perubahan. Bahwa pijakan kita saat ini tak lagi senyaman semula ketika di tepian. Perahu mulai bergoyang tidak karuan ke kanan dan kiri tak terkendali. Yang semula muka mu berseri, sekarang bisa jadi pucat pasi. Mulut tidak berhenti komat kamit berucap mantra doa kepada Yang Kuasa. Tangan yang sibuk menggapai sana sini untuk pegangan, dan kaki yang memijak terhentak semakin kuat agar menahan guncangan badan. Bagi yang sudah berpengalaman menyeberangi lautan, mungkin akan menjadi “biasa saja”. Karena mereka sudah punya bekal persiapan yang setidaknya cukup untuk menghalau rasa- rasa dan gejala-gejala selama perjalanan.

Proses berada ditengah lautan bukan hal mudah. Banyak diantaranya yang “tumbang” atau hanya sekadar melemah. Tapi mau tidak mau perjalanan tetap dilanjutkan, karena untuk kembali pada titik awal kita datang dan berangkat pun tetap harus melewati proses panjang yang melelahkan. Jadi pilihannya, bertahan dan berjuang hingga sampai di pulau yang indah itu, atau kembali pulang tanpa melihat dan mendapatkan kesan apapun? Karena kalau sudah sampai di pulau indah yang kita tuju, rasanya semua akan terbayar. Perjuangan itu tidak sia-sia.

Demikian juga hidup kita. Semakin dewasa, semakin (ingin) naik derajat dan kelas kita, maka ombak bernama ujian akan semakin kencang dan liar. Kalau ingin mencapai pulau yang indah, ya menyeberanglah melewati ombak dan angin lautan. Kalau ingin mencapai tahap dan taraf hidup yang lebih baik, maka lewatilah ujiannya. Ombak besar tidak mungkin ada ditepian (kecuali atas kuasa Allah). Kalau tidak ingin melewati ombak dan berada di garis hidup nyaman, pulau indah itu tidak akan pernah kamu dapatkan. Ujian hidup ini berat, dan akan semakin berat seiring waktu dan kesiapan. Sebagai manusia kadang kita merasa (ingin) menyerah dan “tumbang”, tapi Allah sudah menjanjikan dalam  Qs. Al-Baqarah : 286 bahwa “Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Maka pilihannya hanyalah bertahan dan berjuang sekuat tenaga meski dihantam ombak tapi naik kelas, atau tetap berada di tepian dan bermain pasir halus tapi tinggal kelas?

Lagi-lagi, lewat tulisan ini saya berusaha menasehati diri sendiri. Mengajari dan mengingatkan diri sendiri untuk tetap rendah hati dan mawas diri. Terlebih beberapa tahun belakangan seringkali diberi ujian yang cukup berat. Maka saya selalu mengingat bahwa “bersama kesulitan, pasti ada kemudahan” . Hanya bagaimana mencapai kemudahan itu yang kita usahakan. Semoga Allah senantiasa menguatkan pundak kita, muslimin dan muslimah di muka bumi. Mengambil serpihan kecil peristiwa disekitar kita untuk menjadi bahan renungan dan pembelajaran, menjadi salah satu cara agar diri tidak mudah lupa dan terlena. ~END~ By: @oktaazikriani

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS