Menjadi
wanita itu bukan hal mudah. Aku tak ingin membicarakan bagaimana beratnya
menjadi seorang istri, yang harus mengurusi diri sendiri dan suami, membagi
uang gaji suami untuk keperluan satu bulan penuh, atau memikirkan bagaimana menjadi
istri salehah serta memberikan keturunan yang shaleh atau shalehah juga untuk
suami dan dua keluarga besar. Atau aku bukan akan membicarakan tentang beratnya
perjuangan menjadi seorang ibu. Mengandung sembilan bulan, menyusui, mendidik,
merawat dan mengelola perusahaan bernama rumah tangga sekian lama hingga ajal
menjemputnya. Bukan.. bukan itu .. aku merasa belum pantas membahas dan
menceriitakan tentang apa yang aku belum rasakan. Bahkan membayangkannya pun
tak kuasa bertahan lama.
Ini adalah
tentang bagaimana wanita mengelola perasaannya yang ‘katanya’ sensitif,
mengelola pikirannya yang mudah sekali bercabang, mengelola firasat dan
feelingnya yang katanya sering kali tajam dan benar. Untuk hal ini aku akan
berbagi dari sisi dimana aku merasakan dan memandang diri ni sebagai seorang
wanita. Wanita semi dewasa yang belum terlalu matang juga kiranya.
Seringkali
wanita dihadapkan pada beragam peristiwa yang memberatkan hati dan pikirannya. Oke,
untuk yang satu ini rasanya bukan hanya untuk wanita. Tapi dengan sensitif yang
wanita punya, terkadang permasalahn yang simpel dan biasa, bisa menjadi luar
biasa. Wanita sendiri ada beragam jenisnya. Ada wanita cantik, wanita manis,
wanita baik, wanita mandiri, wanita karir, wanita muslimah, bahkan hingga wanita
tunasusila. Tapi mereka semua dengan beragam kategori, karakter dan profesi,
punya hati yang sama, yaitu hati wanita.
Pernahkah
kamu melihat seorang wanita berdiri di hadapmu dengan mata sembab, pipi dan
hidungnya memerah, dan penampilannya sedikit berantakan, bahkan ada tisu atau
sapu tangan yang dikepalnya erat- erat hingga membuat efek kusut disana sini?
Bisakah kau tebak apa yang terjadi padanya ? yak, paling ia habis menangis.
Menangis karena apa ? ya entahlah, hanya ia, tuhan dan orang bersangkutan yang
tahu. Pernahkan terlintas dipikiranmu, sebegitu mudahnya wanita melunturkan
wajh cantik dan manisnya dengan tangisan. Apa yang membuatnya begitu rapuh
hingga air mata tidak tertahan ? yaa.. kalau kamu wanita, tebak dan rasakan
saja sendiri kenapa demikian adanya.
Ini versiku.
Versi bayangan dan pengalaman ku. Aku introvert (sedikit), senang bergurau,
senang serius tapi santai, tapi juga mudah stress dengan beragam macam
persoalan yang datang. Jadi ya bisa ditebak bagaimana aku. Si perasa dengan
segala pemikiran yang ada di kepala. Bagiku sulit menuangkan rasa yang
sesungguhnya. Mungkin orang terdekatku seringkali kena semprot dengan
ke-BETE-an dan kusutnya wajah, tanpa mereka pernah tahu aku kenapa bahkan
sampai mereka lupa. Ada banyak sekali hal yang sering mengganggu perasaanku
sebagai wanita, namun seringkali aku tak tahu itu apa. Uring- uringan, galau,
gelisah, unmood dan sejenisnya menggelayut berat, tapi tidak terjawab penyebab
pastinya. Susah ya jadi perempuan. Terlebih saat kamu ppunya pasangan. Perasaan
aneh menjadi semakin aneh. Kadang kamu merasa cinta dan benci secara bersamaan
pada lelaki yang dicintai. Perasaan itu cukup menyiksa bukan ?






0 komentar:
Posting Komentar