My Tweetie

https://twitter.com/OktaaZikriani

my facebook

http://www.facebook.com/okta.athena
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Pages

Rangkaian Mimpi

Rasanya surga melihat hamparan titik bercahaya di langit ketinggian bersamamu kelak. Menghirup nafas dari udara di ketinggian yang sama. Melihat mulut kita berasap karena dingin yang menusuk. Tubuh yang bergetar dingin namun hangat secara bersamaan. Kapan kita kesana ? seperti mimpi yang sudah kita rangkai bersama. Meski mungkin sebagian besarnya hanya terucap dalam hati yang berdoa. Sejenak Lupakanlah orang tuaku yang tidak pernah mengizinkan aku berpeluh dan mengeluh karena puncak disana yang masih jauh. Aku hanya ingin kesana, menikmati sentuhan Tuhan yang luar biasa, bersama kamu.

Atau jika gunung dan puncaknya menjadi kemungkinan kecil kita bersama, ajaklah aku bermain di teriknya pantai yang membuat ketagihan. Ketika hitam dan basah bukan lagi jadi halangan. Asal kita berdua tetap berpegang tangan menyusuri pantai dengan kerang atau kepiting kecil yang berjalan. Atau jika matahari menjadi alasan kemalasan, pergilah kesana di petang hari hingga malam. Saksikan jingga yang terbentang sebelum muncul bintang. Bunyi ombak yang bergulung besar lalu berbuih. Menatap jauh pada perahu nelayan yang mulai berangkat mencari ikan. Melihat daratan di seberang yang entah berpenghuni atau bermisteri. Bagaimana ? nampaknya mengasyikan.

Atau jika gunung dan pantai juga tidak memungkinkan, berkeliling perkotaan dengan segala kesibukannya juga tak masalah. Melalui kemacetan di atas motor putih kesayangan. Debu dan polusi menjadi kawan meski menjengkelkan. Nampaknya itu juga tak apa. Asal kita berdua saja.
Jika jalanan perkotaan terkesan sangat meletihkan, sekadar mampir ke mall yang sejuk ber-AC nampaknya lebih baik. Meski aku tak ber-uang, atau kamu yang belum jadwal gajian, toh para penjaga toko tak melarang jika kita hanya melirik atau menunjuk satu dua barangnya. Beli atau tidak itu urusan belakangan.

Ketika Gunung, pantai, jalanan perkotaan dan mall pun tak kunjung menjadi tujuan karena kesibukan, kita masih bisa bertemu di rumah kecil meski masih menyicil. Sekadar menyiram tanaman yang sejak dulu ku idamkan. Membersihkan halaman yang memang sudah kewajiban. Atau mungkin tidur- tiduran bermalasan. Meski cucian setumpuk, setrikaan menggunung, meja kursi berdebu, meja makan kosong tak beraroma. Asal kamu dan aku bahagia menghabiskan waktu bersama. Itu sederhana nampaknya. Tapi sangat berharga jika kita sudah sibuk pada urusannya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar