My Tweetie

https://twitter.com/OktaaZikriani

my facebook

http://www.facebook.com/okta.athena
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Pages

PKS ohhh PKS (Latepost)


 “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kalian. Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul (Nya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” An-Nisa’ [4] : 59
Potongan ayat al- Quran diatas menjelaskan pada kita bahwa kepatuhan kepada Allah , rasul dan ulil amri (pemerintah) adalah sebuah kewajiban ! tetapi bagaimana dengan ulil amri yang lalim dan dzalim ?
Awesome !! setelah mengumpulkan tugas wawancara anggota dewan pada Dosen pengampu, ternyata tugas tidak berhenti sampai disana. Saya bersama kawan- kawan dikelas diminta membuat lagi 10 paper artikel kami berkenaan dengan tema masing- masing. Dan Pak Dosen meminta saya membuat paper dengan tema “kelembagaan”. Namun paper kali ini merupakan langkah lanjutan dari tugas yang baru saja kami kumpulkan. Jadi tema apa yang kami dapatkan sekarang, harus memiliki keterkaitan substansi dengan tema sebelumnya.
Flash back pada prosesi wawancara yang ketika itu saya lakukan dengan Pak Mohamad Tahyar, ketua Fraksi PKS dan anggota Komisi II  DPRD Cilegon, memberikan kesan tersendiri dan meninggalkan pesan tersembunyi. Hmm, memang terkesan berlebihan. Namun rasanya memang itu pesan yang tersirat. Banyak yang mampu saya duga dan simpulkan sendiri. Meskipun saya tahu bahwa kesimpulan yang tercipta di otak dan benak saya belum tentu benar. Namun saya pikir, tidak ada yang salah untuk sebuah pendapat bukan ? J
DPR atau DPRD adalah tempat yang berisikan para wakil rakyat (yang katanya) adalah panjang tangan dari masyarakat untuk menyampaikan segala aspirasi, keluhan dan perlindungan dari kebijakan yang merugikan mereka. DPRD merupakan suatu lembaga legislative yang menjadi tempat bernaungnya masyarakat yang membutuhkan penyambung lidah kepada pemerintah. Menjadi anggota dewan juga bukan hal yang mudah, mengingat harus banyak yang dikorbankan, banyak yang diperjuangkan, banyak yang harus diurus dengan sebegitu banyak prioritas, terlebih lagi banyak sekali godaan dan ujian. Baik internal maupun eksternal. Setidaknya ini menjadi bahan pertimbangan sebelum mencalonkan diri.
DPRD juga terdiri dari banyak fraksi yang bernaung di dalamnya. Berapa banyaknya ? ya tergantung. Contohnya saja di DPRD Cilegon terdiri dari 7 Fraksi dari partai yang lumayan besar, yakni. PKS, Golkar, PDI-P, PPP, Demokrat, PAN, PKB dan BKN. Saya pikir menggabungkan ketujuh partai yang pastinya punya ideology sendiri serta memiliki otoritas sendiri merupakan hal yang tidak mudah. Apalagi jika tengah menghadapai permusyawarahan untuk penyelesaian sebuah masalah, pasti akan lebih rumit menyatukan berbagai perbedaan pemikiran dan interpretasi menjadi sebuah consensus demi kepentingan rakyat bersama. Namun saya enggan membahas
Seperti yang sudah saya ceritakan panjang lebar pada synopsis di lembar EKT 2, DPRD Cilegon menyimpan banyak misteri. Dari mulai bangunan, orang- orang yang ada di dalamnya, hingga bagaimana system yang dikelola disana. Tempo hari saya mebaca sebuah berita berkenaan dengan kasus keterlibatan korupsi tentang Kubangsari. Padahal masih terekam di memori saya ketika Pak Tahyar berkata bahwa, “Tidak ada yang bisa dikorupsi oleh angota dewan di daerah, karena jatah keuangan itu haya 0,10% dari keseluruhan dana yang ada. Pemegang kendali itu adanya di pusat. Maka bisa jadi jika pusat melakukan korupsi itu karena mereka memiliki banyak peluang. Sedangkan kami ? perlu dipertanyakan uang mana yang dikorupsinya ? karena kami minim sumber dana”. Apa yang dikatakan beliau bertolak belakang dari kenyataan yang terjadi. KPK tidak mungkin mensinyalir adanya kegiatan korupsi jika tidak ada kegiatan yang mencurigakan di dalamnya. Padahal memang pada dasarnya korupsi bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja. Contohnya saja kita sering terlambat dalam menghadiri acara, apakah itu tidak bisa disebut dengan korupsi waktu ? hmmm… begitupun saya menginterpretasikan bahwa apalagi di DPRD yang meskipun tidak mendapat banyak dana, tapi kan banyak proyek yang bisa ditangani dan mungkin saja dimanfaatkan oknum.
Saya juga pernah membaca berita yang dilansir salah satu pemberitaan di media online, DPRD Cilegon menganggarkan sebesar Rp 161 juta untuk pembuatan pakaian anggota Dewan. Tiap anggota Dewan nantinya bakal mendapatkan empat setel baju yakni Pakaian Dinas Lengkap (PDL), Pakaian Dinas Harian (PDH), Pakaian Sipil Resmi (PSR), dan Pakaian Sipil Harian (PSR). Bukan jumlah yang sedikit untuk kategori pakaian. Meskipun sudah masuk kedalam anggaran kesekretariatan, namun bukankah alangkah lebih baik jika diminimalisir?
Ada lagi terkait pemberitaan DPRD Cilegon yang menganggarkan dana tunjangan perumahan yang naik dari Rp.7jt/ bulan menjadi Rp.10jt. Selain itu juga mereka memfasilitasi ketujuh fraksi yang ada disana dengan satu unit kendaraan operasional. Ternyata pemborosan selalu terjadi dimana- mana baik pusat maupun daerah. Padahal buat apa itu dianggarkan ? toh kinerja mereka belum dirasakan maksimal.
Berdasarkan wawancara saya dengan ketua Fraksi Partai PKS, masih terekam baik di memori saya,  beliau mengatakan bahwa memang anggota dewan memiliki anggaran tersendiri dan sudah ada Undang- Undang yang mengatur yakni PP no. 24 Tahun 2004. Baik anggaran rumah, pemeliharaan sekaligus perlengkapannya, tunjangan kesehatan, uang representasi, dan lainnya. Cukup banyak dari dana pembelanjaan daerah yang teralokasikan untuk kegiatan penunjang anggota dewan. Meskipun beberapa anggota dewan tetap menganggap bahwa mereka termarginalkan, namun setidaknya mereka tidak seperti rakyatnya yang berada di kolong jembatan, bukan ?
Di DPRD Cilegon seperti yang saya sebutkan terdapat 7 fraksi yang mengisi kekosongan kursi- kursi ruang rapat paripurna. Salah satu diantaranya adalah PKS. Partai Keadilan Sejahtera atau lebih akrab disapa dengan PKS adalah partai yang tidak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia apalagi dengan usianya yang kurang lebih 10 tahun di kancah perpolitikan. Bukan usia yang terlalu muda untuk mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Apalagi Partai satu ini berbasiskan Islam, dan notabene Penghuni Islam di Indonesia lebih banyak daripada yang lainnya. Terlebih lagi dengan menjamurnya partai- partai sekuler di Indonesia, PKS memiliki kesan tersendiri di mata masyarakat.
Partai (yang katanya) Non sekularis ini jelas sekali menggunakan Islam sebagai pedoman organisasi mereka. Dengan Visi sebagai partai da’wah penegak keadilan dan kesejahteraan dalam bingkai persatuan ummat dan bangsa”, terlihat jelas bahwa Partai Islam yang satu ini mendambakan Indonesia dengan otoritas sentral (pemerintahan) yang betul- betul berpedoman pada Islam dan tidak menjadi liberal seperti Negara- Negara lain pada umumnya. PKS menjadikan Al- Quran dan Al- Hadist sebagai pedoman mereka. Karena mereka menganggap bahwa hokum Allah adalah hokum yang terbaik sepanjang masa. Seperti yang terkandung dalam surat Al- Maidah ayat 50 yang berbunyi :
أفحكم الجهلية يبغون ، ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون
Artinya: “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?
Saya jadi ingat ketika berbincang dengan Pak Tahyar tempo lalu, saya sempat mengurai pertanyaan tentang “ sejauh mana penerapan etika dan personal integrity yang baik bagi seorang anggota dewan sesuai dengan yang diharapakan warganya?” beliau menjawab dan mengakui bahwa dirinya sendiri masih jauh jika harus dikatakan bekerja secara professional serta sesuai dengan etika- etika yang diharapkan warganya. Namun beliau juga menguraikan bahwa peran dan posisi partai sangat mempengaruhi kinerja dan perangai anggota dewan dalam menduduki posisinya di DPRD. Partai yang bernuansa religi seperti PKS akan juga menanamkan image religiusitas pada anggota- anggotanya.
Partai berperan secara aktif membentuk karakter anggota yang ada. Terlebih lagi, PKS yang notabene adalah partai Islam, merekrut anggotanya dari kader- kader dakwah yang memiliki kompetensi dan kapabilitas dalam bidangnya. Meskipun bukan partai ‘senior’ seperti Golkar atau PDI-P, namun PKS juga memiliki orang- orang yang memiliki jam terbang tinggi seperti Anis Matta, Hidayat Nurwachid, Tifatul Sembiring, Adhyaksa Dault, Nur Mahmudi, dan nama- nama lain. Melihat dari konstruksi karakter yang ada pada diri masing- masing orang yang disebutkan diatas, orang awam pasti mampu menyimpulkan bahwa partai ‘junior’ ini adalah partai yang menjunjung tinggi eksistensi Islam dan nilai- nilai yang terkandung di dalamnya.
Masih dalam perbincangan yang sama, saya lagi- lagi mengajukan pertanyaan pada Pak Tahyar berkenaan dengan sejauh mana pengaruh partai terhadap kinerja para anggota sangat besar, apalagi PKS. PKS menekankan pada para anggotanya untuk melaporkan kegiatan mereka dari bangun tidur hingga waktunya tidur lagi. Ungkap pak Tahyar, hal ini sengaja dilakukan demi mengontrol kegiatan para kader agar tetap pada koridor. Namun kita (orang- orang di luar partai) kan tidak tahu apakah kegiatan itu terlaksana benar adanya atau hanya sebuah wacana belaka. Karena tidak dapat dipungkiri, kegiatan perpolitikan identik dengan penggunaan dan penanaman citra positif dimata masyarakat. Maka dari itu segala kegiatan yang berbau positif dicanangkan dan berusaha di ekspose demi mempengaruhi opini public. Selain itu juga kegiatan orang- orang di PKS pada saat berada di DPR atau DPRD terkesan sangat normative dan konservatif . karena PKS adalah partai Islam, maka anggota- anggotanya sangat terkesan rapi dan menjaga image tersebut.
Seperti yang dicantumkan PKS dalam visi khususnya, yaitu menjadi “partai berpengaruh baik secara kekuatan politik, partisipasi, maupun opini dalam mewujudkan masyarakat indonesia yang madani”. Ini menandakan bahwa PKS memang benar- benar memperhatikan penanaman image yang baik dan berupaya tetap menjadi partai yang baik bagi masyarakat Indonesia.
            Image- image positif ini juga ditanamkan lewat beberapa pengambilan keputusan dan sikap yang dilakukan oleh PKS, baik pusat maupun daerah (Cilegon). Seperti keputusan yang diambil oleh PKS pusat untuk menolak kenaikan harga BBM oleh pemerintah Indonesia. PKS memandang bahwa kenaikan harga BBM Bersubsidi untuk seluruh segmen masyarakat akan meningkatkan beban kehidupan sehari-hari rakyat. Kenaikan harga BBM Bersubsidi akan memberikan dampak inflasi yang berlipat ganda yang akan memberikan beban ekonomi yang semakin berat bagi rakyat, terutama akibat melonjaknya biaya transportasi dan harga bahan-bahan pangan. Hal ini menimbulkan reaksi bahwa SBY akan mendepak PKS dari koalisi kepartaian. Namun hal tersebut tidak menjadi halangan dan membuat PKS gentar. Mereka tetap memilih mendukung rakyat. Seperti yang dikatakan Pak Tahyar kepada saya waktu itu, “Ternyata dalam konteks teori dan praktek ada signifikansi yang mencolok. Kami (anggota Dewan) terikat dengan system. Bukan benar dan salah yang menang. Tapi banyak sedikitnya. Tapi kami tidak pernah menyerah. Terbuktinya setelah waktu berjalan. Konteks idealism tidak terkikis semuanya. Kami mensupport jika kebijakan itu cocok dan baik. Namun jika sebaliknya, meskipun pendukung atas kebijakan tersebut lebih banyak (suara mayoritas), hal tersebut akan kami kritisi bahkan tak segan kami tolak”. Hal tersebut secara tidak langsung menunjukkan idealism dari PKS terhadap prinsip dan ideology yang mereka anut. Seperti yang ada dalam hadist : qulil haqqa walaukana murran (katakanlah apa yang benar walaupun pahit rasanya) (hadis). Kedua, falyakul khairan au liyasmut (katakanlah bila benar kalau tidak bisa,diamlah). Ketiga, laa takul qabla tafakur (janganlah berbicara sebelum berpikir terlebih dahulu). Jadi tidak peduli seberapa banyak pendukung atau penentang kita, namun yang harus dipertimbangkan adalah apa yang kita upayakan dan sampaikan benar atau tidak.
            Dari contoh kasus diatas yang mampu saya simpulkan adalah, PKS baik pusat maupun daerah adalah partai yang berani melawan arus. Dalam kondisi isu kenaikan harga BBM, PKS menjadi partai koalisinya Pak SBY yang paling menentang. Padahal partai- partai koalisi lain sepertinya cari aman dan ‘manut- manut wae’ dengan keputusan otoritas. Padahal entah keputusan itu adalah keputusan terbaik bagi kepentingan rakyat banyak, atau hanya menjadi kepentingan laten bagi yang membutuhkan.
            Penilaian sementara saya dari beberapa kasus yang ada, PKS mampu mempertahankan konsistensi dan jalurnya. Ditengah maraknya liberalisasi, PKS tetap meneguhkan ideology dan prinsip mereka atas dasar hokum Allah. Partai ini tetap bertahan dengan berbagai cemoohan karena menjadi partai dengan suara minoritas. Bahkan Pak Tahyar pernah berbagi pengalamn kasus PKS Cilegon waktu itu, fraksi partai PKS pernah menjadi bulan- bulanan dengan dibuat boneka tiruannya dan dipasangkan baju wanita karena PKS menolak pengalokasian dana untuk kubangsari. Fraksi PKS menjadi yang paling menentang . namun pada akhirnya ternyata, kasus Kubangsari menjadi sorotan KPK dan media karena bermasalah.
            Dalam kondisi di cemooh dan dipandang tidak solid seperti itu pasti adalah masa sulit. Namun tetap tidak mengubah keputusan PKS untuk berubah haluan menjadi pro pemerintah. PKS tetap bersikeras menentang apa yang sekiranya tidak cocok bagi idealism mereka.
Contoh lain yang dilakukan PKS Cilegon sebagai salah satu kegiatan pencitraan adalah penolakan mereka terhadap keputusan pemkot Cilegon atas pajak yang dikenakan bagi hiburan malam disana. Mereka beranggapan bahwa, hiburan malam itu identik dengan pornografi dan pornoaksi. Dan PKS beranggapan bahwa pembangunan kota Cilegon tidak boleh dibiayai oleh ‘uang haram’ yang diperoleh dari pajak hiburan malam. Karena tidak sesuai dengan nilai aturan dalam Islam yang sangat mereka junjung tinggi. Seperti yang terkandung Dalam firman Allah SWT dalam surat Al- Baqarah Ayat ke 172 yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rejeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” Apa jadinya jika pembenahan dan pembangunan sebuah daerah dibiayai oleh uang haram ? bukankah pembangunan sebuah daerah melibatkan keberadaan dan kepentingan orang banyak ? sudikah anda diberi makan dari uang haram yang artinya anda akan menelan mentah- mentah api neraka kedalam perut seperti yang Allah ungkapkan dalam Al- quran ? (yaa setidaknya kali ini saya setuju dengan keputusan PKS).
 Sesuai dengan Visi yang ada di PKS, hal- hal tersebut akan menjadikan PKS menjadi partai yang berlandaskan Islam dalam rangka menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu juga visi amar am’ruf nahi munkar yang di programkan PKS, menjadi slah satu cirri khas dari visi partai ini, disaat yang lain mengacuhkan hal tersebut, namun PKS tetap menjadikannya sebuah jalur untuk menjadi agent of change.

Namun penting juga untuk digarisbawahi bahwa, meskipun PKS merupakan partai Islam yang cukup kental, tetapi PKS telah berhasil mengukuhkan diri sebagai partai yang juga terbuka bagi non muslim. PKS memiliki beberapa anggota parlemen yang non Islam. Namun tidak meredupkan semangat dakwah mereka, mereka bahkan mengundang orang- orang non muslim itu untuk membahas tentang Islam.
Toleransi diatas juga agak menggelitik pikiran saya. Mengapa PKS menggemar- gemborkan dan menjadi partai Islam di Indonesia yang berada di garis keras, namun pada akhirnya mengukuhkan diri juga untuk turut meminang non muslim dalam perjalanan politiknya. Terkesan frontal memang. Namun bukankah dulu juga Rasulullah menyebarkan Islam lewat jalur terang- terangan meskipun pada akhirnya menuai banyak kontroversi ?  (baik akan kita bahas lagi hal ini diakhir cerita).
Pembangunan citra pada partai ini hamper sama dengan partai- partai lain yang juga ingin mendapatkan feedback yang baik dari masyarakat. Hanya saja mungkin yang membedakan adalah cara dan strateginya. PKS berusaha menanamkan citra positif itu lewat bantuan- bantuan yang disalurkan bagi para penderita dan Korban bencana alam. Tempo hari ketika terjadi tsunami, lalu meletusnya gunung merapi, dan disetiap bencana- bencana yang terjadi di bumi pertiwi, PKS selalu berusaha menempatkan diri dan mengambil posisi. Begitu pula dengan fraksi PKS yang ada di Cilegon. Para anggota legislatifnya berusaha menanamkan citra yang baik itu dimata masyarakat sekitar. Seperti pada kasus lalainya penanganan pasien di salah satu rumah sakit yang ada disana, fraksi PKS sangat mengecam kenyataan tersebut. Dan segera merekonstruksikan kembali system yang ada. Ini menjadi salah satu wujud kepedulian mereka terhadap rakyat, yang diibaratkan adalah partner kerja mereka. Seperti yang dikatakan Pak Tahyar bahwa “ anggota dewan bukanlah apa- apa dan tidak akan menjadi apa- apa jika tidak ada rakyat. Tapi rakyat juga harus mau dan tidak segan melibatkan kami dalam ruang lingkup mereka. Jangan terlalu underestimate pada para anggota dewan. Serta tidak lupa untuk menjalin kerasama yang baik”.
Bukan merupakan hal asing memang. Meskipun terkesan sangat klise bantuan serta kebaikan ini (karena kita sudah sangat sering mendengar, menyaksikan bahkan mengalami sendiri), namun siapa yang tahu kedalaman hati manusia ? barangkali saja apa yang dilakukan kader- kader PKS bukan lantaran untuk membangun citra positif dan mendapat simpati rakyat. Akan tetapi memang muncul dari lubuk hati mereka sebagai manusia untuk saling menolong satu sama lain. hmm.. perihal bagaimana rakyat atau media atau siapasaja yang menanggapinya dengan pro atau kontra, itu adalah hal biasa. Karena, jangankan dunia politik, dalam hubungan interpersonal saja, disuka atau dibenci, dipuji atau dihina, dicela atau dicinta adalah perkara biasa. Seperti kata pepatah “anjing mengonggong khafilah berlalu”.
Langkah dan strategi lain untuk memperbaiki internal PKS adalah melalui jalur tarbiyah (pendidikan). Seperti yang dilansir ooleh salah satu media online, presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq mencanangkan kader- kader PKS harus bersekolah minimal hingga S2. Hal ini bertujuan untuk memperkuat daya saing yang semakin gencar dewasa ini. Langkah ini pun menjadi salah satu wujud kepedulian dan perhatian PKS terhadap kadernya dengan wujud investasi pendidikan. Pencanangan program yang sangat baik. Karena pada dasarnya pendidikan menjadi ladang awal terbinanya manusia-manusia terdidik dan berakhlak. Program ini menandakan bahwasanya PKS sangat memperhatikan kapabilitas dan kredibilitas kader- kadernya. Jangan sampai kalah dengan organisasi- organisasi lain yang juga pasti memiliki anggota- anggota yang mumpuni dalam bidangnya. Terlebih lagi, PKS menjadi yang seperti sekarang, tidak luput dari kontribusi para kader. Maka dari itu iklim organisasinya harus diciptakan seharmonis mungkin dengan para kader. Salah satunya dengan memberikan fasilitas yang memadai bagi mereka para kader.
Namun ternyata penilaian saya bisa saja salah, dan penilaian anda bisa juga salah. Begitulah symbol – symbol dan unsure- unsure semiotik selalu bermain dan mempermainkan kita dalam kegiatan politik . Anda ingat PKSWatch yang sempat menjadi kontroversi dikalangan kader dan simpatisan PKS ? disana mengungkap berbaggai kebijakan- kebijakan PKS yang dianggap sudah tidak lagi sesuai dan sejalur dengan rel yang ada sesuai dengan visi dan misi PKS semula.
PKS diduga menggantungkan asas- asas dan prinsip keislaman dan jalur dakwah yang diusung sejak awal. Merasa pergerakan sangat lambat dalam kancah politik, PKS menempatkan dan mengukuhkan diri menjadi partai beraliran tengah, bukan lagi partai nasionalis religious. Dibuktikan dengan pembahasan yang ada diatas tadi berkenaan dengan pemboyongan anggota- anggota non muslim kedalam partai Islam ini. Bahkan PKS mengubah Jargon menjadi “PKS untuk semua”. Saya menganggap bahwa lagi- lagi ada symbol yang bermain. Jargon tersebut bisa saja menjadi sebuah kalimat “ PKS bisa jadi apa saja, siapa saja, sesuai dengan kebutuhan. Jadi kalaupun tidak lagi sesuai dengan niatan awal, yang penting tercapai segala kepentingan”.
Kini diakhir penceritaan, saya berani menyimpulkan bahwa, tidak ada yang special dari PKS baik pusat maupun Cilegon. (karena pada dasarnya, system pusat dan daerah memiliki benang merah yang kuat). Mereka bukan lagi partai dakwah dan partai Islam seperti yang semula digembor- gemborkan. PKS nampaknya sudah mulai haus kuasa, sama seperti partai yang lainnya. Orientasi dan prioritasnya jatuh pada sekularisasi dan liberalisasi lagi. Miris memang. PKS beserta kader- kader yang ada di dalamnya,berusaha keluar dari tema- tema sempit dalam rangka mengubah cirta islamis. Dan seperti yang kita ketahui bahwa, kegiatan politik itu penuh dengan strategi untuk berkuasa, dan nampaknya PKS beserta partai lainnya sudah terkukung oleh euphoria ‘haus kuasa’ yang sama yang mereka perebutkan. Padahal dalam al- hadist disebutkan bahwa : Dari Abdurrahman ibn Smurah ra. Ia berkata : Rasulullah bersabda :”Wahai Abdurrahman Ibn sammurah, janganlah kamu meminta jabatan. Jika kau diberi jabatan karena memintanya, jabatan itu diserahkan sepenuhnya. Dan Apabila kamu diberi dan tidak memintanya, kamu akan mendapat pertolongan Allah dalam melaksanakannya.  Apabila kamu bersumpah terhadap satu perbuatan, kemudian kamu melihat ada perbuatan yang lebih baik, maka kerjakanlah perbuatan yang lebih baik itu.“ (HR Bukhari dan Muslim).

Wallahu’alam. Bagaimanapun orientasinya dari PKS pusat maupun daerah khusunya Cilegon, wajar jika masyarakat masih punya harapan untuk dapat menemui “malaikat tanpa sayap” yang siap amanah dan menolong mereka tanpa ada imning- iming dan embel- embel kekuasaan dan materi semata. 

nb : ini latepost banget. tugas komunikasi politik semester 4, tepatnya 2 tahun lalu. tapi barangkali bermanfaat buat adek-adek yang kuliah :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar