My Tweetie

https://twitter.com/OktaaZikriani

my facebook

http://www.facebook.com/okta.athena
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Pages

OMBAK


Ombak, pernahkah kamu perhatikan ia? entah darimana asalnya, bergerak mengayun dan bergelombang, membuat air terlihat meliuk- liuk kegelian di sepanjang lautan.  Dalam bidang oseanografi, Ombak dikenal sebagai gelombang dalam (internal wave). Fenomena ini juga ada dalam bidang meteorologi, dimana gelombang menjalar pada lapisan antar muka antara udara yang hangat dan dingin (Wikipedia). Gelombang laut biasanya disebabkan oleh angin. Angin di atas lautan memindahkan tenaganya ke permukaan perairan, menyebabkan riak-riak, alunan/bukit, dan berubah menjadi apa yang kita sebut sebagai ombak (nah ini diambil dari blog sebelah).



Ombak ini bergerak dan terus bergerak selama hembusan angin tidak berhenti. Semakin dekat dengan darat, pergerakan angin sedikit lebih terbatas karena terhalang beragam macam benda- benda di daratan (pepohonan, atap rumah, gedung dan sebagainya). Berbeda dengan di tengah lautan, angin semakin kencang, dan inilah mengapa ombak semakin besar disana. Entahlah bagaimana prosesnya secara teoritikal, saya bukan ahli oceanologi yang paham akan ini. Tulisan di atas berdasarkan pengetahuan saya sebagai awam-ers.

Kalau kamu pernah naik perahu ke tengah lautan, memancing atau menyeberang ke pulau, kamu pasti paham bagaimana rasanya terombang ambing di kolam raksasa bernama laut. Apalagi kalau perahu yang digunakan adalah perahu nelayan biasa, ini akan lebih membuat adrenalin kamu terpacu (based on my experience). Karena semakin ke tengah, goyangan perahu akan semakin dahsyat karena ombak dan angin semakin ganas. Saran saya, jangan coba- coba menyeberangi lautan dengan perahu nelayan tanpa ada alat perlindungan (pelampung misalnya).

Kembali lagi pada objek kita, yaitu ombak. Kalau mau diperhatikan, kehidupan kita ini seperti menyeberangi lautan. Semakin jauh, semakin dalam, semakin ke tengah maka semakin besar ombak yang menghadang. Goncangan dan goyangan akan semakin hebat. Bahkan bisa jadi semakin mengerikan. Analogikan kita hendak menyeberangi lautan menuju ke pulau yang indah (terserah kamu membayangkan pulau mana saja yang indah- indah). Berawal dari segala perlengkapan yang kita persiapkan. Dari mulai bawaan pribadi, biaya, makanan, dan lain- lain. Kemudian, kita menuju pesisir dimana perahu, kapal atau sejenisnya berlabuh. Disini ombak belum ada apa-apanya. Masih terlihat bersahabat dan ramah. Kita masih senang, masih tenang dan nyaman. Masih bisa berleha-leha dan terbuai kesenangan. Namun begitu perahumu hampir sampai ke tengah, ombak dan angin sudah memberi tanda perubahan. Bahwa pijakan kita saat ini tak lagi senyaman semula ketika di tepian. Perahu mulai bergoyang tidak karuan ke kanan dan kiri tak terkendali. Yang semula muka mu berseri, sekarang bisa jadi pucat pasi. Mulut tidak berhenti komat kamit berucap mantra doa kepada Yang Kuasa. Tangan yang sibuk menggapai sana sini untuk pegangan, dan kaki yang memijak terhentak semakin kuat agar menahan guncangan badan. Bagi yang sudah berpengalaman menyeberangi lautan, mungkin akan menjadi “biasa saja”. Karena mereka sudah punya bekal persiapan yang setidaknya cukup untuk menghalau rasa- rasa dan gejala-gejala selama perjalanan.

Proses berada ditengah lautan bukan hal mudah. Banyak diantaranya yang “tumbang” atau hanya sekadar melemah. Tapi mau tidak mau perjalanan tetap dilanjutkan, karena untuk kembali pada titik awal kita datang dan berangkat pun tetap harus melewati proses panjang yang melelahkan. Jadi pilihannya, bertahan dan berjuang hingga sampai di pulau yang indah itu, atau kembali pulang tanpa melihat dan mendapatkan kesan apapun? Karena kalau sudah sampai di pulau indah yang kita tuju, rasanya semua akan terbayar. Perjuangan itu tidak sia-sia.

Demikian juga hidup kita. Semakin dewasa, semakin (ingin) naik derajat dan kelas kita, maka ombak bernama ujian akan semakin kencang dan liar. Kalau ingin mencapai pulau yang indah, ya menyeberanglah melewati ombak dan angin lautan. Kalau ingin mencapai tahap dan taraf hidup yang lebih baik, maka lewatilah ujiannya. Ombak besar tidak mungkin ada ditepian (kecuali atas kuasa Allah). Kalau tidak ingin melewati ombak dan berada di garis hidup nyaman, pulau indah itu tidak akan pernah kamu dapatkan. Ujian hidup ini berat, dan akan semakin berat seiring waktu dan kesiapan. Sebagai manusia kadang kita merasa (ingin) menyerah dan “tumbang”, tapi Allah sudah menjanjikan dalam  Qs. Al-Baqarah : 286 bahwa “Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Maka pilihannya hanyalah bertahan dan berjuang sekuat tenaga meski dihantam ombak tapi naik kelas, atau tetap berada di tepian dan bermain pasir halus tapi tinggal kelas?

Lagi-lagi, lewat tulisan ini saya berusaha menasehati diri sendiri. Mengajari dan mengingatkan diri sendiri untuk tetap rendah hati dan mawas diri. Terlebih beberapa tahun belakangan seringkali diberi ujian yang cukup berat. Maka saya selalu mengingat bahwa “bersama kesulitan, pasti ada kemudahan” . Hanya bagaimana mencapai kemudahan itu yang kita usahakan. Semoga Allah senantiasa menguatkan pundak kita, muslimin dan muslimah di muka bumi. Mengambil serpihan kecil peristiwa disekitar kita untuk menjadi bahan renungan dan pembelajaran, menjadi salah satu cara agar diri tidak mudah lupa dan terlena. ~END~ By: @oktaazikriani

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar