Kata
seks sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Bahkan hal tersebut telah menjadi
bagian yang tidak terpisahkan atas hidup kita. Seks adalah pembagian jenis kelamin yang secara
biologis dan melekat pada jenis kelamin tertentu. Oleh karena itu, konsep jenis
kelamin digunakan untuk membedakan laki-laki dan perempuan berdasarkan unsure
biologis dan anatomi tubuh (Tuttle, Lisa, Ensyclopedia of Feminism, 1986).
Misalnya, laki-laki memiliki penis, testis, jakun, memproduksi sperma dan
cir-ciri biologis lainnya yang berbeda dengan biologis perempuan. Sementara
perempuan mempunyai alat reproduksi seperti rahim, dan saluran-saluran untuk
melahirkan, memproduksi telur (indung telur), vagina, mempunyai payudara dan
air susu dan alat biologis perempuan lainnya sehingga bias haid, hamil dan
menyusui atau yang disebut dengan fungsi reproduksi. Namun bagaimana jika seks
itu kita kenalkan pada anak- anak usia dini ?
Pengenalan akan seks
yang dilakukan pada anak usia dini katanya bukanlah berkenaan dengan bagaimana
proses itu dilakukan, melainkan bagaimana sang anak paham akan makna seks itu
sendiri, apa yang boleh dilakukan, apa yang menjadi batasan wajar untuk hal
yang berbau seks, dll. Alasannya, sex education ini dipersembahkan untuk anak-
anak sejak usia dini agar terhindar dari hal- hal negative tentang seks. Namun
ternyata, lagi lagi masyarakat berpikir kritis. Banyak yang sepaham dan banyak
juga yang tidak sepaham dengan system pendidikan yang satu ini.
Mereka- mereka yang
sepaham mengungkapkan bahwa pengenalan seks pada usia dini mampu menjadi
pondasi pengetahuan dan ilmu bagi generasi penerus bangsa akan makna seks itu
sendiri. Terlebih lagi dengan segala kemajuan teknologi yang makin memudahkan
informasi masuk secara mudah dan cepat, tak terkecuali perihal seks. Pengetahuan
tentang seks yang salah akan mempengaruhi pola pikir dan masa depan dari anak-
anak. Maka dari itu pengenalan akan seks atau sex education setidaknya akan memberikan bekal bagi mereka
untuk mengelola pola pikir mereka tentang seks, keuntungan dan kerugiannya,
dll.
Namun bertolak belakang
dari mereka yang kontra terhadap pendidikan seks menilai bahwa pendidikan seks
sejak dini terbilang tabu, tidak penting dan sia- sia. Mengapa tabu ? hal ini
adalah hal yang sensitive bagi sebagian besar orang, apalagi jika dibahas dalam
ruang lingkup yang tidak privasi. Mengapa tidak penting ? justru pendidikan
seks pada usia dini ini akan menjadi batu loncatan bagi mereka- mereka yang
mempunyai keinginan ‘mencoba’. Malah bukan hanya tidak penting, melainkan juga akan
berdampak buruk jika tidak tepat sasaran dan salah dalam penyampaian. Terblang
sia- sia karena sudah banyak lembaga kependudukan yang mendapatkan hasil buruk
dari penghitungan mereka atas praktek aborsi,remaja wanita yang hilang
keperawanannya, seks bebas dan sebagainya. Jadi mereka beranggapan bahwa buat
apa ada pendidikan seks kalau ternyata hasilnya tetap mengenaskan bagi
kehidupan sosial kita.
Namun disamping itu
perlu digarisbawahi bahwa pendidikan seks atau pengenalan seks pada usia dini
tidak hanya dilakukan di sekolah formal. Orang tua sebagai agen sosialisasi
primer bisa menjadi wadah dimana seorang anak belajar tentang hal tersebut.
Ditambah lagi dengan penanaman nilai dan norma, moralitas serta nilai keimanan
akan membentengi juga menambah kokoh pendidikan akan seks.
Dan sebenarnya
pendidikan akan seks bukanlah pendidikan yang terus dan melulu berkenaan dengan
‘hubungan seks’, melainkan kita sudah mendapatinya dalam pelajaran Biologi
ketika memasuki bab anatomi dan reproduksi. Jadi perlu dikaji lagi bagaimana
pendidikan dan pengenalan seks yang sesungguhnya.






0 komentar:
Posting Komentar