My Tweetie

https://twitter.com/OktaaZikriani

my facebook

http://www.facebook.com/okta.athena
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Pages

Perlukah Mengenalkan Seks Sejak Dini ?


Kata seks sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Bahkan hal tersebut telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan atas hidup kita. Seks adalah pembagian jenis kelamin yang secara biologis dan melekat pada jenis kelamin tertentu. Oleh karena itu, konsep jenis kelamin digunakan untuk membedakan laki-laki dan perempuan berdasarkan unsure biologis dan anatomi tubuh (Tuttle, Lisa, Ensyclopedia of Feminism, 1986). Misalnya, laki-laki memiliki penis, testis, jakun, memproduksi sperma dan cir-ciri biologis lainnya yang berbeda dengan biologis perempuan. Sementara perempuan mempunyai alat reproduksi seperti rahim, dan saluran-saluran untuk melahirkan, memproduksi telur (indung telur), vagina, mempunyai payudara dan air susu dan alat biologis perempuan lainnya sehingga bias haid, hamil dan menyusui atau yang disebut dengan fungsi reproduksi. Namun bagaimana jika seks itu kita kenalkan pada anak- anak usia dini ?
Pengenalan akan seks yang dilakukan pada anak usia dini katanya bukanlah berkenaan dengan bagaimana proses itu dilakukan, melainkan bagaimana sang anak paham akan makna seks itu sendiri, apa yang boleh dilakukan, apa yang menjadi batasan wajar untuk hal yang berbau seks, dll. Alasannya, sex education ini dipersembahkan untuk anak- anak sejak usia dini agar terhindar dari hal- hal negative tentang seks. Namun ternyata, lagi lagi masyarakat berpikir kritis. Banyak yang sepaham dan banyak juga yang tidak sepaham dengan system pendidikan yang satu ini.
Mereka- mereka yang sepaham mengungkapkan bahwa pengenalan seks pada usia dini mampu menjadi pondasi pengetahuan dan ilmu bagi generasi penerus bangsa akan makna seks itu sendiri. Terlebih lagi dengan segala kemajuan teknologi yang makin memudahkan informasi masuk secara mudah dan cepat, tak terkecuali perihal seks. Pengetahuan tentang seks yang salah akan mempengaruhi pola pikir dan masa depan dari anak- anak. Maka dari itu pengenalan akan seks atau sex education  setidaknya akan memberikan bekal bagi mereka untuk mengelola pola pikir mereka tentang seks, keuntungan dan kerugiannya, dll.
Namun bertolak belakang dari mereka yang kontra terhadap pendidikan seks menilai bahwa pendidikan seks sejak dini terbilang tabu, tidak penting dan sia- sia. Mengapa tabu ? hal ini adalah hal yang sensitive bagi sebagian besar orang, apalagi jika dibahas dalam ruang lingkup yang tidak privasi. Mengapa tidak penting ? justru pendidikan seks pada usia dini ini akan menjadi batu loncatan bagi mereka- mereka yang mempunyai keinginan ‘mencoba’. Malah bukan hanya tidak penting, melainkan juga akan berdampak buruk jika tidak tepat sasaran dan salah dalam penyampaian. Terblang sia- sia karena sudah banyak lembaga kependudukan yang mendapatkan hasil buruk dari penghitungan mereka atas praktek aborsi,remaja wanita yang hilang keperawanannya, seks bebas dan sebagainya. Jadi mereka beranggapan bahwa buat apa ada pendidikan seks kalau ternyata hasilnya tetap mengenaskan bagi kehidupan sosial kita.
Namun disamping itu perlu digarisbawahi bahwa pendidikan seks atau pengenalan seks pada usia dini tidak hanya dilakukan di sekolah formal. Orang tua sebagai agen sosialisasi primer bisa menjadi wadah dimana seorang anak belajar tentang hal tersebut. Ditambah lagi dengan penanaman nilai dan norma, moralitas serta nilai keimanan akan membentengi juga menambah kokoh pendidikan akan seks.

Dan sebenarnya pendidikan akan seks bukanlah pendidikan yang terus dan melulu berkenaan dengan ‘hubungan seks’, melainkan kita sudah mendapatinya dalam pelajaran Biologi ketika memasuki bab anatomi dan reproduksi. Jadi perlu dikaji lagi bagaimana pendidikan dan pengenalan seks yang sesungguhnya. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar